HEADLINESLiputanNasional

1.000 Perempuan Dukung Gerakan #Rokokharusmahal

BTN iklan

JAKARTA, 21/4 (Antara) – Sebanyak 1.000 perempuan Indonesia dari berbagai kelompok dan organisasi bergabung di Kota Tua, Jakarta, Sabtu, mendeklarasikan diri mendukung gerakan #RokokHarusMahal untuk memperingati Hari Kartini.

Mereka bersama-sama menulis surat untuk keluarga tercinta agar berhenti merokok dan menjaga kesehatan tubuh maupun “kesehatan” ekonomi keluarga, serta kepada pemerintah agar segera menaikkan harga rokok setinggi-tingginya untuk menyelamatkan keluarga mereka.

Selain itu, mereka juga menulis surat yang ditujukan kepada pemerintah agar segera menaikkan harga rokok hingga tak terjangkau oleh anak-anak dan keluarga miskin demi melindungi mereka.

Gerakan #RokokHarusMahal digagas oleh para perempuan tokoh dan pegiat sosial yang telah menyatakan desakannya kepada pemerintah Indonesia untuk menaikkan harga rokok setinggi-tingginya untuk mengendalikan konsumsi rokok, mendorong pengentasan kemiskinan, dan menekan kejadian malnutrisi atau kurang gizi di Indonesia.

Salah satu tokoh perempuan yang hadir dalam acara, Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Sandrayati Moniaga mengatakan bahwa data BPS menunjukkan rokok merupakan salah satu faktor pendorong meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia.

Perempuan dan anak-anak dalam kelompok ekonomi menengah-bawah adalah kelompok paling rentan menjadi perokok pasif karena terpapar asap rokok dalam ruangan dan berpotensi mengalami kekerasan domestik.

“Komnas HAM mendesak pemerintah untuk melakukan upaya maksimal melindungi hak kesehatan masyarakat khususnya perempuan dan anak-anak kelompok ekonomi menengah-bawah dari paparan asap rokok dengan cara meningkatkan harga jual rokok setinggi-tingginya sehingga tidak dapat terjangkau oleh daya beli kelompok berpenghasilan menengah-bawah,” kata dia.

Tuntutan dalam petisi tersebut adalah agar pemerintah menaikkan harga rokok sampai 50 ribu rupiah per bungkus sesuai survei yang pernah dilakukan CHEPS UI.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam hasil surveinya pada beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa rokok telah menjadi barang konsumsi terbesar ke dua setelah beras pada penduduk miskin, jauh mengalahkan pengeluaran/belanja lauk-pauk (sumber protein), biaya pendidikan, apalagi biaya kesehatan. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat konsumsi rokok justru menimbulkan beban ekonomi, baik pada skala mikro (keluarga) maupun makro (negara).

Baru-baru ini Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa beban biaya kesehatan akibat konsumsi rokok telah mencapai Rp387 triliun per tahun, jauh di atas pendapatan cukai rokok yang disetorkan para perokok per tahun.

Di sisi lain, laporan WHO tentang epidemi tembakau global 2017 menyebutkan bahwa harga rokok di Indonesia adalah yang termurah di dunia, yaitu masih ditemukan rokok dengan harga Rp5.900 per bungkus.

Hasil survei yang dilakukan Yayasan Lentera Anak (2017) menunjukkan, saat ini industri rokok menggunakan taktik promosi penjualan yang menunjukkan harga per batang sehingga sangat mudah menarik anak-anak dan keluarga miskin untuk membeli rokok. Sebesar 78,9 persen promosi rokok mencantumkan harga rokok per batang. [antara]


Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 6 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami