BTN iklan
Nasional

3 Cara Membangun Tim Marketing yang Data-driven

Di era modern saat ini, penggunaan data bisa dibilang memiliki peranan penting agar sebuah bisnis dapat berjalan dengan sukses. Data berfungsi layaknya bahan bakar dalam bisnis, yang memungkinkan kita mengetahui berbagai insight dan mengembangkan produk berdasarkan informasi.

Dalam memasarkan produk, data juga dibutuhkan agar kita dapat menghadirkan produk yang sesuai dengan preferensi konsumen. Karena itu, diperlukan adanya sebuah tim marketing yang dapat bekerja berdasarkan data agar perusahaan terus berkembang sesuai tuntutan pasar.

Tidak ada model bisnis yang penerapannya sama antara satu perusahaan dengan yang lain. Tapi, banyak brand besar menggunakan tiga model organisasi berikut ketika membangun sebuah tim marketing yang data-driven.

Model pertama: The Center of Excellence (tim yang terpusat)

Sama seperti namanya, model ini memanfaatkan para ahli dalam perusahaan sebagai pusat informasi bagi staf lainnya. Tim ahli yang “excellent” di bidangnya masing-masing akan memberikan panduan, pelatihan, bahan riset, dan dukungan kepada para anggota tim lainnya.

Sebuah perusahaan multinasional yang memiliki banyak kantor di berbagai belahan dunia mungkin tidak mampu menempatkan tim data science di setiap cabangnya. Oleh karena itu, perusahaan membuat sebuah Center of Excellence, di mana bagian tersebutlah yang akan mendukung kebutuhan dari tiap-tiap cabang.

Tim ahli yang “excellent” di bidangnya masing-masing akan memberikan panduan.

Salah satu contohnya adalah Tapestry Inc., perusahaan pemilik tiga brandpremium seperti Coach, Stuart Weitzman dan Kate Spade. Tim Data Labs Tapestry bekerja sama dengan Head of Strategy, yang kemudian melaporkan hasil kerja mereka kepada CEO.

Tim ini terdiri dari para data engineer, data scientist, pemasar, dan analis. Mereka bertanggung jawab terhadap keseluruhan data konsumen dari seluruh cabang ketiga brand yang mereka miliki.

Data | Center of Excellence 2

Sekelompok expert yang siap membantu kamu. Sumber: Pexels

Model Center of Excellence ini biasanya digunakan oleh perusahaan kecil hingga menengah yang tidak memiliki kemampuan untuk menghadirkan tim analis di setiap kantor cabangnya. Model ini mengandalkan kemampuan tim sentral untuk mencari data pasar, mengolah, dan menyajikannya kepada tiap cabang agar dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menetapkan strategi pemasaran.

Tentu saja model ini memiliki kekurangan, karena belum tentu tim sentral memiliki pengetahuan pasar selengkap tim di tiap cabang. Karenanya, penggunaan model ini patut dipertimbangkan kembali apabila kamu menginginkan data yang lebih akurat dari pasar lokal.

Data | Distributed Teams

Sumber: Pexels

Model kedua: The Distributed Team (tim yang terdistribusi)

Berbeda dengan model The Center of Excellence, model The Distributed Team tidak memanfaatkan tim sentral sebagai pusat informasi. Sebaliknya, perusahaan menyebarkan tim analis ke berbagai tim, divisi, atau lokasi tempat perusahaan berada. Dengan demikian, analis akan memiliki akses yang lebih mendetail ke berbagai informasi, seperti prioritas serta proses yang dimiliki oleh berbagai bagian spesifik dari perusahaan.

Model tim terdistribusi ini biasanya bekerja lebih efektif di tiap cabang perusahaan, karena setiap tim yang ada akan bekerja secara mandiri untuk mengumpulkan data, melakukan analisis, serta mengambil berbagai keputusan. Perusahaan besar melakukan metode ini karena mereka memiliki sumber daya yang cukup serta keinginan untuk mengetahui lebih dalam tentang tren lokal yang sedang terjadi.

Perusahaan menyebarkan tim analis ke berbagai tim, divisi, atau lokasi tempat perusahaan berada.

Model ini juga memungkinkan tim manajemen pusat untuk lebih fokus pada tujuan utama perusahaan, tanpa perlu kerepotan dengan permasalahan data yang ada di tiap cabang. Setiap tim dapat bekerja secara lebih fleksibel, dengan menjalankan berbagai pengujian dan melakukan perubahan taktis apabila dibutuhkan.

Data | Distributed Team

Setiap cabang yang ada di berbagai belahan dunia memiliki tim sendiri. Sumber: ForgeAhead

“Kami mengidentifikasi set data inti (core data set) untuk perusahaan pada tingkatan high level, kemudian mendistribusikannya kepada para analis yang tersebar di perusahaan dengan cara yang lebih rapi dan mudah dimengerti.” ujar Stasha Rosen, Senior Product Analyst di situs web fesyen dan gaya hidup, Refinery29.

Model The Distributed Team juga memiliki kekurangan. Apabila tim yang ada di tiap cabang tidak sepenuhnya memahami visi dan misi utama perusahaan, mereka berpotensi kehilangan arah dan bergerak menurut strategi berdasarkan kepada data yang mereka miliki.

Jika perusahaan khawatir bahwa data yang ada akan mendekam di silo pada tiap cabang, salah satu solusi potensial yang dapat dicoba adalah model Hub and Spoke.

Data | Hub and Spoke

Sumber: Pexels

Model ketiga: The Hub and Spoke (pusat informasi yang terdistribusi)

The Hub and Spoke memadukan kelebihan dari kedua model sebelumnya. Pendekatan ini ideal bagi perusahaan yang memiliki sumber daya dan infrastruktur untuk mendukung model tersebut.

Dalam model The Hub and Spoke, terdapat sebuah tim pakar sebagai “Center of Excellence” yang berperan sebagai titik kontak utama bagi tim, juga kehadiran para analis yang tersebar di berbagai tim, divisi, dan lokasi perusahaan. Tim pakar sentral akan merancang panduan, tool, serta proses yang akan berjalan dan analis akan berperan untuk mengimplementasikan strategi yang telah dirancang dan mengembalikan hasilnya kepada tim pakar sentral.

Model Hub and Spoke membutuhkan koordinasi penuh antara tiap tim, divisi, dan lokasi dengan tim manajemen di pusat.

Salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia, Sprint, menggunakan model The Hub and Spoke ini. Chief Digital Officer Sprint Rob Roy memulai dengan membangun The Center of Excellence melalui tim digital yang ia miliki. Ia kemudian mengajarkan, mempromosikan, dan memberikan pengaruh kepada para staf yang ada di dalam perusahaan agar dapat berkinerja maksimal.

Data | Hub and Spoke

Ilustrasi model Hub & Spoke. Sumber: Madrat.co

“Kami bekerja sama dengan tim pengelola jaringan dan layanan prabayar untuk melakukan analisis tentang berbagai hal, seperti seberapa mahal kami harus menjual ponsel, elastisitas harga ponsel, jumlah handsetyang beredar di pasar, dan jenis konsumen yang membeli jenis handsettertentu,” ujar Roy.

“Ketika berhasil menunjukkan kepada tim tentang temuan kami ini, sang pemimpin tim kemudian meneruskannya kepada CEO tanpa sepengetahuan kami. Hasilnya? Temuan tersebut sangat diterima dan gerbang untuk melakukan pengembangan berbasis data mulai dibuka lebar-lebar.” sambungnya.

read also

Walaupun terlihat ideal, tetapi model Hub and Spoke membutuhkan koordinasi penuh antara tiap tim, divisi, dan lokasi dengan tim manajemen di pusat—sembari memacu tim lokal untuk tetap terus berinovasi dan berkreasi.


Sebelum memutuskan untuk menggunakan salah satu dari model pengembangan di atas, kamu terlebih dahulu harus melihat berbagai aspek yang dimiliki perusahaan, seperti sumber daya dan infrastruktur pendukung yang tersedia.

Apa pun model yang kamu pilih, tujuan utamamu adalah untuk memecahkan data silo (lumbung data) yang ada agar data yang kamu miliki dapat terdistribusi dengan baik.

SumberThinkWithGoogle

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close