Internasional

45 Orang Tewas Di Sudan

BTN iklan

Juba,Lei – Sedikit-dikitnya 45 orang tewas dalam pertempuran antarsuku di negara bagian Western Lakes, Sudan Selatan, kata pejabat setempat dalam sumber kekerasan baru di negara hancur akibat perang saudara empat tahun itu.

Shadrack Bol Maachok, menteri penerangan negara bagian tersebut, mengatakan bahwa bentrokan di daerah Malek itu dimulai setelah sekelompok pemuda dari suku Ruop menyerang persaing mereka dari suku Pakam pada Rabu dan Kamis.

Pada Jumat, pemuda Pakam melancarkan serangan balasan terhadap suku Ruop dan bentrokan masih terus berlanjut hingga larut malam.

“Itu adalah bentrokan sangat berat, yang mengakibatkan lebih dari 45 orang tewas serta banyak korban terluka,” katanya.

Jumlah korban tewas cenderung meningkat mengingat daerah itu terpencil dan petugas setempat masih mengumpulkan keterangan tentang kejadian tersebut, katanya.

Dalam bentrokan tersebut, rumah-rumah dibakar dan sejumlah bangunan hancur, kata Maachok, ia menambahkan bahwa militer Sudan Selatan, SPLA, telah mengerahkan pasukan dari ibu kota negara bagian, Rumbek, untuk mencoba menghentikan kekerasan itu.

Misi PBB di Sudan Selatan, UNMISS, memperkirakan bahwa jumlah korban tewas lebih dari 50 orang dan pihaknya mengatakan bahwa mereka telah mengirim sebuah patroli militer ke daerah tersebut untuk mengetahui tingkat kerusakan dan menilai dampaknya bagi warga sipil.

“Kami berharap dapat mempertemukan para pemimpin kelompok yang terlibat dalam pertarungan guna memperingatkan agar kedua pihak menahan diri dari dendam dan keinginan melakukan serangan balasan. Kami juga akan meningkatkan patroli untuk mencegah kekerasan kembali terjadi,” kata UNMISS.

Sudan Selatan terjerumus dalam perang pada 2013 setelah sebuah perselisihan politik antara Presiden Salva Kiir dan mantan wakil Presiden Riek Machar meningkat menjadi sebuah pertempuran militer.

Pertempuran tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang, menghilangkan seperempat dari jumlah keseluruhan penduduk negara itu, yang berkisar 12 juta orang. (Antara/Reuters)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami