EkonomiFinansial

Lonjakan Aduan belanja Online di Masa Pandemi

BTN iklan

LEI,Jakarta – Dimasa pandemi ini Kepala Bidang Pengaduan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Aji Warsito mengatakan pengaduan untuk belanja daring atau belanja online meningkat selama pandemi Covid-19. Selama semester pertama tahun ini, Warsito mengatakan jumlah aduan yang berkaitan dengan belanja online tercatat sebanyak 51 pengaduan. Dari jumlah tersebut, Warsito mengatakan ada kenaikan signifikan dibanding tahun lalu.

“Dari jumlah pengaduan belanja online sebetulnya ada peningkatan dibanding laporan akhir tahun 2019 yang hanya 34 pengaduan yang masuk. Saya kira nanti sampai akhir tahun jumlah tersebut akan meningkat,” ujar Warsito kepada Tempo, Kamis, 3 September 2020.

Tanggapan dari Otoritas Jasa Keuagan (OJK) mencatat jumlah aduan masyarakat terkait layanan belanja online atau online shop mencapai belasan ribu. Aduan yang masuk sebagian besar mengenai barang belanja tidak dikirim setelah pembayaran dilakukan.

“Sampai saat ini ada 19.000 aduan. Terbanyak udah bayar, barangnya enggak ada. Setelah nunggu konfirmasi, enggak ada,” kata Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam Lumban Tobing, dalam acara sosialisasi satuan tugas waspada investasi ilegal di, Balaikota DKI Jakarta, Jumat (5/4/2019).

Sebagai tindak lanjut atas kasus ini, Tongam meminta agar masyarakat yang merasa dirugikan dapat melapor ke Satgas Waspada Investasi beserta memberikan bukti rekening pelaku dalam transaksi jual beli online tersebut.
“Kami imbau juga bank untuk blokir rekening pelaku. Yang kita push melalui konsumen, bank juga kenali nasabah Anda. Yang pasti kalau dilaporkan banknya diminta blokir rekening,” ungkapnya.

Sementara itu, Anggota Direktorat Pelayanan Konsumen OJK, Indra Bayu mengungkapkan, pihaknya sudah mendata seluruh laporan terkait aduan. Kemudian data rekening pelaku sudah diserahkan kepada bank terkait untuk dilakukan pemblokiran.

“Kami surati bank, kami olah data setiap bank. Bank yang paling banyak paling sedikit kami rekap datanya semua. Kami surati untuk dilakukan pemblokiran rekening pelakunya,” imbuhnya.

Kendati demikian, OJK tidak bisa menjamin soal pengembalian dana. Sebab, hal ini harus terlebih dulu dikonfirmasi oleh pihak bank soal keberadaan saldo di rekening pelaku. Jika tidak terbukti ada dana, maka tidak bisa dilakukan pengembalian kecuali melalui laporan kepolisian.

“Pengembalian dana tidak menjamin tergantung di rekening masih ada tau tidak. Kalau tidak ada, sangat sulit. Makanya (untuk lanjutan) laporkan cyber crime Polri,” pungkasnya.

Menurut Warsito, bentuk pengaduan belanja online yang masuk secara umum sama dengan kondisi sebelum pandemi. Misalnya saja, ujar Warsito, konsumen tidak menerima barang pesanannya. Selain itu, spesifikasi barang yang diterima tidak sesuai dengan pesanan. Kemudian, konsumen juga mengadukan pengembalian dana yang tidak dilakukan oleh penjual. Selain itu, ada juga pengaduan pembajakan akun belanja online.

Warsito berharap pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap kegiatan perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) untuk memitigasi terjadi pelanggaran hak konsumen. Kemudian, penegakan regulasi yang tegas bagi para pelaku kejahatan di dalam jual beli online juga tegas untuk memberikan efek jera bagi para pelaku. “Edukasi dan literasi kepada konsumen terkait transaksi yang aman di dalam jual beli online harus terus dilakukan” kata dia.

Pada 2019, pengaduan konsumen yang lebih banyak masuk ke YLKI itu masalah produk perbankan, pinjaman online, perumahaan, belanja online hingga pembiayaan. Namun, pada 2020 ini ada pergeseran dominasi yaitu. Ketua YLKI Tulus Abadi menyebutkan pada awal pandemi, pengaduan tentang masker dan handsanitizer berkontribusi 33,30 persen. Kemudian, pengaduan belanja online 16,67 persen, dan transportasi sebanyak 25 persen.

“Belanja online menjadi banyak meski di luar pandemi pun sudah marak. Apalagi dalam 3-4 tahun terakhir kita didorong untuk menggerakkan ekonomi digital,” kata Tulus.

Kontributor: Dwitya Yonathan Nugraharditama

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami