EkonomiInternasionalNasional

8 Kiat untuk Menumbuhkan Rasa Saling Percaya Saat Pitching

BTN iklan

Lei-Pitching adalah kemampuan yang penting untuk dimiliki setiap profesional. Tak peduli apakah kamu seorang karyawan, bos, atau pengusaha, kamu harus bisa melakukan pitching untuk mengajukan ide secara tajam dan efektif.

Tujuan pitching pun bisa bermacam-macam, mulai dari mencari partner, mencari investasi, atau mengusulkan proyek pada atasan. Yang jelas, pitching selalu merupakan pertaruhan besar.

Sebetulnya pitching bisa dipandang seperti sebuah pertarungan. Di satu sisi, kamu ingin menunjukkan bahwa idemu memiliki nilai tinggi, sementara di sisi satunya lawan bicaramu ingin menawar idemu lebih rendah.

Fokus dari pitching haruslah tentang menumbuhkan rasa hormat dan rasa percaya, supaya kedua pihak bisa menjalin kerja sama yang menguntungkan. Berikut ini strateginya.


Jangan sombong

Percaya diri itu wajib, tapi terlalu percaya diri bisa membuatmu jatuh pada jebakan kesombongan. Ketika kamu menawarkan ide, kamu perlu meyakinkan lawan bicara bahwa idemu itu hebat. Namun bila kamu terkesan sombong, investor bisa merasa ill feel dengan cepat.

Fokuslah pada memberi manfaat, bukan membanggakan diri.

Ingat, investor tidak hanya berinvestasi pada ide, tapi juga pada manusia di balik ide tersebut. Cara untuk menghindari kesan sombong adalah dengan tidak merendahkan orang lain (misalnya kompetitor), menunjukkan rasa terima kasih, dan tidak melakukan hal yang membuang-buang waktu. Fokuslah pada memberi manfaat, bukan membanggakan diri.


Jangan memelas

Sebagai orang yang mengajukan penawaran, kamu berada di kedudukan lebih rendah daripada lawan bicara. Tapi bukan berarti kamu boleh terlihat memelas, apalagi sampai memohon dan memaksa. Itu sama saja dengan kamu mendiskreditkan dirimu sendiri.

Kamu tetap harus memiliki wibawa dan harga diri. Pahami seberapa berharganya dirimu dan idemu. Berbicaralah dengan nada yang tenang, tidak terburu-buru, namun penuh keyakinan.


Jangan sok tahu

Memiliki kekurangan adalah hal yang wajar. Jadi apabila ada suatu pertanyaan yang tidak bisa kamu jawab, berkatalah dengan jujur bahwa kamu tidak tahu. Lebih baik seperti itu daripada pura-pura tahu segala hal namun ternyata palsu.

Bila lawan bicaramu adalah seorang pakar yang lebih berpengalaman, tidak menutup kemungkinan ia justru akan membantumu mengisi kekurangan tersebut. Jadi pertemuan pitching itu akan menjadi kesempatan belajar. Tunjukkan bahwa kamu rendah hati, pragmatis, dan punya ekspektasi yang tidak terlalu muluk.


Bersikap manusiawi

Investasi adalah bisnis tentang manusia. Karena itu, penting sekali untuk menunjukkan bahwa kamu adalah seorang manusia sungguhan, bukan hanya kurir pembawa pitch deck. Jangan hanya berbicara basa-basi saja, tapi lebih dari itu, cobalah untuk menjalin hubungan personal yang nyata.

Untuk melakukan hal ini, kamu bisa mempersiapkannya terlebih dahulu dengan cara mencari tahu seperti apa orang yang akan kamu hadapi. Cari tahu apa hal yang ia minati, apa visi hidupnya, dan bawa topik tersebut ke dalam percakapan.


Tunjukkan semangat dan kegigihan

Pitching | Photo 1

Kewirausahaan adalah sebuah perjuangan panjang. Untuk melewati pasang surut yang terjadi, kamu butuh passion serta kegigihan. Bila kamu merasa bahwa produkmu punya kelebihan yang menggugah, tunjukkanlah.

Kamu juga bisa mencuri kesempatan untuk menceritakan masa-masa sulit yang telah berhasil kamu lalui. Misalnya bagaimana kamu mengerjakan pekerjaan lamamu, atau bagaimana caramu mengatasi masalah yang pernah terjadi di masa lalu.

Tujuannya bukan untuk pamer kehebatan, tapi untuk meyakinkan calon partner bahwa kamu patut dipercaya dan tidak mudah menyerah.


Berdandan rapi

Ya, memang ada pepatah yang berbunyi, “Jangan menilai buku dari sampulnya.” Tapi penampilan tetap merupakan cerminan dari kualitas yang ada di dalam dirimu. Bila kamu tampil pitching secara asal-asalan, berantakan, bahkan belum mandi, itu artinya kamu tidak menghargai orang yang kamu hadapi.

Penampilan buruk juga bisa membuat lawan bicaramu tidak fokus. Sulit bagi mereka untuk percaya bahwa kamu memang serius bila penampilanmu tidak terlihat serius. Bila diibaratkan buku, maka penampilanmu bukan hanya sampul, tapi juga sinopsis. Jangan anggap remeh.


Bertanya balik

Kamu memang dalam posisi orang yang menawarkan ide, dan kemungkinan kamulah yang akan banyak menerima pertanyaan. Tapi jangan lupa bahwa kamu juga harus tahu tentang lawan bicaramu.

Investasi adalah komitmen dua arah yang serius. Jangan menerima apa pun yang diberikan padamu mentah-mentah.

Berikan beberapa pertanyaan untuk mengetahui latar belakang mereka, apa manfaat yang bisa mereka berikan untuk perusahaanmu, serta seperti apa partner yang mereka inginkan.


Ceritakan visimu tentang masa depan

Saat melakukan pitching, kamu mungkin akan banyak memberikan angka-angka. Tapi selain angka, ada hal lain yang perlu kamu tunjukkan, yaitu visi dan misi. Berikan gambaran seperti apa masa depan yang kamu inginkan dan bagaimana idemu bisa berkontribusi menuju visi tersebut.

Ceritakan masalah yang ada di dunia saat ini, kemudian bandingkan dengan dunia masa depan di mana idemu telah terwujud. Angka memang bisa membuat kepala mengangguk-angguk, tapi visi yang menginspirasi bisa membuat jantung berdebar-debar.


Ketika sebuah ide ditawarkan dan diterima, maka si pemberi dan penerima ide akan menanggung risikonya bersama-sama. Karena itulah rasa percaya memiliki peran krusial.

Mungkin kamu pernah mendengar anekdot bahwa mencari partner bisnis itu sama seperti mencari jodoh. Bila benar demikian, maka anggaplah pitching sebagai proses melamar pasangan.

Tunjukkan bahwa kamu serius, siap menanggung risiko, serta memiliki rencana yang jelas. Jangan hanya pamer kebanggaan pribadi. Karena ikrar suci sebuah pasangan adalah bersama dalam suka maupun duka, bukan hanya saat bahagia saja.

Sumber: Annabel Acton/Inc.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami