Entertainment

Ada Kisah Cinta di Aula Simfonia

BTN iklan

Jakarta, LEIThe Resonanz Music Studio (TRMS), Sabtu, 29/7, memeringati 15 tahun berdirinya Jakarta Concert Orchestra (JCO) dengan gelaran konser Romeo & Juliet di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Aransemen musik yang ditampilkan merupakan pengejawantahan dialog, suasana, dan perasaan para tokoh dalam Orchestra Prelude to Shakespeare dan The Butterfly Lovers.

Pada konser ini, ditampilkan gubahan karya musik Joachim Raff (1822-1882) bertajuk Orchestra Prelude to Shakespeare. Karya ini terinspirasi drama klasik Romeo and Juliet karya karya William Shakespeare. Melalui orkes yang dipimpin oleh Avip Priatna JCO memainkan karya Joachim Raff melantunkan kisah asmara Romeo dan Juliet yang terhalang keluarga mereka yang bermusuhan.

Perihal yang menarik dalam komposisi ini adalah bagian tengah yang mengankat narasi pasangan yang sedang mabuk kepayang. Semasa hidupnya  Raff tidak sempat mempublikasikan karya yang dianggap sebagai representasi karya orkestra terbaik di era Romantik. Baru setelah Joachim Raff wafat, seorang murid Edward McDowell menerbitkan karya gurunya itu.

Menurut Aviv Priatna, Music Director TRMS konser Romeo & Juliet ini.berawal dari gagasan sejak dia  mahasiswa yang belajar Romeo & Juliet. Setelah itu terobsesi untuk membawakan  karya ini. Keinginan ini terwujud  pada konser peringatan 15 tahun Jakarta Concert Orchestra.

Selain Orchestra Prelude to Shakespeare, konser ini menyajikan kisah cinta bertajuk The Butterfly Lovers, sebuah legenda Tiongkok tentang kisah tragedi cinta sejoli Liang Shanbo dan Zhu Yingtai yang nama sejoli ini menjadi judul yang disingkat menjadi Liang Zhu.Kisah cinta ini sangat terkenal di Tiongkok dan di Indonesia kisah ini terkenal dengan judul Sampek Engtay.

Zhu Ying adalah anak kesembilan dan satu-satunya putri keluarga kaya Zhu Shangyu, berhasil meyakinkan ayahnya untuk sekolah dan  menyamar sebagai pria. Selama perjalanannya ke Hangzhou, dia bertemu dengan Liang Shanbo, dan merasakan kecocokan dan mereka sumpah persaudaraan. Mereka belajar bersama selama tiga tahun dan Zhu jatuh cinta pada Liang, meskipun  Liang gagal memperhatikan karakteristik feminin teman sekelasnya.

Pada suatu ketika, Zhu mengisyaratkan kepada Liang bahwa dia sebenarnya wanita. dia membandingkannya dengan sepasang angsa  mandarin (simbol pecinta budaya Tionghoa), tapi Liang tidak menangkap isyarat dan tidak tahu bahwa temannya adalah wanita yang menyamar Beberapa bulan kemudian, ketika Liang mengunjungi Zhu, dia menemukan bahwa dia sebenarnya wanita. Mereka untuk sehidup semati. Kegembiraan reuni mereka berumur pendek karena orang tua Zhu telah mengatur agar dia menikahi Ma Wencai, seorang pria dari keluarga kaya. Liang patah hati saat mendengar kabar tersebut dan kesehatannya berangsur-angsur memburuk sampai dia menjadi sakit kritis dan meninggal.

Hari pernikahan tiba terjadi badai dan gutur yang mehalangi prosesi pernikahan mengawal pengantin wanita di luar makam Liang, yang terletak di samping perjalanan. Zhu meninggalkan arak-arakan untuk ziarah  kuburan Liang. Dia turun dalam keputusasaan yang getir dia mohon agar kuburan terbuka. dan kuburan terbuka ditengah dentaman guntur. Zhu terjun ke dalam kuburan kekasihnya. The Butterfly lovers ditutup dengan semacam resurection melody, menggambarkan kebangkaitan roh mereka menjelma sepasang kupu-kupu dan terbang bersama, tidak pernah terpisahkan lagi (Rosa Widyawan).

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami