Hukum

Advokat Muda Anton Taufik Mengaku Tak Mengancam Miryam

BTN iklan

Jakarta, LEI – Advokat muda Anton Taufik mengaku tidak pernah menekan atau mengancam Miryam S Haryani agar mencabut seluruh keterangan di BAP penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus korupsi e-KTP di Kementerian Dalam Negeri (Kemenagri).

“Pokoknya saya tidak menekan. Pokoknya tanyakan penyidik di atas,” kata Anton usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus keterangan palsu untuk tersangka Miryam di KPK, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Anton juga membantah sebagai anak buah pengacara Elza Syarief atau Rudi Alfonso. “Tidak,
Pokoknya tanya di atas semua. Pokoknya sudah saya jelaskan semua lah,” katanya.

Saat wartawan menanyakan kembali apakah anak buah Rudi, Anton sempat diam sejenak, kemudian kembali menyampaikan kata-kata platnya. “Sudah-sudah, sudah saya jelasin di atas semua secara detail,” katanya.

Sedangkan ketika ditanya apakah tahu adanya percakapan via WhatsApp dengan seseorang bernama DS dengan Elza Syarief, Anton tetap memakai jurus kata-katanya. “Pokoknya, intinya tanya saja di atas semua.”

Anton datang ke kantor pengacara Elza Syarief untuk menemui Miryam. Di sana, Anton disebut menekan Miryam agar mencabut semua keterangan di dalam BAP.

Setelah pertemuan itu, Miryam mencabut seluruh keterangan di BAP-nya saat bersaksi untuk terdakwa Irman dan Sugiharto dalam sidang perkara korupsi e-KTP. Miryam mencabut BAP dengan alasan ditekan penyidik saat menjalai pemeriksaan.

Atas pengakuan itu, jaksa pun memanggil Miryam pada sidang selanjutnya untuk dikonfrontir dengan tiga penyidik KPK, yakni Novel Baswedan, Ambarita Damanik, dan Irwan. Namun Miryam tidak hadir sengan alasan sakit.

Jaksa kembali memanggil Miryam untuk hadir pada sidang selanjutnya lagi. Miryam hadir dan dikonfrontir dengan ketiga penyidik. Bahkan, jaksa sempat memutar rekaman video penyidikan. Miryam tampak tidak tertekan dan sempat bertanya apakah para anggota DPR yang menekannya akan masuk di dalam BAP.

Dari pemeriksaan Miryam, Novel mengatakan, sesuai keterangan Miryam, ada enam anggota DPR yang menekannya yakni Bambang Soesatyo, Aziz Syamsuddin, Desmond J Mahesa,    Masinton Pasaribu, Syarifuddin Suding, dan seorang lainnya Novel mengaku lupa.

KPK kemudian menetapkan Miryam sebagai tesangka dan menjeratnya melanggar Pasal 22 juncto Pasal 35 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close