Opini

Ahok Mestinya Tidak Perlu Ajukan Pledoi Oleh HMT Oppu Sunggu

BTN iklan

Jakarta/Lei — Katakan saja nanti, bahwa Ahok selama ini dan sampai detik ini merasa lebih dari cukup sudah menjelaskan, bahwa tidak pernah dalam hidup Ahok terbetik dalam hatinya untuk menista agama Islam.  Oleh karenanya Ahok tinggal menerima saja apa yang diputuskan oleh Hakim Ketua Pengadilan  –seperti yang diadukan JPU.

Ahok harus realistis dan menerima putusan Pemilu yl. Pada periode Pilkada ronde pertama, Ahok memperoleh 43% suara atau lebih tinggi 3% dari yang diperoleh Anies Baswedan, Tapi pada ronde kedua, Ahok justru memperoleh 41% suara saja, yang berarti bahwa bukan saja suara dari calon-1 yang beralih memihak pada calon-3, tapi ada juga pendukung Ahok sendiri berubah sikap memilih calon-3.

Washington Post, 20 April 20, 2017, menulis:

In Indonesia’s capital, voters oust renowned Christian politician in show of Islamist power,

Jakarta’s first Christian governor in generations lost his reelection bid Wednesday, after a heated sectarian campaign that underscored the influence of hard-line Islamists in the world’s most populous Muslim nation.

 

Apa lacur?

Ahok pasti menyadari bahwa kekalahan Ahok, dikarenakan oleh berkecamuknya sebuah Gerakan-Agama-Mayoritas, yang sangat intoleran terhadap agama Ahok. Gejala ini khusus berlaku bagi propinsi DKI melulu, karena propinsi-propinsi lainnya di seluruh Indonesia tetap saja toleran-beragama-mayoritas dalam rangka Bhinneka Tunggal Ika.

Intoleranasi-beragama-myoritas di Jakarta ini dicetuskan oleh Buni Yani yang memlintir penyebutan Surat Almaidah ayat 51, yang disiter Ahok sewaktu berpidato di Kepulauan Seribu. Plintiran Surat Almaidah inilah dipakai sebagai biang kerok menciptakan tuduhan terhadap Ahok, bahwa dia telah melakukan penistaan agama. Padahal, para tokoh agama dan Polres di Kepulauan Seribu tidak pernah mempersoalkan adanya penistaan agama yang dituduhkan tadi pada Ahok!!! Tau-tau, tuduhan penistaan oleh Ahok tadi justru meluas-lebar ke seluruh propinsi DKI …     Karni Ilyas, Ketua ILC (Indonesian Lawyers Club) memprogramkan sebuh acara rapat, di mana khusus diundang Kapolri baru Jendral Pol. Tito Karnavian dan Jendr. Moeldoko, Panglima TNI. Pada acara ILC tsb tadi, MUI menuntut supaya penistaan agama oleh Ahok tadi diselesaikan-menurut-hukum dan untuk itu meminta supaya Jendr. Tito menyelesaikannya dan bertidak sebagai penegak hukum tertinggi di Indonesia… MayJen. Tito yang baru diangkat 2x lipat menjadi Jendral dan sekaligus juga menjadi Kapolri, merasa terpanggil untuk memenuhi permintaan MUI tadi untuk langsung menangani tuduhan penistaan agama yang dilakukan Ahok. Jendr.Tito sama sekali tidak menyadari, bahwa Polri hanyalah alat dari Eksekutif Pemerintah dan oleh karenanya tidak boleh langsung menangani tuduhan penistaan Ahok tadi, tapi harus terlebih dahulu memperoleh penugasan dari Kementerian Agama sebagai badan Eksekutif Pemerintah yang sedianya terlebih dahulu menentukan ada tidaknya penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok.

Perlu dicatat bahwa dalam rapat ILC tadi, Buya Syafii Maarif menandaskan bahwa Ahok sama sekali tidak melakukan penistaan agama…, namun sama sekali tidak memperoleh tanggapan apa-apa dari hadirin.

Alhasil, Kementerian Agama sendiri lalai dan tidak melakukan tugas eksekutifnya… Titopun dengan gembira mengerahkan aneka ahli, ya ahli agama, ahli bahasa, ahli sosial, psikologi, matematika dll … Semua sependapat bahwa secara syah dan meyakinkan dibuktikan bahwa Ahok 800% benar-benar melakukan penistaan agama. Laporan ahli-ahli tadi dimuat dalam laporan 800 halaman yang diserakan oleh Kapolri kepada Kejaksaan Agung yang sekarang memperkarakan Ahok sebagai pengkhianat agama-mayoritas.

Itulah gambaran intoleransi-beragama dari mayoritas penduduk DKI Jakarta. Percuma kan, Ahok mengajukan pleidooi!!!

 

Al is de leugen nog zo snel, de waarheid achterhaalt haar wel: Sekalipun kebohongan itu begitu cepat, kebenaran itu pasti mengejarnya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami