BTN ads
FinansialHukum

Anak SUGI Klaim Masih Mampu Bayar Utang

PERMOHONAN KEPAILITAN

Jakrta_LEI,  PT Sugih Energy Tbk. menilai anak usahanya, Petroselat Ltd, masih mampu untuk menyelesaikan kewajiban kepada PT Richland Logistics Indonesia dan PT Sentosasegara Mulia Shipping.

Direktur Sugih Energy Fachmi Zarkasi menyayangkan permohon­an kepailitan yang diajukan oleh kedua mitra usahanya tersebut. Operasional usaha Petroselat masih terus berjalan dan dinilai masih memiliki prospek yang bagus.

“Petroselat masih mampu untuk membayar utang kepada para kre­diturnya, terlebih saat ini memiliki rencana ekspansi usaha di bidang gas,” kata Fachmi, Minggu (8/5).

Petroselat merupakan anak usaha emiten dengan kode SUGI yang menjadi operator blok Selat Panjang yang berlokasi di Riau. Kepemilikan sahamnya terdiri dari 55% milik SUGI dan sisanya dikuasai PetroChina International SelatPanjang Ltd.

Blok seluas 1.311 km2 yang me­miliki dua zona utama yakni Siha­pas dan Pematang. Sihapas telah diproduksi sejak 1994 dengan rata-­rata mengeluarkan 99.962 barel minyak dengan cadangan tersisa 7,28 juta barel minyak, sedangkan Pematang memiliki cadangan sekitar 37 juta barel minyak dan 118 miliar kaki kubik.

Fachmi menambahkan bahwa gas alam produksi Petroselat sudah dijual kepada PT Perusahaan Lis­trik Negara (Persero) dan ada bebe­rapa kontrak dengan perusahaan lainnya. Pada Mei 2015,SUGI me­lalui Petroselat menandatangani perjanjian jual beli gas alam dengan PT PLN senilai US$50 juta dan kerja sama tersebut memiliki jangka waktu 5 tahun.

Pihaknya juga menilai per­mohonan pailit dalam perkara a quo terlalu terburu-buru. SUGI mengaku belum pernah mendapat­kan notifikasi tagihan dari kedua pemohon tersebut sebelum meng­hadapi permohonan kepailitan.

SUGI masih akan melakukan verifikasi ulang jumlah tagihan yang diajukan oleh para pemohon tersebut. Namun, pihaknya tidak membantah bahwa anak usaha­nya memang memiliki utang.

Verifikasi ulang tersebut, lanjut­nya, perlu dilakukan karena kon­trak kerja sama dengan kedua kre­ditur sudah terjalin dalam waktu yang lama. Terlebih, saat ini SUGI baru melakukan penggantian ma­najemen.

FAKTOR EKSTERNAL

Perusahaan, imbuhnya, me­mang sedang mengalami kesuli­tan melihat kondisi harga minyak dunia yang terus turun. Akan te­tapi, kesulitan yang tergolong be­rasal dari eksternal tidak banyak mempengaruhi kondisi internal karena disiasati dengan melaku­kan diverifikasi usaha.

“Kami masih terns berkomuni­kasi baik dan membicarakan hal ini secara bilateral dengan Rich­land dan Sentosasegara,” ujarnya.

Perkara kepailitan dengan No. 1 G/Pdt.Sus.Pailit/2016/PN.Jkt.Pst tersebut, terkait dengan klaim tagihan yang dimiliki oleh Richland dan Sentosasegara. Keduanya memiliki utang yang telah jatuh tempo dan ditagih masing-masing sebesar US$402.027 dan US$448.442.

“Terhitung sejak Juni 201 Petroselat tidak lagi melakukan pembayarannya kepada Richland tulis kuasa hukum kedua pemohon Wemmy Muharamsyah dalam berkas yang diperoleh Bisnis.

Adapun, utang termohon berasal dari perjanjian yang mengatur mengenai sewa-menyewa tugboat dan barge guna menunjang kegiatan usaha termohon. Richland mematok tarif sewa sebesar US$2.498 per hari, sedangkan Sentosasegara senilai US$1.788 per hari.

Wemmy menilai permohona tersebut sudah memenuhi unsur kepailitan sesuai dengan Undang-undang No. 37/2004 tentang Kepailitan dan PKPU. Selain memiliki utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, kewajiban termohon dapat dibuktikan secara sederhana, serta memili lebih dari satu kreditur. (Bisnis Indonesia)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close