Hukum

Anak Usaha Sugar Group Terlilit Hutang

BTN iklan

JAKARTA/Lei — PT Mekar Perkasa berupaya menagih subrogasi utang terhadap PT Sweet Indolampung, anak usaha Sugar Group Companies, melalui permohonan restrukturisasi utang.

Kuasa hukum PT Mekar Perkasa Eko Sapta Perkasa mengatakan subrogasi atau pembayaran utang oleh pihak ketiga yang ditagih sebesar 3,52 miliar yen dan US$7,92 juta. Kewajiban yang semula berasal dari fasilitas pinjaman Marubeni Corporation tersebut di klaim sudah jatuh waktu dan dapat ditagih.

“Subrogasi tersebut masih ada dan tidak pernah batal,” kata Eko seusai persidangan, di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Rabu (21/9).

Dia menambahkan termohon tidak bisa membuktikan adanya salinan putusan resmi yang menyatakan pembatalan perjanjian subrogasi tersebut. Pembuktian yang diajukan termohon hanya berupa pernyataan kabul atas permohonan kasasi dari situs Mahkamah Agung.

Sementara itu, kuasa hukum termohon Hotman P. Hutapea bersikukuh perjanjian subrogasi tersebut telah batal demi hukum dan berkekuatan hukum tetap. Putusan pembatalan tersebut sudah dinyatakan di tingkat kasasi MA.

“Semua dokumen pemohon sudah dibatalkan sebanyak lima kali putusan kasasi, sekarang kami malah digugat lagi di pengadilan niaga,” ujar Hotman.

Menurutnya, permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) tersebut dinilai mengada-ada. Pemohon dinilai tidak bisa menghormati putusan kasasi.

Selain itu, Hotman juga membantah bahwa kliennya mempunyai utang yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih terhadap pemohon.

Klaim utang pemohon dinilai tidak ada dan permohonan harus ditolak.

Latar belakang perkara ini merupakan permasalahan lama yang terjadi antara Salim Group dengan PT Sugar Group Companies milik Guna wan Yusuf. Adapun, termohon merupakan salah satu anak usaha dari Sugar Group.

AWAL PERJANJIAN

Perjanjian subrogasi tersebut berawal dari termohon yang meminta fasilitas pinjaman dari Marubeni Europe P.L.C sebesar 3,52 miliar yen dan US$7,92 juta. Uang tersebut digunakan untuk pembangunan pabrik untuk memproduksi gula kristal putih dengan merek Gulaku di Lampung.

Saat itu, Sugar Group masih menjadi milik Salim Group. Adapun, kesepakatan tersebut disahkan dalam supply contract/A-contract pada 11 Juni 1993 yang mewajibkan Indolampung membayar US$50 juta atas mesin dan peralatan.

Selain itu, ada kesepakatan contruction contract pada 1 Juli 1993 yang mewajibkan termohon membayar US$27,5 juta atas pembangunan pabrik yang semuanya dilakukan oleh Marubeni.

Dalam perkembangannya, termohon gagal untuk membayar cicilan utangnya kendati pembangunan pabrik gula telah rampung. Marubeni telah berupaya menagih piutangnya, tetapi tetap tidak mendapatkan penyelesaian.

Pada 2007, Salim Group terlibat kasus bantuan likuiditas bank Indonesia (BLBI) yang menyebabkan dirinya harus membayar utang pada Bank Central Asia senilai Rp52,7 triliun. Selain itu, menyerahkan 108 perusahaan dan uang tunai Rp100 miliar.

Ratusan perusahaan yang diserahkan tersebut termasuk Sugar Group yang terdiri dari PT Gula Putih Mataram (GPM), PT Sweet Indolampung (SIL), PT Indolampung Perkasa (ILP), dan PT Indolampung Distillery (ILD).

Pada 29 November 2001, PT Garuda Panca Arta milik Gunawan Yusuf membeli saham Sugar Grup Company dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) melalui lelang seharga Rp1,16 triliun.

Pembelian tersebut disahkan melalui penandatangan Conditional Share Purchase and Loan Transfer Agreement.

Di sisi lain, Salim melalui PT Me kar Perkasa bersama dengan Marubeni melakukan subrogasi utang yang sebelumnya dimiliki oleh Sugar Group. Adapun, sebelum nya PT Mekar Perkasa merupakan penjamin perusahaan dari termohon.

Atas pembayaran tersebut pemohon mempunyai hak tagih atas utang tersebut dan tidak dihapuskan. Akan tetapi, pihak Sugar Group enggan untuk membayar utang tersebut karena berdasarkan Master Settlement Acquisition Agreement (MSAA) seluruh perusahaan dan aset yang diserahkan keluarga Salim ke BPPN adalah bersih dari utang dan jaminan.

Alhasil kedua perusahaan tersebut saling gugat menggugat hingga adanya permohonan PKPU yang diajukan sejak 5 September 2016.(bisnis.com)

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami