Opini

ANALISIS TENTANG ASPEK AMDAL DALAM RUU OMNIBUS LAW RUU CIPTA KERJA (SUATU TELAAH DARI ASPEK HUKUM ADAT)

Oleh : Dr. Laksanto Utomo, SH, MH

BTN iklan

Omnibus Law merupakan sebuah konsep yang akan diterapkan pada empat Rancangan Undang-Undang yang kesemuanya merupakan usulan dari pihak pemerintah.

Naskah akademik dan draft RUU Cipta Kerja itu telah disampaikan Pemerintah ke DPR. Sejak awal penyusunannya omnibus law RUU Cipta Kerja ini telah menjadi sorotan dari banyak pihak mulai dari kalangan organisasi masyarakat sipil, buruh, akademisi, dan sebagainya.

Muatan dalam draf RUU Cipta Kerja tersebut dinilai hanya mengutamakan investasi dan pembangunan infrastruktur, tetapi mengabaikan lingkungan hidup. RUU Cipta Kerja ini memuat 11 klaster, 15 bab, 174 pasal, 79 UU dengan 1.203 pasal yang terdampak. Dari 79 UU itu, salah satu UU yang terdampak yakni UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH).

Salah satu hal yang perlu dikritisi mengenai diubahnya aturan wajib izin lingkungan sebagai persyaratan untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan. Saat ini, masalah izin lingkungan itu diatur dalam Pasal 40 ayat (1) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang PPLH. Dalam Pasal tersebut secara tegas ditentukan bahwa izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha dan atau kegiatan. Permasalahannya RUU Cipta Kerja hendak menghapus Pasal 40 UU PPLH itu sebagaimana tertulis pada Pasal 23 angka 19 RUU Cipta Kerja. Izin lingkungan diubah menjadi Persetujuan lingkungan. Persetujuan lingkungan adalah keputusan kelayakan lingkungan hidup atau pernyataan kesanggupan pengelolaan lingkungan hidup. Akibatnya definisi tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal)-pun mengalami perubahan.

Dalam UU Nomor 32 Tahun 2009, analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal) adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Sedangkan dalam RUU Cipta Kerja definisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup diubah menjadi adalah kajian mengenai dampak penting pada lingkungan hidup dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan untuk digunakan sebagai pertimbangan pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Perlu diingat bahwa izin lingkungan sebagaimana diatur Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) itu merupakan instrumen yang berfungsi untuk mencegah kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.

Perubahan aturan izin lingkungan dan Amdal sebagaimana diatur diatur Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) sangat potensial berdampak terhadap hak atas tanah dan hutan (ulayat) yang dikuasai oleh masyarakat hukum adat. apalagi saat ini hak masyarakat hukum adat atas tanah ulayat juga semakin terpinggirkan ketika ruang dan peluang investasi asing makin dibuka lebar oleh pemerintah. Kebijakan dibidang lingkungan hidup tersebut wajib dicermati dengan arif dan bijaksana oleh Pemerintah dan DPR, terutama dampaknya terhadap masyarakat hukum adat. Apalagi selama ini masyarakat hukum adat sama sekali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait dengan tanah dan hutan ulayat yang mereka kuasai. Bahkan, hak-hak masyarakat hukum adat seringkali diabaikan saat tanah dan hutan ulayat mereka dijadikan atau terkena lahan perkebunan, HPH dan pengelolaan sumber daya alam oleh korporasi atau investor.

Idealnya negara dan pemerintah melindungi dan berpihak kepada masyarakat hukum adat adar tanah dan hutan ulayat yang dikuasai tidak beralih ke pihak lain, terutama korporasi atau investor. Hal ini harus menjadi perhatian serius dari Pemerintah dan DPR agar masyarakat hukum adat tidak terusir dari wilayah adat dan ulayatnya karena alasan untuk dan atas nama pembangunan ekonomi seperti yang sering terjadi selama ini. Mereka memang rentan terzalimi oleh kebijakan penguasa dan kepentingan pengusaha, namun sesungguhnya masyarakat hukum adat-lah dengan kearifan lokal mengenai lingkungan hidup yang mereka pegang teguh sebagai peninggalan para leluhurnya itu adalah pejuang sejati yang menjaga kelestarian hutan dan tanah di wilayah adatnya. Perlu diingat bahwa kearifan lokal menjadi salah satu asas penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur Pasal 2 UUPPLH. Dan sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini, masyarakat hukum adat tetap konsisten dan berperan besar dalam menjaga keseimbangan alam dan melestarikan lingkungan hidup.

Berdasarkan uraian diatas, dengan mempertimbangkan dampak penghapusan atau erubahan Pasal 40 UUPPLH sebagai implikasi hukum dari aturan lingkungan hidup dalam omnibus law RUU Cipta Kerja terhadap hak-hak atas tanah dan hutan ulayat masyarakat hukum adat, maka Asosiasi Pengajar Hukum Adat (APHA) Indonesia meminta dan mendesak Pemerintah dan DPR untuk mengkaji dan mempertimbangkan lagi rencana perubahan tersebut, dan menurut APHA Indonesia pilihan yang terbaik adalah tetap memberlakukan Pasal 40 UUPPLH yang memuat tentang izin lingkungan hidup, Amdal dan sebagainya tersebut.

*) Dr. Laksanto Utomo, S.H., M.Hum., adalah Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Adat (APHA) Indonesia, dosen Fakultas Hukum Usahid Jakarta.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami