BTN iklan
InternasionalLiputan

Anda WNI yang Sedang Berada di Luar Negeri? Sebaiknya Cepat Lakukan Ini agar Dapat Perlindungan Maksimal dari Tanah Air

JAKARTA, (LEI) – Dari 8.745 WNI keturunan (Persons of Indonesian Descents-PIDs) yang tercatat di kawasan Mindanao,Filipina terdapat sebanyak 2.619 jiwa yang telah ditetapkan sebagai WNI.

Kemudian, sebanyak 2.425 di antaranya telah diberikan Surat Penetapan Kewarganegaraan Republik Indonesia (SPKRI).

Dari jumlah ini, sebanyak 300 orang telah dibuatkan paspor RI, yang pemberiannya telah dilakukan secara simbolis oleh Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi pada 3 Januari 2018 di Davao City.

Saat ini, KJRI Davao City, didukung oleh Direktorat Perlindungan WNI dan BHI pada Kementerian Luar Negeri dan Direktorat Jenderal Imigrasi pada Kementerian Hukum dan HAM, sedang melakukan penerbitan paspor RI sekitar 1.000 buah.

Sebagai upaya memberikan perlindungan maksimal kepada WNI keturunan di Mindanao, Filipina Selatan, maka KJRI Davao City menyelenggarakan kegiatan pelatihan internal atau In-House Training (IHT) dan Sosialisasi Portal Peduli WNI serta Penerbitan Nomor Identifikasi Tunggal (NIT) bagi WNI di Luar Negeri, di KJRI Davao City, Filipina (2/6).

Pemerintah menunjuk KJRI Davao City, sebagai salah satu yang pertama dari 32 Perwakilan RI menjadi tuan rumah proyek percontohan atau pilot project pelaksanaan kegiatan in-house training (IHT) dan Sosialisasi Portal Peduli WNI serta Penerbitan Nomor Identifikasi Tunggal (NIT) bagi WNI di luar negeri.

“Ini merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami disini” ujar Konsul Jenderal RI Berlian Napitupulu ketika membuka kegiatan IHT Aplikasi Portal Peduli WNI dan Aplikasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK).

Ia mengatakan aplikasi Portal Peduli WNI dan Aplikasi SIAK ini akan sangat membantu upaya KJRI dan Pusat, yang akan memberikan paspor kepada sekitar 1.000 WNI bermukim di Mindanao, mulai 4-8 Juni 2018.

Ini adalah upaya three-in-one (3 in 1) dalam rangka memberikan perlindungan maksimal terhadap WNI di Mindanao sebagai wujud dari Nawa Cita, yaitu kehadiran negara.

Selain itu, kondisi sosial dan ekonomi WNI keturunan di Mindanao, Filipina Selatan berbeda dengan kondisi WNI yang bermukim di negara lain.

Selain kondisi sosial ekonomi yang kurang beruntung, mereka tinggal jauh di pedalaman, serta sulit dijangkau dengan transportasi dan telekomunikasi, sehingga pemerintah harus berpihak dan proaktif memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap mereka dengan pendekatan bersistem “jemput bola”.

Konjen RI Berlian berharap kegiatan IHT dan Sosialisasi Aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para peserta, baik dari KJRI Davao City maupun KBRI Manila dan KBRI Bandar Seri Begawan,Brunei Darussalam.

“Setelah IHT ini, teman-teman dapat menerapkan aplikasi untuk memberikan perlindungan bagi WNI di wilayah kerja masing-masing. Gunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” kata dia.

Sedangkan, Direktur Pencatatan Sipil pada Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri (Dir. Capil, Dirjen Dukcapil, Kemendagri) Akhmad Sudirman Tavipiyono menyatakan apa yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah saat ini adalah melaksanakan Amanat Alinea keempat Pembukaan UUD 1945.

Alinea keempat itu berbunyi bahwa negara hadir untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Untuk itu, penting bagi WNI untuk memiliki dokumen terkait dengan administrasi kependudukan, dengan memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) bagi WNI yang tinggal di Indonesia atau Nomor Identifikasi Tunggal (NIK) bagi WNI yang tinggal di luar negeri dan belum memiliki NIK.

Permudah akses Kepemilikian dokumen administrasi kependudukan akan mempermudah WNI untuk mengakses berbagai hak yang telah disediakan oleh Pemerintah RI, mulai akses pendidikan dan kesehatan hingga kemudahan dalam urusan ketenagakerjaan dan finansial.

“Melalui aplikasi Portal Peduli WNI, yang telah terintegrasi dengan SIAK, Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM), dan Sistem Informasi Tenaga Kerja Luar Negeri (Sisko-KTLN), mempermudah Pemerintah RI untuk melaksanakan perlindungan terhadap seluruh bangsa Indonesia, khususnya bagi WNI di luar negeri,” kata dia.

Selain itu, dengan aplikasi ini diharapkan Pemerintah RI dapat memperoleh data yang akurat WNI yang berada di luar negeri karena data WNI di suatu wilayah juga akan mempengaruhi pembangunan wilayah tersebut.

Sementara itu, Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler, Kemlu RI/Kepala Protokol Negara Dr. Andri Hadi dalam sambutan pada Kegiatan Sosialisasi Aplikasi Portal Peduli WNI dan Aplikasi SIAK di House of Indonesia, Davao City, 3 Juni 2018 menyatakan portal peduli WNI merupakan upaya perlindungan ‘zaman now’ untuk mengintegrasikan data, menyeragamkan layanan konsuler dan keimigrasian, serta mempermudah dalam pemberian bantuan kepada WNI.

Kemudian Aplikasi Portal Peduli WNI dan Aplikasi SIAK dilaksanakan dalam proses pembuatan paspor RI bagi WNI yang bermukim di Mindanao pada 4-8 Juni 2018.

Sampai dengan 5 Juni 2018 telah dilakukan pelayanan kepada masyarakat Indonesia, dengan hasil sebagai berikut: i) Penerbitan NIT: 103 orang; ii) Perekaman data biometrik: 79 orang; iii) Perekaman NIK (karena WNI telah memiliki NIK, tetapi belum pernah merekam data di dalam negeri): 2 orang; iv) Lapor Diri pada Portal: 65 orang; dan v) Paspor: 99 orang.

Portal Peduli WNI bisa anda klik di sini!

Safe Travel!

Aplikasi Safe Travel
Aplikasi Safe Travel

Kementerian Luar Negeri memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan infomatika guna melindungi warga negara Indonesia (WNI) termasuk tenaga kerja Indonesia dengan meluncurkan aplikasi Safe Travel berbasis Android dan iOS.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan aplikasi ini berfungsi apabila WNI dan TKI mendapatkan masalah sehingga pemerintah dapat memberikan bantuan, juga dapat memantau sebaran, lokasi, dan identitas WNI dan TKI di luar negeri.

Pada Januari 2017, versi beta aplikasi ini mulai dipublikasikan sebelum diluncurkan secara penuh pada saat ini.

Retno menambahkan aplikasi Safe Travel yang diilhami dari bencana gempa bumi di Nepal pada 2015 tersebut dirancang dengan konsep aman dan menyenangkan, berisikan informasi praktis yang diperlukan WNI dan TKI.

Aplikasi ini sangat penting karena tren wisata keluar negeri semakin meningkat. Data Kementerian Luar Negeri menunjukkan sebanyak 2.978.446 WNI berada di luar negeri.

Dari jumlah tersebut, mayoritas sebesar 2.825.939 merupakan pekerja migran, sisanya terdiri atas pelajar dan anak buah kapal (ABK). Sementara itu, tercatat 18 juta WNI berpergian ke luar negeri untuk keperluan wisata, termasuk wisata religi (haji dan umroh).

Menteri Retno mengungkapkan ada beberapa keuntungan apabila mengunduh aplikasi Safe Travel seperti mendapatkan informasi lengkap mengenai 180 negara terkait dengan tingkat keamanan dan kerawanan suatu negara yang ditandai dengan indikator warna.

“Informasi alamat, nomor telepon, faksimili, email, dan hotline perwakilan Rl, baik kedutaan besar Rl, konsulat Jenderal Rl, ataupun bila terdapat konsulat R1 di negara tersebut; hukum dan tata aturan yang berlaku di masing-masing negara, mata uang setempat, tempat ibadah, lokasi wisata, dan informasi kuliner Indonesia,” kata dia.

Terdapat pula infografis unik yang menghibur dan bisa menjadi bacaan saat perjalanan menuju negara tujuan. infomasi lainnya, bahkan hingga colokan listrik yang dipergunakan di negara tujuan, kata Retno.

Aplikasi ini dapat juga dimanfaatkan untuk mengatur perjalanan dan lapor diri. mengakses pelayanan perwakilan Rl seperti melaporkan kehilangan paspor. [Antara]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close