HukumWanprestasi

Apa Saja Akibat Hukum Wanprestasi Terhadap Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Kontrak?

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Menurut Kamus Hukum tulisan R. Subekti dan R. Tjitrosoedibyo, wanprestasi berarti “kelalaian, kealpaan, cidera janji, tidak menepati kewajibannya dalam kontrak”. Jadi, wanprestasi adalah suatu keadaan ketika seorang debitor (berutang) tidak melaksanakan prestasi yang diwajibkan dalam suatu kontrak, yang dapat timbul karena kesengajaan atau kelalaian debitor itu sendiri dan adanya keadaan memaksa (overmacht).

Wanprestasi yang dilakukan debitor atau pihak yang mempunyai kewajiban melaksanakan prestasi dalam kontrak, dapat menimbulkan kerugian bagi kreditor atau pihak yang memiliki hak menerima prestasi.

Akbiat hukum bagi debitor atau pihak yang berkewajiban berprestasi dalam kontrak tapi malah melakukan wanprestasi, yaitu:

  1. Dia harus membayar ganti rugi yang diderita kreditor, atau pihak yang berhak menerima prestasi (vide Pasal 1243 KUH Perdata);
  2. Dia harus menerima pemutusan kontrak disertai dengan pembayaran ganti rugi (vide Pasal 1267 KUH Perdata);
  3. Dia harus menerima peralihan risiko sejak saat terjadinya wanprestasi (vide Pasal 1237 ayat (2) KUH Perdata);
  4. Dia harus membayar biaya perkara jika diperkarakan di pengadilan (vide Pasal 181 ayat (1) HIR).

Menurut Pasal 126 KUH Perdata, dalam kontrak timbal balik, wanprestasi dari satu pihak memberikan hak kepada pihak lainnya untuk memutuskan kontrak di pengadilan, walaupun syarat putus mengenai tidak terpenuhinya kewajiban itu dinyatakan dalam kontrak.

Bila syarat putus tidak dinyatakan dalam kontrak, maka hakim di pengadilan leluasa menurut keadaan atas tuntutan tergugat, untuk memberikan suatu jangka waktu kepada tergugat untuk memberi kesempatan melaksanakan kewajibannya, jangka waktu tidak boleh lebih dari 1 (satu) bulan.

Pihak yang mempunyai hak menerima prestasi dapat memilih dan mengajukan tuntutan haknya di pengadilan berdasarkan ketentuan enumeratif dalam Pasal 1267 jis Pasal 1266 KUH Perdata,  yaitu:

  1. Pelaksanaan kontrak;
  2. Pelaksanaan kontrak disertai dengan ganti kerugian;
  3. Ganti kerugian saja;
  4. Pemutusan kontrak;
  5. Pemutusan kontrak disertai dengan ganti kerugian.

Kewajiban membayar ganti rugi bagi pelaku wanprestasi baru dapat dilaksanakan bila sudah memenuhi 4 (empat) syarat, yaitu:

  1. Dia memang telah lalai melakukan wanprestasi;
  2. Dia tidak berada dalam keadaan memaksa;
  3. Dia tidak melakukan pembelaan untuk melawan tuntutan ganti kerugian;
  4. Dia telah menerima pernyataan lalai atau somasi.

Seorang debitor yang dituduh lalai dan dituntut supaya dihukum atas kelalaiannya, dapat mengajukan pembelaan yang disertai dengan alasan, yaitu: mendalilkan adanya keadaan memaksa (overmacht), mendalilkan bahwa kreditor telah lalai, dan mendalilkan bahwa kreditor telah melepaskan haknya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close