Internasional

Apa saja yang perlu diketahui tentang kunjungan Trump ke Asia?

BTN iklan

Satu hal yang pasti, Korea Utara

Kedatangan Trump di Korea Selatan untuk bertemu dengan Presiden Moon Jae-in diperkirakan tidak lepas dari pembahasan mengenai Korea Utara. Topik tersebut sebelumnya juga dia diskusikan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Tokyo.

Perihal Korut menjadi teramat penting karena Pyongyang telah melesatkan dua rudal jarak jauh melintasi Jepang dan melakoni uji nuklir keenam yang terbesar sejauh ini. Jika konflik Korut meruncing, maka Jepang dan Korea Selatan-lah yang pertama terdampak, apalagi Seoul hanya berjarak 35 kilometer dari perbatasan Korut.

Trump tampaknya menyadari hal itu. Saat berpidato di pangkalan udara Yokota dekat Tokyo, Trump berikrar bahwa dirinya menjamin militer akan memperoleh sumber daya yang diperlukan untuk menjaga perdamaian dan membela kebebasan.

“Tiada seorang pun, tiada diktator, tiada rezim…yang bisa meremehkan kesungguhan Amerika,” seru Trump di hadapan pasukan AS dan Jepang.

Kesungguhan AS itulah yang juga diinginkan Korsel. Wartawan BBC di Seoul, Robin Brant, melaporkan lawatan Trump diharapkan dapat memperkuat aliansi militer AS-Korsel guna melindungi Korsel dari ancaman Korut.

Trump juga diharapkan tidak mengulangi cuitan retorika tajam terhadap Kim Jong-un yang dia sebut ‘pria roket’ karena banyak warga Korsel menganggap hal itu justru memperuncing konflik.

Di samping Korut, topik lainnya yang bakal menjadi pembahasan adalah perdagangan. Trump sempat mengkritik kesepakatan perdagangan bebas antara AS-Korsel dan dia sudah jelas menyatakan ingin merundingkan kembali sejumlah aspek dalam kesepakatan itu.

Hal lainnya, Trump berupaya merebut simpati warga Jepang dengan bertemu Piko Taro, komedian yang menyanyikan lagu hits di internet bertajuk Pen-Pineapple-Apple-Pen.

Perhentian selanjutnya, Cina

Cina dalah pendukung ekonomi terbesar Korea Utara. Karena itu, Trump diperkirakan bakal meminta Cina menyokong sanksi terhadap Korut. Masalahnya, pemimpin Cina, Xi Jinping, telah mendapat kekuatan penuh dari Kongres Partai Komunis sehingga dia amat mungkin tidak merasa perlu berkompromi dengan Trump.

Beberapa pengamat memperkirakan pergeseran besar-besaran dalam hubungan AS-Cina, namun mereka masih mencermati apakah akan ada perubahan perimbangan kekuatan dunia sehubungan dengan berubahnya hubungan AS-Cina.

Salah satu pertanda menguatnya keinginan Cina untuk memainkan peranan besar di dunia adalah dengan memulai proyek Belt and Road Initiative alias jalur sutera modern. Seperti jalur sutera, ‘sabuk’ adalah serangkaian jalur darat dari Cina ke Eropa melalui Asia Tengah dan Timur Tengah. Adapun ‘jalan’ adalah rute laut yang menghubungkan laut bagian selatan Cina ke perairan di sebelah timur Afrika dan Mediterania.

Fitch, selaku lembaga pemeringkat ekonomi, memperkirakan Cina akan menggelontorkan US$900 miliar atau sekitar Rp12.000 triliun dalam wujud beragam proyek infrastruktur di sepanjang koridor jalur sutera modern.

Berdasarkan rangkaian peristiwa itu, ada beberapa pertanyaan yang muncul seiring dengan rencana kedatangan Trump ke Cina.

Apakah Trump akan menegaskan dominasi militer AS? Sengketa di Laut Cina Selatan tidak tampak bergejolak beberapa bulan ini. Bagaimanapun, Cina terus melakoni pembangunan di perairan yang disengketakan dengan sejumlah negara. Pada masa pemerintahan Barack Obama, AS tidak tinggal diam dengan hal ini dengan mengutus berbagai kapal perang di Laut Cina Selatan. Apakah Trump akan berbuat hal yang sama?

Pertanyaan selanjutnya, apakah Trump akan bersikap keras dalam hal perdagangan? Selama masa kampanye pemilihan presiden, Trump diketahui beberapa kali mengecam Cina yang dia tuding melakukan kebijakan perdagangan tak adil, memanipulasi kurs, dan mencuri lapangan pekerjaan rakyat AS. Saat bertamu di Beijing, apakah Trump akan mengulangi kata-katanya?

Di samping Korut dan perdagangan, ada pertanyaan menggelitik dalam rencana kunjungan Trump ke Cina. Apakah ranah media sosial Cina akan membuat meme saat Trump bertemu Xi Jinping? Warganet Cina dikenal sangat kreatif membuat meme, seperti meme Winnie the Pooh dan Tigger untuk melambangkan pertemuan Obama dan Xi. Kalaupun meme Trump dan Xi dibuat, apakah karya itu bisa menembus sensor?

Ke jantung Asia Tenggara

Dari Cina, Trump akan bertolak ke Vietnam dam Filipina. Topik perdagangan amat mungkin menjadi pembahasan utama. Trump memutuskan untuk mengeluarkan AS dari kesepakatan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) dan membuat banyak negara, termasuk Vietnam, frustrasi.

Memang di depan publiknya, Trump mendapat sambutan meriah saat memekikkan “Utamakan Amerika!”

Namun, slogan itu tidak populer dengan mitra-mitra dagang AS di luar negeri.

Pertanyaannya, apakah Trump akan meneruskan retorika itu saat bertemu pemerintah Vietnam dan Filipina?

Di samping perdagangan, apakah Trump akan berbicara mengenai hak asasi manusia? Vietnam diketahui memenjarakan blogger yang lantang menentang pemerintah. Bahkan, Filipina membunuh sekian banyak orang dengan tuduhan mengedarkan narkoba. Apakah Trump akan menentangnya?

Kemudian, apa yang terjadi ketika Trump dan Duterte bertemu? Kedua figur ini gemar blak-blakan saat berbicara. Namun, Duterte selama memerintah dikenal lebih memilih bersekutu dengan Cina ketimbang AS. (bbc)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami