Hukum

Aqua vs Le Minerale: Karyawan Tirta Investama Emosi Saat Kirim E-mail

BTN iklan

JAKARTA/Lei  — Setelah menghadirkan para pedagang level star outlet (SO) Aqua, Komisi Pengawas Persaingan Usaha memanggil pegawai PT Tirta Investama, Sulistyo Pramono, dalam pemeriksaan lanjutan perkara No 22/KPPU-L/2016.

Karyawan terlapor yang dalam kurun waktu 2015 hingga November 2016 menjabat sebagai Key Account Executive (KAE) Jakarta 2 PT Tirta Investama itu, bertugas memonitor penyebaran produk distributor ke SO di kawasan daerah tersebut.

Dalam surat elektronik karyawan produsen Aqua diketahui bahwa ada upaya untuk menghambat pertumbuhan kompetitor, Le Minerale, di area Jakarta 1 khususnya Depo Cikampek.

Sebagai KAE, Sulistyo Pramono memastikan keberadaan produk Aqua tersedia di SO. Dia menceritakan saat datang ke Toko Chun-Chun atau Toko Venny, melihat stok produk AMDK merek Sanqua dan Le Minerale tersedia melimpah, sementara Aqua relatif sedikit.

“Pak Agus [Pemilik Toko Venny] bilang kalau jualan Le Minerale lebih menguntungkan, satu karton dapat Rp7.000, sementara kalau jual Aqua sebesar Rp2.000. Stok Sanqua dan Le Minerale banyak, dia bilang karena penjualannya lagi tinggi,” tuturnya, Selasa (12/9).

Toko Vanny ini, merupakan mantan SO Aqua yang lokasinya di Cikampek. Dalam kesaksian Yatim Agus Prasetyo pada 18 Juli, pemilik toko Vanny mengatakan penurunan status star outlet menjadi wholesaler produk PT Tirta Investama pada Mei 2016. Penurunan karena pihaknya tidak berhenti menjual produk dari Mayora Group tersebut.

Sulistiyo mengatakan bahwa pihaknya menanyakan ke pemilik toko, apakah lebih memilih menjadi SO Aqua, atau Le Minerale. Menurutnya, Agus memilih untuk menjadi SO Le Minerale.

“Setelah bertanya soal pilihan SO, Pak Agus marah-marah kepada saya,” tambahnya

Setelah pertemuannya dengan pemilik toko Venny, pada 16 Mei 2016, Sulistyo mendapatkan surel dengan judul “Degradasi SO Menjadi Wholeseller” yang dikimkan Nursamsu selaku Kepala Penjualan PT Balina Agung Perkasa (terlapor II).

Pada pokoknya, surel tersebut menyatakan permasalahan penjualan produk Le Minerale dan pertimbangan karena toko Vanny lebih memutukan untuk menjual produk Mayora Group.

Sehari berikutnya, Sulistiyo mengaku bahwa pihaknya merespons surel tersebut dengan menyatakan sehubungan dengan salah satu upaya untuk menghambat pertumbuhan kompetitor di area Jakarta 1 khususnya Depo Cikampek, dipandang perlu mengambil tindakan untuk melakukan degradasi SO menjadi W.

Surat elektronik tersebut dikirimkan Sulistiyo kepada Deny Lasut selaku Sales Manager PT BAP dan Didin Surojudin selaku Distribution Relation Manager PT TIV.

Emosi

“Saya mengirimkan surel tersebut karena emosi, dan tidak tahu kalau ada etika yang melarang menggunakan e-mail kantor untuk urusan pribadi,” tuturnya.

Pengiriman surel tak berhenti di situ, dalam persidangan investigator memaparkan pada surat elektronik ketiga dengan judul terusan “Degradasi SO menjadi W”, disebutkan jangan sampai diberikan harga SO sesuai dengan kebijakan prinsipal yang sudah diputuskan dengan distributor BAP. Surel tersebut dikirimkan Didin Surojudin kepada Sulistiyo pada 24 Mei 2017.

Pada hari yang sama, telah terjadi komuniasi e-mail yang keempat yang merupakan respons atas pesan sebelumnya, dikirimkan oleh Muhammad Luthfi selaku DEPO TIV Karawang kepada Didin Surojudin, Ahmad Oding, Matalih dan juga Sulistiyo.

Pada intinya, tim di TIV Depo Karawang siap menjalankan tentang apa yang menjadi keputusan di KAE tim Jakarta 2.

Akhirnya, Toko Chun-Chun atau Vanny diturunkan status SO menjadi W. Dalam berita Bisnis sebelumnya, Agus mengaku tidak mendapatkan surat yang menyatakan bahwa pengusaha ini tidak lagi berhak menjadi SO.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close