EkonomiInternasional

AS & China Berebut Pengaruh

BTN iklan

Pertemuan bilateral paling dinanti dunia pada tahun ini akhirnya bakal berlangsung. Resort Mar-a-Laggo di Florida, akan menjadi saksi pertemuan dua pemimpin negara paling berpengaruh di dunia yakni Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Xi Jinping.

Publik dunia memang menantikan pertemuan ini. Pasalnya, sejak Trump naik menjadi Presiden AS kedua negara terus disibukkan oleh kegiatan saling kritik melalui media massa. Keduanya bahkan hampir tak pernah duduk bersama di satu meja untuk menyelesaikan perbedaan pandangannya.

Sektor ekonomi menjadi yang paling mendominasi kegiatan saling kritik oleh kedua negara. Di satu sisi China terus berusaha mendorong arus globalisasi melalui perdagangan bebas, di sisi lain AS justru berjalan balik dengan proteksionisme.

Isu lainnya adalah kebijakan geopolitik. Konflik di Laut China Selatan dan Korea Utara menjadi sumber perbedaan pendapat kedua negara. Tak heran jika para pelaku pasar benar-benar menanti pertemuan tersebut. Pelaku pasar sadar, hasil pertemuan itu berpeluang menghasilkan arah yang baru pada perekonomian dunia.

Analis Strategi Pasar IG di Singapura Jingyi Pan mengatakan, hasil pertemuan tersebut akan memiliki pengaruh yang sangat besar pada pasar Asia. Hal itu tak lepas dari bergantungnya eskpor negara-negara Asia baik ke China maupun AS.

Pan memprediksi bahwa para pelaku pasar akan memilih bermain aman. Investor diperkirakan mengadopsi kebijakan wait and see serta menaruh dananya ke sejumlah instrumen safe haven seperti yen dan emas.

Tercatat harga emas naik pascapengumuman pertemuan Trump dan Jinping pekan lalu dari 1.242,46 per once pada Minggu (2/4) menjadi 1258,07 per once pada Selasa (4/4).

Pasar tentu mengharapkan win-win solutions dari pertemuan tersebut. Akan tetapi, tak sedikit pula yang mengharapkan agar Trump melunak pada keinginan China dan Jinping, terutama pada sektor perdagangan bebas dan globalisasi.

Pasalnya, ‘kemenangan’ Jinping atas Trump setidaknya bakal mengamankan aktivitas ekspor-impor global yang sedang melaju positif sepanjang tahun ini. Sebaliknya, jika Trump mampu mengambil kontrol atas China, aktivitas positif perdagangan global secara otomatis akan terguncang.

Namun, menarik apabila menilik arah pertemuan Trump dan Jinping dari sisi kepribadian masing-masing pemimpin tersebut. Keduanya dalam hal ini memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama mengusung retorika untuk membawa bangsa mereka menjadi yang terbesar di dunia.

Hanya saja, yang membedakan keduanya adalah gaya berpolitik, cara berdiplomasi dan cara menghadapi tekanan dari luar negeri.

Trump dikenal sebagai pribadi yang meledak-ledak dalam menanggapi persoalan atau mengambil keputusan. Sementara Jinping justru mampu mempersonifikasikan dirinya sebagai pemimpin yang tenang dan penuh perhitungan.

Hal itu tampak dalam sejumlah peristiwa sepanjang tahun ini. Peristiwa terbaru muncul sesaat setelah pengumuman resmi jadwal pertemuan Trump dan Jinping. Sang pemimpin Gedung Putih itu justru langsung meluncurkan perang urat saraf dengan menerbitkan surat perintah eksekutif kepada Kementerian Perdagangan AS.

Dia meminta Menteri Perdagangan Wilbur Ross untuk menganalisis negara-negara yang memiliki surplus dagang dengan AS. Dalam hal ini, China tentu saja masuk dalam daftar evaluasi, mengingat defisit perdagangan Paman Sam paling besar terjadi dengan Negeri Panda.

Pada saat yang sama, Trump bercuit di akun Twitter-nya. Dia menyebut, pertemuan dengan Jinping nanti dinilainya akan cukup sulit dan mengecam China karena telah membuat lapangan kerja di AS menyusut.

Di lain sisi, Jinping malah tampak lebih tenang. Terlepas dari budaya politik China yang cenderung tertutup, sang pemimpin China itu sama sekali tak terpancing oleh provokasi dini Trump. Jinping justru pada awal pekan ini disibukkan oleh penyelesaian persoalan kerjasama dagang dengan Uni Eropa, terutama Finlandia.

Dominasi Trump

Meskipun banyak pihak yang berharap Jinping mampu mengambil kontrol lebih banyak atas Trump dalam pertemuan tersebut. Rupanya tak sedikit pula yang memprediksi Trump justru akan lebih mendominasi pertemuan dan begitu pula hasilnya.

Keinginan Trump untuk mengubah pandangannya, dari awalnya mengakui Taiwan sebagai negara sendiri, menjadi satu bagian negara China (One China) dinilai akan menjadi nilai tawar untuk Jinping. Penasihat ekonomi Gedung Putih Gary Cohn melihat, kebijakan Trump itu setidaknya akan membuat Jinping merasa berutang kepada AS.

Di sisi lain, para analis juga memandang Trump memiliki peluang mendominasi pembicaraan dengan menempatkan China pada posisi lebih membutuhkan pasar AS daripada sebaliknya mngingat aktivitas ekspor terbesar Beijing selama ini dilakukan kepada Washington.

Akan tetapi, bukan berarti Jinping lantas kehilangan peluangnya begitu saja. Kepemimpinannya di China sejak 2013 seolah telah menggambarkan bagaimana jam terbangnya dalam menghadapi tekanan negara lain. Dibandingkan dengan Trump yang baru menjabat selama 10 pekan.

Jinping juga sangat dikenal atas keahliannya dalam berdiplomasi dengan dunia internasional di tengah kebijakan politik China yang relatif tertutup. Sang pemimpin dari Partai Komunis China ini juga berpeluang memiliki nilai tawar lebih tinggi ke AS, mengingat banyaknya investor Negeri Panda yang membiayai proyek-proyek strategis di AS.

Alhasil, pertemuan tersebut bakal menjadi bukti atau gambaran awal, apakah Trump dengan jargonnya ‘Make America Great Again’ yang akan menang, atau justru Jinping dengan ‘Chinese Dream’.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami