Internasional

AS Kucurkan Rp9,7 Triliun untuk Program Pertahanan Rudal Israel

BTN iklan

TEL AVIV (LEI) – Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman mengatakan, Kongres Amerika Serikat (AS) telah setuju untuk mengucurkan USD705 juta (sekira Rp9,7 triliun) untuk Israel sebagai dana bantuan pertahanan. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar yang pernah disetujui dan diberikan Washington kepada Tel Aviv sejak berdirinya Israel pada 1948.

“Saya dengan gembira mengumumkan bahwa Kongres AS telah menyetujui rekor jumlah dana untuk pertahanan rudal. USD705 juta pada 2018. Kami akan terus mengembangkan sistem pertahanan rudal multi-tingkat,” kata Lieberman melalui Twitter sebagaimana dilansir Middle East Monitor, Selasa (27/3/2018).

Media Amerika Serikat melaporkan bahwa Kongres telah menyetujui dana USD705,8 juta untuk program pertahanan rudal. Jumlah itu naik USD105 juta dari bantuan dana pertahanan rudal tahun lalu.

Lieberman menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Amerika Serikat, dan menyebut Negeri Paman Sam sebagai “teman dekat”. Dia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat sampai saat ini telah menginvestasikan USD6,5 miliar (Rp89 triliun) untuk mempertahankan wilayah udara Israel.

Pada 2016, Amerika Serikat telah menyetujui paket bantuan senilai USD38 miliar selama 10 tahun untuk Israel, jumlah terbesar yang pernah disetujui. Antara 1973 sampai 2002, Israel telah menerima USD1,6 triliun dari Amerika Serikat.

Pada Februari lalu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan akan menyediakan dana sebesar USD3,3 miliar dalam Tahun Fiskal (FY) 2019. Dana tersebut merupakan bagian dari Pendanaan Militer Asing yang disalurkan oleh Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat(USAID).

Amerika Serikat dan Israel memiliki hubungan yang erat sejak pembentukan Negara Zionis itu pada 1948. Israel dianggap mewakili kepentingan Washington di wilayah Timur Tengah.

Pada akhir tahun lalu, Amerika Serikat memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota dari Israel, sebuah langkah kontroversial yang menantang status quo yang berlaku selama ini. Banyak negara, terutama negara-negara di Timur Tengah menentang langkah Amerika Serikat tersebut membawa permasalahan ini ke Majelis Umum PBB yang menyatakan keputusan Washington itu tidak sah.

Meski begitu, Amerika Serikat tetap mengumumkan pemindahan kedutaan besarnya dari Tel AViv ke Yerusalem yang dijadwalkan dilakukan pada Mei 2018. Langkah tersebut diikuti beberapa negara lainnya. (okezone)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami