Hukum

Aset Niko Resources Akan Ditelusuri

BTN iklan

JAKARTA/Lei — Tim pengurus PT Niko Resources akan bersiap melakukan penelusuran aset milik debitur setelah terancam dinyatakan pailit.

Salah satu pengurus restrukturisasi utang PT Niko Resources Muhammad Mukhlas mengatakan penelusuran aset tersebut diikuti dengan pencarian debitur yang saat ini belum diketahui keberadaannya.

“Debitur yang tidak pernah hadir menjadikan kreditur tidak percaya dan akhirnya tidak memberikan perpanjangan masa restrukturisasi,” kata Mukhlas, Minggu (26/6).

Dia menyebut berbagai upaya akan ditempuh, termasuk mendapatkan informasi dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) selaku perusahaan negara yang pernah melakukan kerjasama.

Kemungkinan, lanjutnya, pengadilan niaga akan menunjuk tim pengurus menjadi tim kurator jika debitur dinyatakan pailit.

Dasar kewenangan kurator untuk melakukan inventarisasi dan pengamanan aset sudah dijamin oleh Undang-undang No. 37/2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Lini usaha utama debitur di Indonesia yanki berupa pengelolaan enam blok migas bersama pemerintah. Sejumlah blok yang dikelola yakni Blok Ganal, Blok Bone Bay, Blok West Sageri, Blok Semai V, Blok Seram, dan Blok South Matindok.

Dalam rapat kreditur, imbuhnya, mayoritas kreditur menyatakan debitur tidak perlu diberikan perpanjangan masa PKPU. Hanya tiga dari 13 kreditur yang masih mengharapkan adanya proposal perdamaian dari debitur.

Dia berpendapat debitur tidak memenuhi Pasal 229 UU Kepailitan dan PKPU yang mengatur mengenai syarat pemberian perpanjangan restrukturisasi utang. Hasil tersebut akan segera disampaikan kepada majelis hakim sebagai rekomendasi dalam menetapkan keputusan.

Debitur juga tidak menunjukkan iktikad baiknya dengan kembali tidak hadir dalam rapat kreditur. Padahal, segala cara telah dilakukan tim pengurus guna mendatangkan debitur.

Pihaknya telah mengirimkan surat undangan rapat ke induk usaha Niko yang berpusat di Cyprus, maupun melakukan penelusuran pada SKK Migas.

Mukhlas melaporkan jumlah tagihan debitur yang masuk hingga saat ini terdiri dari 12 kreditur dengan total US$65,65 juta atau senilai Rp970,40 miliar. Kedua belas kreditur tersebut masuk dalam kategori konkuren dengan tagihan terbesar berasal dari Schlumberger Group sebesar US$16,16 juta atau setara Rp225,20 miliar.

Kreditur dengan tagihan besar lain, lanjutnya, berasal dari PT Aquaria Shipping sebesar US$13,15 juta, PT Transamudera Usaha US$9,53 juta, PT Asih Eka Abadi US$8,14 juta, dan PT Wintermar US$7,49 juta.

Sementara itu, kuasa hukum PT Wintermar Norel Mokmin mengatakan kliennya selaku salah satu kreditur telah kehabisan kesabaran. Pihaknya merasa telah memberikan kelonggaran waktu yang layak kepada debitur.

“Kami telah memberikan kesempatan kepada debitur hingga 120 hari, tetapi debitur tetap tidak beriktikad baik,” ujar Norel.

Debitur berstatus PKPU sejak 18 Januari 2016. Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan PKPU yang diajukan oleh PT Wintermar.

Niko terbukti memiliki utang jatuh tempo dan dapat ditagih senilai US$6,472 juta. Tagihan tersebut berasal dari penyewaan dua unit kapal yakni, Posh Constant dan Fos Virgo yang digunakan untuk mendukung suatu proyek yang tengah dikerjakan Niko.(bisnis.com)

Perlihatkan Lebih

One Comment

  1. 93533 241506Empathetic for your monstrous inspect, in addition Im just seriously excellent as an alternative to Zune, and consequently optimism them, together with the really excellent critical reviews some other players have documented, will let you determine whether it does not take appropriate choice for you. 664756

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami