Internasional

Australia Desak Indonesia Tidak Berikan Keringanan untuk Abu Bakar Baasyir

BTN iklan

CANBERRA – Pemerintah Australia mendesak Pemerintah Indonesia untuk tidak memberikan keringanan terhadap ulama yang dianggap sebagai pemimpin ideologi pelaku bom Bali, Abu Bakar Baasyir. Desakan ini disampaikan menteri luar negeri Australia menyusul rencana Pemerintah Indonesia untuk memberikan tahanan rumah dan bentuk keringanan lainnya kepada ulama yang tengah menderita sakit itu.

Pada Jumat, 2 Maret, Menko Polhukam Wiranto mengadakan pertemuan dengan kepolisian dan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu dan akan memberikan rekomendasi perlakuan dan pengobatan Ustadz Baasyir kepada Presiden Joko Widodo.

Wiranto mengatakan, keringanan perlakuan kepada Abu Bakar Baasyir, baik itu berupa tahanan rumah, pengampunan atau perawatan rumah sakit, akan dibahas lebih lanjut dengan presiden.

Ustadz Baasyir yang saat ini berusia 80 tahun dibawa ke rumah sakit pada Kamis karena penyakit kista di kakinya sebelum dibawa kembali ke penjara.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada Kamis mengatakan bahwa pemerintah berencana mengenakan tahanan rumah sehingga dia bisa dirawat oleh keluarganya atau memindahkannya ke penjara di kota kelahirannya di Solo, Jawa Tengah. Sementara banyak pendukung Baasyir yang berharap Presiden Joko Widodo akan memberikan pengampunan dan membebaskannya secara permanen mengingar usia dan kondisi kesehatan sang ulama.

Menanggapi rencana itu, Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop mengatakan bahwa Pemerintah Australia berharap keadilan terus ditegakkan “sejauh hukum Indonesia mengizinkan”. Bagi Bishop dan Pemerintah Australia, Abu Bakar Baasyir adalah orang yang bertanggungjawab atas insiden bom Bali pada 2002 yang menewaskan 202 orang termasuk 88 warga Australia.

“Abu Bakar Baasyir seharusnya tidak diizinkan untuk menghasut orang untuk melakukan serangan lain terhadap warga sipil yang tidak berdosa di masa depan,” demikia isi pernyataan dari Bishop sebagaimana dikutip dari ABC News, Sabtu (3/3/2018). 

Baasyir divonis 15 tahun penjara pada 2011 atas tuduhan terlibat dalam pelatihan militer untuk anggota kelompok militan.

Presiden Joko Widodo melalui pernyataan Juru Bicaranya, Johan Budi mengatakan akan mengkaji kasus dan permintaan keringanan untuk Baasyir. Dia menambahkan, keringanan berupa tahanan rumah memungkinkan secara hukum.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami