Liputan

Awas,debitur goyah

BTN iklan

JAKARTA/Lei — Berdasarkan data Kepaniteraan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, hingga 7 September telah masuk 101 permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dan 44 permohonan pailit. Pada periode yang sama tahun lalu, terdapat 63 permohonan PKPU (107 kasus hingga akhir tahun) dan 25 permohonan pailit (55 kasus hingga akhir tahun).
Tren rasio kredit bermasalah yang sempat menanjak sampai lima bulan pertama tahun ini memicu tren kenaikan pengajuan penundaan kewajiban pembayaran utang dan pailit
Pada PKPU, harta debitur akan dikelola agar dapat digunakan untuk membayar utang-utang debitur, sedangkan dalam pailit, harta debitur akan digunakan untuk membayar semua utang yang sudah diverifikasi.

Peningkatan kredit bermasalah itu jelas berimplikasi terhadap perbankan. Sementara itu, tidak semua sengketa utang yang masuk dalam tahap PKPU berakhir dengan perdamaian.

Sejumlah kasus memaksa bank mengeksekusi aset debitur lantaran telah dinyatakan dalam keadaan pailit oleh pengadilan karena tidak mencapai kesepakatan di meja hijau.

Dalam catatan Bisnis sebulan terakhir, ada delapan kasus PKPU maupun pailit yang terjadi pada enam bank berbeda. Keenam bank itu meliputi PT Bank ANZ Indonesia, PT Bank Negara Indonesia Tbk., PT Bank Mandiri Tbk., PT Bank Bukopin Tbk., PT Bank UOB Indonesia, dan PT Bank MNC Internasional Tbk. dengan total nilai kredit sedikitnya Rp1,83 triliun dan US$10,65 juta.

Glen Glenardy, Dirut PT Bank Buko pin Tbk., mengaku menerapkan strategi PKPU dan pailit kepada debitur yang terindikasi mengalami kesulitan dan rasio utangnya cukup besar.

“Para debitur itu nantinya akan segera direstrukturisasi sebagai langkah antisipatif kemungkinan terburuk seperti gagal bayar,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (12/9).

Dalam melihat debitur yang mulai pincang itu, perseroan melakukan seleksi mendalam. “Kami lihat sektor usahanya, prospeknya masih bagus apa tidak.”

Dia melanjutkan perseroan pun terus mengantisipasi potensi debitur menjadi gagal bayar dengan cara melakukan analisis terhadap agunan para peminjam uang itu yang dilihat dari segi posisi hukum dan pengikatan hak ke bendaan jaminan.

“Hal itu dapat memberikan jaminan pe-ngem balian pasti dari kredit yang diberikan, di tambah posisi hukum yang kuat apabila debitur mengajukan PKPU,” ujarnya.

Sebelumnya, Bank Bukopin pun akan segera meng eksekusi aset jaminan dua debiturnya, PT Hotel Panghegar dan PT Panghegar Kana Properti pada bulan ini.

Aset dari debitur Bank Bukopin itu berupa hotel Grand Royal Panghegar di Bandung ditaksir senilai Rp500 miliar, sedangkan total tagihan debitur itu kepada Bank Bukopin senilai Rp350 miliar.

Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk., mengatakan dengan siklus perekonomian yang sedang melambat seperti saat ini membuat banyak debitur yang membutuhkan restrukturisasi. Hal itu pula yang mendorong kenaikan pengajuan PKPU dan pailit baik dari debitur maupun bank.

“Kami pun akan melewatinya dengan koridor hukum yang baik. Kalau debitur mengalami pailit, nantinya pengembalian uang pinjaman tergantung pada kurator yang menjual jaminannya,” ujarnya.

BELUM MENGKHAWATIRKAN

Muliadi Rahardja, Wakil Dirut PT Bank Danamon Tbk., mengakui adanya tren kenaikan peng ajuan PKPU maupun pailit. “Namun, kalau dilihat peningkatan itu belum terlalu mengkhawatirkan atau masih di batas normal.”

Secara umum, rasio kredit bermasalah perbankan sampai Juni 2016 sudah lebih membaik. Posisi sampai Juni, nonpeforming loan (NPL) gross per bankan di level 3,05%. Rasio itu setidaknya lebih baik ketimbang bulan sebelumnya sebesar 3,11%.

Sementara itu, PT CIMB Niaga Tbk. sempat kesulitan menjual aset jaminan dari debitur yang terkena NPL.

Wan Razly, Direktur Strategi dan Keuangan PT CIMB Niaga Tbk., sempat mengatakan ada beberapa faktor yang menghambat penyelesaian permasalah rasio kredit bermasalah atau NPL perseroan, salah satunya terkait sulitnya menjual aset jaminan debitur.

“Kami cukup sulit dalam menjual jaminan dari debitur yang sudah menjadi NPL karena enggak ada pembelinya, situasi ekonomikan sedang begini. Kalau jaminan yang kebanyakan berupa gedung maupun hotel sudah terjualkan semakin gampang menyelesaikannya.”

Anton H. Gunawan, Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk. mengatakan meskipun rasio NPL per Juni lalu sudah cukup melambat, secara keseluruhan masih cukup tinggi. Oleh karena satu tahun depan upaya menekan NPL masih jadi fokus industri perbankan.  (bisnis.com)

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami