Internasional

Badan PBB Tarik Staf Sebagian dari Sudan

BTN iklan

Roma, Lei/Ant 21/4 /Thomson Reuters Foundation) – Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kamis, mengatakan akan menarik stafnya dari beberapa daerah konflik dan menggunakan helikopter yang jauh lebih mahal untuk pengiriman bantuan karena meningkatnya risiko keselamatan di Sudan Selatan yang terkena dampak kelaparan.

Serge Tissot, perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (FAO) di Sudan Selatan, mengatakan bahwa badan tersebut terpaksa mengambil keputusan itu setelah pembunuhan tiga pekerja bantuan minggu lalu.

Kekerasan terhadap pekerja bantuan semakin sering terjadi di negara kaya minyak Sudan Selatan, yang mengalami bencana kelaparan pertama di dunia pertama selama enam tahun.

Sejak perang saudara dimulai, 82 orang dilaporkan tewas.

Konflik di negara termuda di dunia itu meletus saat presiden memecat wakilnya pada tahun 2013, memicu sebuah konfrontasi antara dua kelompok etnis terbesar di negara ini.

Sejak saat itu, konflik telah meluas dan terfragmentasi, melibatkan sejumlah kelompok etnis yang lebih kecil dan membagi beberapa kelompok etnis yang lebih besar.

“Jumlah orang yang terbunuh sejak awal tahun ini terlalu banyak. Kita tidak bisa terus seperti itu,” kata Tissot kepada Thomson Reuters Foundation melalui telepon.

Pekan lalu, tiga orang yang bekerja sebagai staf angkut untuk Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (FAO) erbunuh di kota Wau, yang menjadikan jumlah korban pekerja bantuan yang tewas tahun ini menjadi 15 orang, kata Tissot.

Sebagai konsekuensinya, FAO menarik sementara 40 persen stafnya dari Wau, katanya, tapi tidak akan mengungkapkan jumlahnya.

Melalui Udara FAO juga mempertimbangkan untuk mengalihkan sebagian besar cara pengiriman bantuannya dengan menggunakan helikopter di bagian wilayah timur Unity, Upper Nile dan Jonglei agar staf tetap aman, katanya.

“Kami akan beroperasi di beberapa lokasi hanya melalui udara,” kata Tissot, mencatat bahwa itu akan semakin menjadi strategi organisasinya.

“Masalah utamanya adalah harganya sangat mahal. Ini seperti sepuluh kali lebih mahal daripada (pengiriman) melalui jalan darat,” tambah Tissot.

Tanpa kehadiran di lapangan, itu juga akan sulit untuk membantu petani dan nelayan, dan mengendalikan potensi wabah penyakit ternak dengan program vaksinasi, lanjutnya.Dew

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami