Internasional

Bagian yang Hilang dari Industri Teknologi: Sisi Kemanusiaan

BTN iklan

(LEI)-Di Silicon Valley dan di berbagai tempat di belahan dunia, kita cenderung memprioritaskan potensi dari suatu teknologi dibandingkan risikonya. Pada dasarnya tidak ada founder yang sengaja membangun perusahaan dengan tujuan “untuk berbuat jahat” atau “menghancurkan informasi dunia.”

Secara umum, para pendiri perusahaan teknologi merupakan memiliki kebijaksanaan dan tanggung jawab yang benar-benar percaya bahwa mereka sedang membuat dunia menjadi lebih baik.

Lalu, mengapa kita terjebak dalam dunia di mana robot mengancam pekerjaan manusia, algoritme memilih berita dan menyaring komunikasi dengan teman-teman kita, mobil autopilot menyebabkan korban jiwa, dan penyalahgunaan data membahayakan demokrasi?

Kita sudah terlalu lama keliru mempercayai pandangan monoteisme tentang teknologi, dengan hanya belajar menulis kode. Jika cukup banyak orang belajar sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM), otomatis kita akan memajukan dunia dengan tingkat angka pengangguran rendah dan produktivitas yang tinggi; kira-kira begitu argumennya.

Tapi, di antara segala hashtag dan bootcamp coding tiada akhir, kita kerap lupa bahwa tanpa menghargai kemanusiaan, kemajuan ini hanya bersifat mekanik.

Sumber: Cloudera.

Kita memerlukan lebih banyak keberagaman dalam bidang STEM serta keterlibatan lebih banyak orang yang ingin menjadi bagian dari inovasi ekonomi. Ini berarti, kita harus memperluas keberagaman ketika merekrut karyawan dan mempertimbangkan keahlian mereka di bidang humaniora serta kebudayaan.

Jika sains adalah ilmu yang mempelajari dunia dan cara kerjanya, maka ilmu sosial mempelajari peran kita di dalamnya. Antropologi adalah studi kemanusiaan, dan sejarah adalah catatan riwayat manusia. Politik dan sosiologi mengajarkan kita mengenai sifat kolaboratif dan saling bergantung. Psikologi dan filosofi merupakan introspeksi terhadap ketakutan, nafsu, dan motivasi kita.

Ilmu sosial merupakan ilmu mengenai bagaimana kita melakukan persuasi dan bagaimana kita bisa dimanipulasi. Bukan hanya sekadar perenungan agar mengerti apa yang manusia bisa lakukan, tetapi juga bagaimana dan mengapa kita melakukan hal tersebut.

Diskusi startup dan teknologi tidak terpisah dari aspek kemanusiaan

Penilaian startup apa pun jauh lebih bersifat filosofis dan psikologis daripada teknis.

Siapa pun yang pernah terlibat pitching dengan perusahaan modal ventura (VC) pasti tahu bahwa karisma, energi, kejujuran, dan komunikasi sama pentingnya dengan teknologi yang dibangun. Kebanyakan investor menganalisis motivasi, semangat, dan keberanian kamu bersamaan dengan aspek teknologi.

Apakah pengusaha ini benar-benar ingin memecahkan masalah yang ia ceritakan? Apakah pendiri ini bisa menjual visinya seribu kali lagi untuk mendapatkan pelanggan, mengumpulkan tim, dan menghasilkan uang?

Penilaian startup jauh lebih bersifat filosofis dan psikologis daripada teknis.

Saya ingat pernah mengobrol dengan para investor yang melihat presentasi Jack Dorsey untuk Square. Mereka bilang ke saya, “Presentasinya menggoda sekali.”  Tentu sisi teknologi yang Dorsey presentasikan terlihat bagus, tapi kepribadiannya lebih baik lagi.

Sementara untuk pengusaha dan manajer produk yang berdiskusi sampai larut malam tentang akuisisi pelanggan dan aliran onboarding, perdebatan biasanya berkisar pada perilaku pengguna. Ini adalah obrolan antropologi dan filosofi, seperti:

  • Dalam suatu platform one-to-many, apakah para pengguna akan menyalahgunakan hak mengunggah konten secara publik?
  • Apakah kebebasan berbicara para pengguna bertentangan dengan kewajiban platform untuk menjamin keselamatan mereka?

Ini adalah isu kebebasan sipil, masalah privasi, serta keamanan.

Jika kita melihat Facebook saat ini, jelas sekali bahwa tantangan paling berat bagi mereka bersifat etis, editorial, dan filosofis. Isu tersebut berkaitan dengan budaya dan komunikasi, politik dan hukum. Meski mereka pasti menghadapi tantangan teknis setiap hari, namun penyesuaian algoritme dalam cara mereka menyimpan, menyortir, dan mengambil data masih kalah menarik dibandingkan dampak sosiologis dan politik yang mereka hadapi di ranah publik.

Teknologi berbasis manusia

Kita lupa cara menggunakan teknologi lah yang penting – bagaimana teknologi menyentuh atau bergesekan dengan kepentingan manusia.

Orang-orang umumnya tidak mengerti atau mempertanyakan teknologi secara abstrak, tapi mereka meminta pertanggungjawaban dari dampak yang teknologi hasilkan. Kita lupa, cara penggunaan teknologilah juga penting, yaitu bagaimana teknologi menyentuh atau bergesekan dengan kepentingan manusia.

Bagaimanapun, teknologi bersifat manusiawi; ia diciptakan dari, oleh, dan untuk manusia.

Fei-Fei Li dan Melinda Gates ingin melibatkan peneliti dengan latar belakang yang lebih beragam dalam pengembangan AI.

Fei-Fei Li dan Melinda Gates ingin melibatkan peneliti dengan latar belakang yang lebih beragam dalam pengembangan AI. Sumber: Wired.

Fei-Fei Li (Head of Artificial Intelligence di Google Cloud) baru-baru ini menulis artikel opini di New York Times tentang gagasan yang ia sebut “AI berbasis manusia.” Bersama Melinda Gates, ia mendirikan organisasi nirlaba bernama AI4All yang bertujuan memperluas keberagaman dalam komunitas yang turut serta membangun kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Li berargumen tidak ada unsur “buatan” pada AI, melainkan teknologi yang dirancang untuk dan oleh manusia dengan kepentingan dan bias masing-masing. Ia merupakan salah satu pakar AI terkemuka di dunia yang juga mendorong partisipasi dari ahli filosofi, antropolog, dan psikolog. Tidak akan ada pembangunan yang efektif untuk manusia tanpa mempelajari sifat manusia.

read also

Memadukan ilmu sains dan sosial

Ketika memikirkan tentang teknologi dan hal apa saja yang membuatnya sukses, kita harus bergerak lebih jauh dari perspektif tunggal STEM. Kita dapat menggantikannya dengan perpaduan antara ilmu sains dan sosial serta menerapkan ilmu tersebut ketika mengajar dan memilih karyawan.

Di Stanford University, sejumlah pendiri perusahaan paling sukses merupakan lulusan dari program bernama “Symbolic Systems.” Program ini mendorong mahasiswa untuk mengapresiasi teknologi, dan pada saat bersamaan juga mengajarkan filosofi, psikologi, linguistik, dan logika.

Reid Hoffman, pendiri LinkedIn dan salah satu alumni program Symbolic Systems di Stanford.

Reid Hoffman, pendiri LinkedIn dan salah satu alumni program Symbolic Systems di Stanford. Sumber: Business Insider.

Melalui filosofi “waktu dua puluh persen” di Google, karyawan dengan performa bagus dapat menghabiskan sebagian waktu mereka mengerjakan proyek sampingan. Nantinya, mereka dapat mengembangkan proyek tersebut menjadi produk atau minat baru. Dalam menyusun tim, mungkin kita bisa mempertimbangkan konsep “talenta dua puluh persen”.

Tim pemasaran atau operasional mungkin lebih membutuhkan anggota ekstrover dengan energi tinggi untuk mencari dan mengonversikan leadpenjualan. Namun akan lebih baik jika mereka memiliki dua orang teknisi untuk mengoptimalkan proses.

Begitu juga ketika tim pengolah data mungkin lebih memerlukan ahli statistik, alokasi “talenta dua puluh persen” pada ahli filosofi atau antropologi akan membantu mereka dalam bertanya atau mengemas suatu masalah.


Teknologi tidak bersifat monolitik atau hanya terdiri dari teknisi dan ahlicoding.  Semakin cepat kita menyadari keseimbangan kontribusi dari ilmu sosial maupun sains dalam memecahkan sejumlah tantangan besar, semakin cepat kita dapat menggunakan instrumen baru secara efektif dalam bekerja.

Pemimpin dan perusahaan terbaik adalah mereka yang berhasil mencampurkan aspek sains dan sosial. (idtechinasia)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 7 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami