Lifestyle

Bahasa Indonesia yang Kurang Dihargai Generasi Milenial

BTN iklan

(LEI) – Bahasa Ibu seharusnya masih menjadi landasan utama dari komunikasi setiap bangsa. Bahasa asing yang akhirnya dianggap sebagai “bahasa keharusan” pun diyakini banyak pihak. Tak terkecuali generasi millennia. Mereka yang mahir atau sudah fasih dalam bertutur kata dalam bahasa asing merasa paling hebat.

Lalu, apakah sikap tersebut benar?

Menurut Staf Pengajar Prodi Sastra Indonesia FIB UGM Yogyakarta Drs. Heru Marwata, M.Hum., ada beberapa alasan kenapa akhirnya generasi milenial bangga menggunakan bahasa asing. Berikut penjabarannya.

Pertama, harus sangat disadari bahwa sampai saat ini penghargaan atas bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa persatuan masih sangat kurang.

Akibatnya, menguasai penggunaan bahasa Indonesia pun belum mendapatkan penghargaan yang layak. “Apakah Anda pernah mendengar ada penghargaan yang nyata pada orang yang bahasa Indonesianya, baik tulis maupun lisan, sangat bagus?” tanya Heru, dilansir dari Okezone.

Alasan berikutnya menurut Heru ialah masih banyak orang yang menganggap bahwa ekspresi bahasa, termasuk di dalamnya pilihan kata dan istilah, tidaklah penting. Mereka berasumsi bahwa “yang penting informasinya sampai”.

Mereka yang akhirnya lebih bangga dengan bahasa asing dianggap kurang menyadari bahwa dalam berbahasa ada aspek yang sangat penting, yakni masalah bentuk dan isi. Perlu Anda ketahui, bentuk itu berkaitan dengan pilihan kata, intonasi, cara menyampaikan, nada, irama, atau suasana yang dibangun. Sementara isi adalah maksud atau arti informasi yang dimuat atau dikandung oleh bentuknya.

Idealnya, dalam hal berbahasa ada keseimbangan atau harmoni antara bentuk dan isi sehingga ide atau gagasan yang bagus bisa dikemas dengan bahasa yang baik, tertata, sistematis, serta logis. “Sepanjang masih banyak orang yang menganggap isi saja yang penting, pilihan kata atau istilah atau ekspresi bahasa lainnya dianggap tidak penting, ini tentunya sangat menyesatkan,” tegas dosen UGM yang juga merupakan Visiting Professor di Department of Malay-Indonesian Interpretation and Translation Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Korea Selatan itu.

Alasan berikutnya terkait dengan figur yang dirasa sangat sedikit. Sadar atau tidak, di Indonesia ini terlalu sedikit figur publik atau pejabat yang bisa dijadikan contoh cara berbahasa Indonesia yang baik sekaligus benar. Publik figur ini dianggap penting karena bisa menjadi representative bagi kalangan milenial atau orang seusianya. Nah, kalau jumlahnya sedikit, siapa yang bisa dicontoh?

Faktor lain dari masalah ini adalah bahasa Indonesia yang dipelajari di lebih dari 300 lembaga di dunia, menjadi mata kuliah, bahkan menjadi program studi di banyak negara, ternyata belum memicu munculnya kebanggaan berbahasa Indonesia secara umum.

Pejabat pemerintahan dan figur publik pun masih banyak yang merasa lebih keren dan trendi atau bangga ketika bisa dan mengerti bahasa asing daripada bahasanya sendiri. Tak jarang, dalam pidato resmi pejabat pun terlalu banyak tebaran kata asingnya, seperti Inggris, Belanda, atau Arab.

Padahal untuk kata-kata atau istilah asing itu sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. “Banyak lho pejabat publik bahkan juga ilmuwan yang merasa lebih hebat kalau berbicara dengan bahasa asing, minimal menggunakan istilah atau kata asing, ketika berbicara di forum resmi yang di dalamnya tidak ada orang asing sekalipun,” tambah Heru.

Sebagai contoh konkret, penceramah agama Islam merasa lebih dahsyat ketika banyak menggunakan kata dan istilah Arab di forum pengajian, padahal belum tentu kata atau istilah itu dipahami audiensnya.

Pakar hukum merasa sangat hebat dan canggih ketika berbicara tentang hukum dengan taburan kata dari bahasa Belanda karena sebagian aturan hukum kita warisan Belanda atau diambil dari tradisi hukum Negeri Kincir Angin. Demikian pula, banyak ilmuwan yang merasa jauh lebih hebat ketika banyak menggunakan istilah dari bahasa Inggris ketika berbicara di sebuah forum ilmuwan.

Alasan berikutnya yang mungkin menjadi faktor masalah ini adalah kurangnya promosi dan provokasi tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak lembaga atau sekolah yang sudah memasang semboyan dengan papan besar bertuliskan “Mari kita pergunakan bahasa Indonesia secara baik dan. benar”, tetapi implementasi motto itu kurang kurang gairah atau “greget”-nya.

Tak hanya itu semua, masalah kesadaran berbahasa Indonesia masih dianggap lemah. “Secara guyon, saya sering menyampaikan, sayang sekali di Indonesia ini tidak ada polisi bahasa. Artinya, dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa bernegara, tidak pernah kita dengar ada orang yang ditangkap polisi (atau polisi bahasa) dan apalagi dipenjara karena bahasanya buruk atau ekspresi bahasanya sangat jelek,” terangnya.

Dari semua itu, Heru menegaskan, paling tidak, beberapa hal inilah yang kemudian menjadi catatan penting kenapa masyarakat Indonesia bangga dengan bahasa asing. “Semua itu alasan kenapa sampai saat ini masih terlalu banyak orang Indonesia, bahkan pejabat publik atau figur ilmuwan yg sangat suka memilih menggunakan kata atau istilah asing ketika menulis dan berbicara, bahkan pada audiens Indonesia dan pada saat sudah ada padanan kata Indonesia untuk kata-kata asing yang dipilihnya,” tutupnya. [okezone]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami