EkonomiFinansial

Bank BI Fokus untuk Liquiditas APBN 2020

BTN iklan

Jakarta, LEI-Bank Indonesia sudah menerapkan berbagai jurus pelonggaran yang dimana berpengaruh kekebijakan moneter untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional pada kuartal terakhir 2020. Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan bahwa bank Sentral memfokuskan kepada penyediaan liquiditas untuk membiayai perekonomian termasuk dukungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ditahun 2020. “Kami melanjutkan komitmen mengenai pendanan APBN tahun ini melalui surat Berharga Negara (SBN) dari pasar perdana. baik melalui mekanisme pasar maupun secara langsung”.

Hingga 15 September, Bank Sentral telah membeli SBN dipasar perdana sebesar Rp. 48,03 Triliun, angka ini cukup besar dan skema lelang dilaksanakan dengan baik yang dilaksanakan digreenshoe option, maupun private placement. Adapun direalisasikan pendanaan dan pembagian bebas pendanaan public goods dalam APBN, jumlah akan mencapai Rp. 99,8 triliun. Bank Sentral akan merealisasikan pembagian beban dengan pemerintah dalam rangka pendanaan nonpublic goods UMKM sebesar Rp 44,38 Triliun. “Kami terus memperkuat sinergi ekspansi moneter dengan akselerasi stimulus fiskal pemerintah dalam mendorong pememulihan ekonomi nasional”. Kata Pery,

Beliau menambahkan ekspansi moneter juga dilakukan BI melalui guyuran likuiditas ke sektor perbankan. Bank Sentral tercatat telah menambah likuiditas (quantitative easing) di sektor perbankan sekitar Rp 662,1 TriliunLikuiditas berasal dari Giro Wajib Minimum (GWM) sekitar Rp. 155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp 491,3 Triliun .

Berfokus juga kepada Pertumbuhan Bank BI berupaya mendorong percepatan perekonomian nasional. Beriukut adalah sedert upaya bank Indonesia mempercepat pemulihan antaralain, melanjuan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.
Memperkuat strategi operasi moneter guna meningkatkan transmisi stance kebijakan moneter guna meningkatkan transmisi stance kebijakan moneter yang ditempuh.
memperpanjang periode ketentuan insentif pelonggaran GWM rupiah sebesar 50 bps bagi bank yang menyalurkan kredit UMKM dan ekspor impor serta kartu kredit non UMKM sektor prioritas yang ditetapkan dalam program Pemulihan ekonomi nasional dari 31 Desember 2020 sampai juni 2021.
Mendorong pengembangan instrumen pasar uang untuk mendukung pembiayaan korporasi dan UMKM, sejalan dengan Program pemulihan Ekonomi Nasional.
Melanjutkan perluasan akseptasi QRIS dalam rangka mendukung program pemulihan ekonomi dan mengembangkan UMKM melalui perpanjangan kebijakan merchant discount rate (MDR) sebesar 0% untuk usaha mikro (UMI) dari 30 September 2020 menjadi 31 Desember 2020.

 

Kontributor : Dwitya Yonathan Nugraharditama

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami