LiputanOpini

Banyak Orang Terkenal Mudah Hancur Di era Digital

BTN iklan

  oleh Prof. Dr. Henry Subiakto

Jangan samakan keadaan sekarang dengan era Orde Baru, apa lagi era Orde Lama. Keadaan sudah berubah. Negara sudah berubah. Sistem tata pemerintahan berubah. Media berubah. Peran masyarakatpun juga berubah.

Dulu tidak ada lembaga lembaga independen. Sekarang banyak lembaga independen berkerja atas nama negara, terpisah dari Pemerintah. Di Penegakkan hukum ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di Pengawasan ada Ombudsman. Di politik ada KPU dan Bawaslu. Di persaingan usaha ada KPPU. Di aturan jasa keuangan ada Otoritas Jasa Keuangan/OJK. Di Penyiaran ada KPI. Di pemberitaan ada Dewan Pers, dan lain lain.
Presiden memang masih kepala negara dan kepala pemerintahan. Tapi kekuasaannya lebih fokus pada eksekutif. Presiden tidak bisa mencampuri kewenangan legislatif, yudikatif, apalagi lembaga lembaga independen seperti KPK dan lain lain. Kewenangan Presiden sudah diatur dalam perundang undangan.

Begitu pula untuk isu isu politik. Dulu masyakat hanya tahu dari media dan informasi terbatas. Bahkan hampir semua media dibawah “kendali” Pemerintah (Depen).
Sekarang media begitu banyak, dan beragam. Tak ada satupun yang berada di bawah kendali pemerintah. Apalagi media sosial.

Media sosial adalah medianya masyarakat. Medianya warga negara. Medianya masing masing individu. Semua Orang bisa aktif di media sosial. Semua Orang bisa bikin pesan, opini, bahkan berita. Semua Orang adalah komunikator.
Semua Orang adalah media. Semua Orang adalah pemroduksi dan pengolah pesan. Semua Orang bisa aktif. Semua Orang! Sekali lagi semua Orang!

Saya tulis dengan huruf “O” nya besar, “Orang”. Orang dengan huruf O besar dalam bahasa hukum bisa berarti invidu, maupun badan hukum. Jadi apapun bentuknya bisa jadi media di jaman digital sekarang ini.

Orang Orang ini aktif, sensitif dan partisipatif. Mereka begitu cepat “menyambar” isu apa saja. Mereka bisa memviralkan, mendukung, menilai, hingga menghakimi apa saja.
Maka berbagai tokoh, jika memiliki masalah, segera akan jadi “bulan bulanan” di media sosial. Tak peduli siapapun dia.

Itulah “hukum” komunikasi di era digital yg terbuka, terkoneksi, partisipatif, dan bersifat mass self communication. Semua tokoh sadar atau tidak, mereka dibawah sorotan media sosial yg dimiliki oleh beragam masyarakat. Beragam kepentingan. Beragam aliran politik.
Semua siap mendeteksi, menginterogasi, hingga mengeksekusi siapapun.

Repotnya, era sekarang ini, semua perilaku tokoh, pemimpin, atau orang terkenal, maupun orang biasa itu terekam secara digital, dan bisa dicari dan dibongkar track recordnya. Inilah dunia yg semakin transparan. Dunia yg menyajikan big data yg siapapun ada di dalamnya, selama dia pernah terkait dg komunikasi digital. Big data adalah data digital dari semua aktivitas manusia yg tercatat dan terkumpul secara digital.
Di dalam big data itu berisi Fakta (aktivitas manusia), bercampur dengan gossip, rumor dan hoax.

Daniel J Salove pernah menulis The Future of Reputation (2007), dia mengatakan bahwa di era internet digunakan secara liberal, reputasi itu sulit sekali untuk dijaga dan dipertahankan.
Reputasi cenderung akan dirusak oleh komunikasi. Semua orang bisa dibongkar kehidupan privasinya. Bisa diserang oleh rumor dan gossip, atau sekarang populer dengan istilah Hoax. Apalagi tokoh tokoh yang punya masa lalu atau track record bermasalah, pasti akan dihabisi reputasinya.
Siapa yg menghabisi reputasi? Ya masyarakat sendiri. Yaitu publik yang aktif, dengan media sosial dan mass self communication itu. Masyarakat yang di dalamnya amat beragam itu, tentu banyak yg terkait dg berbagai kepentingan politik, ataupun beragam kepentingan lain.
Semua siap untuk mengadili maupun membela tokoh tokoh yg ada.

Jadi tidak usah heran kalau sekarang banyak tokoh yg di dalam benak kita dianggap tokoh baik, ternyata dihancurkan oleh homo homini lopus, beragam orang yg kejam di sosmed. Komunikasi di media sosial itu sudah seperti rimba belantara yang gelap.
Banyak makhluk “ganas” yg saling serang bahkan saling tikam, tapi serba tidak jelas pelakunya.

Impian dan fantasi banyak orang terhadap tokoh, bisa melambung cepat. Tapi juga bisa segera hancur lebur setelah terungkap asli dari karakter sang tokoh. Ditambah adanya pengadilan sosial tanpa ampun di media sosial pada siapapun yg menjadi trending topik.

Pelajaran dari kondisi ini.
Jagalah perilaku, cerdaslah berkomunikasi. Dunia sudah berubah. Semua perilaku dan tindakan komunikasi kita tercatat secara permanen di mesin mesin digital.

Lingkungan yg berubah jadi aktif dan “ganas” harus disikapi dengan lebih hati hati dalam bertindak dan komunikasi.
Kembali ke pepatah Jawa, “Nak Cluthak Ojo Galak”. Kalau masih rakus, ya jangan koar koar cari musuh. Pasti akan dibongkar aib atau kerakusannya itu.

Penulis, Dosen di Unair Surabaya.

Perlihatkan Lebih

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 + eighteen =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami