Opini

Belajar Bijak dari Afi Banyuwangi

BTN iklan

⁠⁠⁠Prof.  Dr. Henry Subiakto

Kita orang tua, atau orang yg lebih dewasa, lagi “diajari” utk menjadi bijak dan berpikir mendalam tentang hidup berbangsa oleh Afi Nihaya Faradisa, anak SMA di Banyuwangi yg tulisan2nya mengalir indah dan penuh pengetahuan. Dia menulis pentingnya menghormati perbedaan, menghormati kebinekaan dan mensyukuri Indonesia. Menurut Afi Menulis itu, bukan sedang minta disetujui oleh semua yg membaca tulisannya. Bukan pula minta dipuja atau disenangi karena membenarkan sikap mereka, tapi seseorang itu menulis karena ingin menunjukkan sikap, pendapat, dan pemikiran tentang sesuatu hal.

Pemikiran yg berbeda hendaknya tidak lalu dimusuhi. Pendapat yg berbeda itu justru akan memperkaya pemikiran, dan membuat banyak pihak menjadi lebih bijak, cerdas, dan bersikap hati2 menghadapi pihak lain yg beragam. Tapi anehnya, banyak diantara kita, yang lebih tua, lebih “dewasa” dari Afi, malah bersikap seperti anak kecil. Mereka “mengeroyok”, membuli, mengecam bahkan, memfitnah, dan menghack FB remaja itu hingga tdk bisa dibuka.

Remaja yang  sedang tumbuh, berpikiran cerdas dan kritis malah dimusuhi, hanya karena motif politik. Remaja  harusnya didukung, diberi tempat agar tumbuh dan lebih  bermanfaat bagi bangsa dan negara, malah dibungkam dan dimusuhi. Untungnya Afi itu cerdas dan berpikiran dewasa, tak surut karena buli, hoax dan fitnah. Namun belum tentu untuk remaja lain seumuran dia jika diperlakukan atau ditakut takuti seperti itu.

Afi pernah dituduh berbohong,  nulis bukan dia sendiri, tapi orang dewasa di belakangnya. Karena tulisannya terlalu berbobot dan cerdas bagi anak seusia Afi. Tapi para penuduh itu terbungkam saat lihat Afi ceramah dengan indah dan menarik di kampus-kampus. Afi bisa menjawab dengan  pintar dan cerdas di media termasuk wawancara TV. Tapi belakangan gadis berjilbab ini justru difitnah sebagai bagian dari kelompok misionaris. Pemikirannya  luas bukannya diapresiasi tapi malah jadi sasaran berbagai fitnah.

Medsos betul betul jadi ajang komunikasi   amat “kejam”, liar, tak mengindahkan etika, bahkan kadang terlalu jahat bagi mereka yang tak suka dengan perbedaan pikiran. Gara gara status yg tidak disukai, orang bisa membabi buta menyerang, mencela, mengolok olok hingga menfitnah. Tujuannya tak lain agar orang lain punya sikap politik yg sama dengan mereka, atau mereka “hancurkan” kalau tetap berbeda. Orang begitu mudah mengecam dan mencecar, pada orang yg berpendapat berbeda. Seakan ingin membuat semua orang harus sama, kalau berbeda harus dibikin kapok, dibuat malu, bahkan dibuat takut.

Cara cara kasar seperti ini memang cukup efektif membuat banyak orang cenderung diam, cenderung tidak berpendapat, cenderung membiarkan opini opini yg makin radikal dan tak masuk akal. Banyak orang memilih tidak ikut ikut dari pada jadi sasaran buli dan permusuhan.

Walhasil, medsospun dipenuhi dengan pendapat dan pesan yg banyak mengekspresikan kebencian, nyinyir dan pikiran ekstrim, kemarahan dan sikap merasa paling benar dari individu atau kelompok individu yg berkumpul dalam pemikiran yg tertutup. Pikiran dan opini yg muncul hanya yg sependapat, sealiran, jadilah opini mereka bergema semakin mengeras diantara mereka sendiri. Itulah yg disebut echo chambers.

Mayoritas orang yg memiliki pikiran yang berbeda dari mereka yg ekstrim itu, cenderung memilih diam dan tidak menyuarakan hati nuraninya. Mereka memilih topik topik ringan menghindari topik “panas” yg dibahas kelompok echo chambers. Tapi masih banyak juga yg dengan cerdas, tangkas, dan berani tetap berdiri dan berpendapat yg berbeda, seperti adik kita Afi Nihaya Faradisa tersebut. Mungkin Anda termasuk yg memilih diam, atau malah yg ikut membenci dan menyerang orang2 yg memiliki sikap berbeda, sebagaimana yg dilakukan pada Afi akhir2 ini?

Semoga perbedaan itu benar benar membuat kita menjadi semakin cerdas, semakin hati-hati, semakin bijaksana dan menghormati orang lain yg berbeda. Bukan pemicu keributan dan konflik antar kita sesama anak bangsa, amin.

Penulis, Dosen Unair, Surabaya.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close