LiputanNasional

Belajar Toleransi dari Kampung Samin

BTN iklan

Jawa Tengah\Lei-  Enam lelaki berjejer rapi di mulut Desa Sambongrejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Rabu (20/9/2017) lalu. Mengenakan baju dan celana hitam di bawah lutut mereka hangat menyapa tamu yang datang.

“Seger waras,” ujar mereka hampir bersamaan.

Keenam lelaki itu mengenakan ikat kepala yang terbuat dari kain batik. Ikat kepala merupakan ciri khas bagi laki-laki dewasa di kampung Sedulur Sikep yang biasa dikenal dengan nama kampung Samin.

Bagi masyarakat Sedulur Sikep, sapaan seger waras merupakan salah satu pegangan dalan hidup. Ketua Paguyuban Kerukunan Sedulur Sikep Blora, Pramugi Prawiro Wijoyo mengatakan seger waras berarti mendoakan keberkahaan bagi orang orang yang ada di sekitar mereka.

“Manusia harus peduli, peduli terhadap alam, peduli terhadap orang lain di sekitar,” ujar Pramugi lagi.

Tak hanya di Desa Sambongrejo. Ajaran untuk menghormati alam dan lingkungan sekitar merupakan panutan hidup kelompok Samin yang tersebar di beberapa daerah lain seperti Blora, Pati, Bojonegero, Ngawi dan beberapa daerah lain. Mereka merupakan penganut aliran kepercayaan yang sudah diakui negara sejak 2014 lalu. Menurut Pramugi, jumlah penganut kepercayaan Samin saat ini lebih dari 2.000 jiwa.

Pramugi mengatakan, orang Sedulur Sikep harus menjunjung falsafah hidup bertoleransi. Mereka juga tidak merusak alam. Kehidupan orang Samin bertolak ukur pada tiga hal yaitu ucap, partikel, dan kelakuan.

“Ucap artinya tidak boleh bohong, partikel keyakinan akan Tuhan sedangkan kelakuan dibuktikan dalam tindakan sehari-hari,” katanya.

Tiga ajaran dasar ini menurut Pramugi menjadi patokan hidup masyarakat Sedulur Sikep. Sikap saling menjaga yang terus dikembangkan dan dipertahankan dalam hidup berkomunitas agar selalu guyub rukun.

Anti-Kekerasan

Salah satu ajaran dasar yang menjadi ciri khas masyarakat Samin adalah sikap anti kekerasan. Sikap ini pula yang diterapkan para tetua masyarakat Samin saat penjajahan Belanda.

Pramugi bercerita, para tetua dan leluhur masyarakat Samin melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan cara tersendiri. Mereka menolak kekerasan dan memilih melawan dalam senyap seperti menolak membayar pajak dan tidak mau terlibat dalam aktivitas perdagangan dengan penjajah.

Sekarang, ajaran anti kekerasan mereka terapkan dengan sikap saling menjaga kerukunan antar sesama. Masyarakat Samin mengedepankan toleransi terhadap masyarakat pendatang. Menurut Pramugi, bagi warga Sedulur Sikep sikap kekerasan hanya akan membawa kehancuran dan merusak tatanan yang sudah disediakan alam.

“Jangan mempersoalkan perbedaan karena kita bhinneka tunggal ika,” katanya.

Dia menambahkan, bagi orang Samin, menerima keadaan apa adanya merupakan hal yang utama. Keinginan berlebihan dan berprasangka buruk adalah hal yang dihindari. Itulah alasan sehingga keamanan di Kampung Samin terpelihara dengan baik.

“Barang berharga diletak di luar aman. Orang sedulur Sikep jika tidak punya tidak mau ngambil punya orang lain,” katanya.

Masyarakat Samin di Sambongrejo juga diajarkan untuk tidak menyakiti orang lain. Penghormatan terhadap sesama manusia dan diajarkan untuk tidak berbuat kejahatan di muka bumi. Anti kekerasan dan lebih mengutakan welas asih. Karena itu mereka tidak memberi hukuman fisik terhadap warga yang melanggar aturan.

Bila ada warga Sedulur Sikep yang kedapatan melanggar aturan dan berbuat salah, hukuman yang diberikan adalah dengan mengucilkan dari pergaulan sehari-hari sampai waktu yang ditentukan. Ini merupakan bentuk nyata sikap anti kekerasan yang mereka yakini.

Menurut Pramugi, untuk tetap menjaga keutuhan masyarakat Sedulur Sikep biasa mengadakan pertemuan berkala. Pada pertemuan ini mereka membahas berbagai perkembangan yang terjadi di kampung. Termasuk juga mendengarkan petuah dan nasehat dari tetua.

Kearifan lokal masyarakat Sedulur Sikep yang menolak kekerasan dan hidup rukun ini menjadi perhatian pemerintah setempat. Wakil Bupati Blora Arief Rohman mengatakan nilai luhur toleransi masyarakat Samin merupakan hal yang perlu disebarluaskan.

Apalagi menurut Arief, sikap gotong rayong masyarakat Samin bisa dimaksimalkan untuk menyukseskan berbagai program pembangunan daerah sekitar hutan yang sedang dilaksanakan pemerintah.

“Kami akan dorong masyarakat sekitar hutan di Blora yang menjadi kantong-kantong kemiskinan meniru perkampungan sedulur sikep,” katanya.

Tak hanya mendukung pembangunan daerah, kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Samin juga menjadi nilai yang perlu dipertahankan untuk meningkatkan persatuan dan menjadi ujung tombak pencegahan terorisme.

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Irfan Idris mengatakan seni dan budaya di Indonesia harus dilihat dengan kacamata keberagaman, bukan keseragaman. Radikalisme kata dia, bisa dicegah dengan menghormati dan belajar dari kearifan lokal tiap daerah.

Irfan menganalogikan kearifan lokal sebagai imunitas untuk tubuh. Jika kearifan lokal sebuah daerah tidak dijaga dan terus dikuatkan, maka ancaman perpecahan yang berujung pada radikalisme dan terorisme bisa terjadi.

“Kapan lemah imunitas negara, maka akan masuk penyakit dalam kehidupan berbangsa,” katanya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami