Traveling

Berburu Discount di Outlet Roermond Belanda

Oleh Theo Yusuf, dari Belanda

BTN iklan

AMSTERDAMLEI – Ribuan orang tampak bergegas berjalan cepat, bahkan berlari kecil memburu outlet atau toko-toko yang memberikan diskon hingga 30 – 70 persen.

Mereka berebut masuk toko-toko yang memasarkan barang branded di kawasan factory outlet Roermond, Belanda. Ribuan orang itu datang dari Belgia, Jerman dan Belanda, karena letak outletnya ada di perbatasan dari tiga negara tersebut.

Para wisatawan Indonesia tak kalah gesit untuk ikut berburu potongan harga karena benar-benar murah dibanding di Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Harga sepatu Nike misalnya, tak lebih dari 20 euro setara 250 ribu rupiah, untuk ukuran dewasa, belum termasuk pengurangan tax bagi turis mancanegara. Di luar sepatu banyak tas bermerek seperti Coach, Kipling, Gucci dan merek lain ikut diserbu, termasuk jam tangan Fossil dan merek lainnya di diskon hingga 40 -60 persen.

Itu sebabnya, banyak orang berburu mencari barang branded di toko-toko Roermond tersebut. Menurut Leo Kawilarang, tour leader dari Jakarta yang sudah puluhan kali mengunjungi Roermond, di Belanda belum lama ini, toko ini dibuka mulai pukul 10 pagi hingga malam, dari Senin hingga Minggu, dan pada Sabtu ada pasar tradisional yang menjajakan sayur dan buah segar selain barang branded itu. Oleh karenanya, hampir semua wisatawan Indonesia mampir ke Fo, Roermond karena harga barangnya murah, utamanya pada Januari dan Februari karena akan ada produk baru yang akan masuk pasar.

Jika anda belanja ke kawasan itu gak perlu khawatir karena hampir semua toko terdapat karyawan dari Indonesia utamanya anak peranakan Indonesia Belanda. “Meski saya lahir di sini, ibu saya dari Bandung, ayah Belanda tapi jika melayani pembeli Indonesia, rasanya melayani tante dan keluarga saya,” kata Ane kasir keuangan toko itu.

Petugas kasir turunan Indonesia

Selain Ane, ada juga Krestin wanita cantik dari Yogja yang mendapat jodoh lelaki Belanda. “Saya kerja disini karena ikut suami, tapi saya berencana akan ajak suami saya balik ke Indonesia, rasanya di Jawa masih lebih menyenangkan,” katanya seraya menambahkan, orang China dan Indonesia termasuk wisatawan yang rajin berburu barang branded ke sini. Orang sini tahu, orang Indomesia cukup konsumtif kareannya para pemilik toko lebih suka mempekerjakan orang Indonesia atau turunannya.

Lepas dari area yang luas, penatan toko kecil-kecil yang rapih dan bersih, pengunjung dari Bandung Evi Rudiat mengatakan, sayang tempat ini tidak ada restoran dari Indonesia yang menjajakan makanan halal, dan memberikan ruang salat untuk pengunjung. Apa tugas para duta besar dan konjen di Belanda dan negara lain, mestinya ikut memasarkan atau sebagai manager Indonesia in corporated, agar tidak kalah perannya dengan Thailan, Vietnam, Turki dan Pakistan. “Kita ke eropa tak sulit menemukan resto Thailan dan Vietnam, tapi hampir satupun gak ditemukan testoran Indomesia meski orang Indonesia yang bermukim di sini cukup besar jumlahmya,” kata Evi dengan nada gemas.

Model Roermond seyogianya dapat di aplikasikan di Indonesia, bukan mal besar tapi toko kecil-kecil, area cukup luas yang ditempatkan di pinggir kota sehingga tidak menjadikan jalanan macet. Jika hal itu dapat di wujudkan, tentu devisa Indonesia tidak menguap jauh ke Roermond, karena banyak produk branded di produksi di Indonesia, seperti produk sepatu dan tas lainnya, dipilih dan di pakai orang Eropa. Itulah tantangan pemerintah dan para dubes mendorong wisatawan eropa berbelanja di Indonesia. semoga
@theo yusuf,

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami