Opini

Berkernyit Menyimak Pembubaran HTI

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Bagi saya, usul pembubaran HTI oleh Pemerintah, yang mendasarkan putusannya ini pada UU Ormas, sangat menarik untuk disimak.

Sebabnya, tak hanya karena putusan ini luar biasa beraninya. Juga karena banyak perspektif yang muncul karenanya.

Saya merasa tak cukup melihatnya dari satu sisi perspektif saja soal ini.

Pembubaran HTI oleh Pemerintah ini ujian untuk banyak hal. Dan Disiplin ilmu hukum pun tidak tunggal menyimak ini. Satu diantaranya dari Filsafat Hukum.

Dari (aliran dalam Pemikiran Filsafat Hukum) dapat muncul berbagai pandangan:

1. Dari perspektif Positivisme Hukum, rencana pembubaran HTI ini akan sangat menguji kepiawaian Menkumham dan Kejagung vs Kuasa Hukum HTI, perihal keabsahan (due process of law). Argumentasi hukum yang memadai harus disiapkan untuk “mewadahi” pilihan pembubaran ini.

2. Dari perspektif Realisme Hukum, persidangan usulan Pemerintah membubarkan HTI, akan menguji kemandirian hakim vs kepentingan Negara melalui hasrat Pemerintah.

3. Dari Perspektif Sociologial Jurisfridence. Case ini menguji keberpihakan dan independensi penegakan hukum, antara pembaharuan hukum vs legitimasi undang-undangan.

4. Dari perspektif Mazhab Sejarah Hukum, usulan Pemerintah membubarkan HTI menguji konsistensi wakil rakyat, apakah mampu menangkap suara (jiwa) rakyat yang “sesungguhnya”. Apakah DPR akan proaktif untuk bersikap melalui hak bertanya hingga hak angket vs kebersetujuan atas kebijakan ini dg beberapa catatan evaluasi. Bagi saya, case ini lebih jelas objeknya “ketimbang pengawasan terhadap kinerja KPK” sebagai objek Hak Angket.

5. Dari perspektif Hukum Kodrat (Natural Jurisfrudence) menguji kesaktian “asas tunggal berormas” vs “multi asas berormas”. Sebab tak hanya akan menguji keabsahan asas tunggal sebagai objek pengujian terhadap prinsip prinsip yang dianut Pancasila dan UUD 1945, namun juga melihatnya sebagai pengakuan kebebasan berserikat yg juga dilindungi, sebagai Warga Dunia. Bagi saya, ini kayaknya layak diuji ke MK.

Sekali lagi, hukum selalu saja tak punya tafsir tunggal. Ini menurut sima’an saya. Bagaimana menurut anda?

Padang, 9 Mei 2017

DR. Otong Rosadi

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

One Comment

  1. Hey there! This is my first visit to your blog! We are a collection of volunteers and starting a new project in a community in the same niche. Your blog provided us useful information to work on. You have done a wonderful job!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close