Ekonomi

Bisnis Startup Bisa Didorong Menjadi Besar

BTN iklan

Tangerang, LEI – Menristek dan Dikti M Nasir berharap bisnis Startup di Indonesia bisa tumbuh menjadi besar, hingga mampu pula menjadi industri besar.

“Kita sekarang menghadapi tantangan besar di era Revolusi Industri ke-4, bila dulu kita melihat secara fisik tapi kini sudah cyber digital system,” kata Nasir dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (7/2/2018).

Nasir menyampaikan pernyataan tersebut dalam acara National Startup Summit (NSS) 2018 dengan tema Startup for All, di Convention Hall ICE, BSD City, Tangerang, Banten, Selasa (6/2/2018).

Acara yang digagas oleh Chairman NSS 2018 yang juga CEO Arrbey Consulting Handito Joewono tersebut, dihadiri pula Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram, Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Pangerapan, dan Tokoh Wirausaha yang juga Menteri Perumahan Rakyat periode 1983-1988 Cosmas Batubara.

Menristek pun mencontohkan fenomena terkini dimana bisnis berbasis teknologi informasi mampu mendulang penghasilan hingga ratusan miliar rupiah. Misalnya, bisnis transportasi online.

“Siapa yang menyangka mereka bisa menjadi besar seperti sekarang. Oleh karena itu, saya selalu mendorong agar pelaku bisnis Startup bisa maju dan besar. Saya juga ingin anak muda era milenial mampu menghasilkan inovasi terbaik untuk bisa menjual produk dalam negeri,” kata Nasir.

Menristek menambahkan, pihaknya memiliki program strategis dalam mengembangkan bisnis Startup di Indonesia. Yaitu, program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT).

“Kita mendidik anak muda berjiwa wirausaha yang suka akan tantangan. Dari 661 orang anak muda yang masuk seleksi, kita mampu membentuk pelaku Startup berkelas internasional sebanyak 15 orang. Saya pernah jumpa salah satunya berbisnis dan sukses di London,” katanya.

Menristek juga mengimbau agar pelaku bisnis Startup tidak takut akan kegagalan. Karena, dalam setiap kegagalan akan mendapatkan satu ilmu lain untuk menuju kesuksesan. “Dalam bisnis Startup, kita akan menemukan tiga unsur penting, yaitu inovator, inverter, dan juga investor,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengungkapkan, kunci keberhasilan pelaku bisnis Startup dan wirausaha pemula harus memiliki lima poin penting. Yaitu, pengetahuan, skill, networking, menangkap peluang, dan sikap perilaku.

“Meski kita berhasil lulus kuliah dengan Cum Laude, belum tentu berhasil secara ekonomi,” ujar Agus.

Menurut Agus, lima kunci tersebut harus dimiliki karena saling terkait satu sama lain. “Pengetahuan tanpa skill, masih belum cukup untuk mencapai keberhasilan secara maksimal. Dengan skill tinggi kita bisa menciptakan brand yang dikenal punya pengaruh yang kuat dalam memasarkan produk dari seseorang sebagai pelaku bisnis Startup,” katanya.

Agus menambahkan, “Tapi pengetahuan dan skill juga akan lebih baik bila Startup memiliki networking bisnis yang luas. Begitu pula bila perlu memiliki kemampuan lebih untuk menangkap peluang yang ada. Dan yang tak kalah penting adalah sikap perilaku seorang Startup, yang juga bisa menentukan sukses tidaknya kita dalam berbisnis kedepan,” ujarnya.

Dalam mengembangkan dan memajukan bisnis Startup di Indonesia, lanjut Agus, Kemenkop dan UKM memiliki program strategis dalam hal mencari bakat wirausaha di kalangan anak muda, pelatihan, kompetisi, pemberian award, hingga pemberian kemudahan (fasilitas).

“Tahun ini kita akan menjaring ribuan wirausaha pemula yang nantinya akan kita beri permodalan maksimal Rp13 juta per orang. Kita juga ada kredit usaha rakyat atau KUR dengan bunga 7% pertahun dan dana bergulir dari LPDB KUMKM dengan bunga 4,5% pertahun. Kemenkop dan UKM juga memiliki program pelatihan kewirausahaan,” papar Agus.

Pembicara lainnya, mantan menteri di era Orde Baru yang juga Tokoh Wirausaha di Podomoro University, Cosmas Batubara menekankan pentingnya kewirausahaan masuk ke dalam kurikulum pendidikan nasional dan mata kuliah di perguruan tinggi.

“Pelatihan kewirausahaan harus kita lakukan di semua kampus. Bahkan, perguruan tinggi harus sudah memiliki mata kuliah kewirausahaan. Negeri ini harus banyak melahirkan wirausaha dari rahim perguruan tinggi,” katanya.

Cosmas menunjuk kemajuan Jepang yang tidak memiliki sumber daya alam melimpah seperti Indonesia. “Namun, Jepang mampu mencetak generasi mudanya menjadi wirausaha. Jadi, Jepang masuk ke dalam kategori negara maju karena banyak memiliki wirausaha, sudah 10% rasio kewirausahaan dari total jumlah penduduk. Sedangkan Indonesia masih di kisaran 3%,” ujar Cosmas.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami