BTN ads
Liputan

BOMER: PEMERINTAH GAGAL JIKA MENEKANKAN ASPEK PERTUMBUHAN

Jakarta, 16/4 (Antara) – Kecenderungan pembangunan negara-negara maju, saat ini tidak lagi menekankan pada aspek pertumbuhan ekonomi semata, karena sistem itu sudah terbukti gagal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
“Jika pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla hanya menekankan Pembangunan dari sisi aspek pertumbuhan, maka hal itu akan gagal untuk menjadikan kebahagian warganya meningkat,” kata Mantan Duta Besar Denmark, Prof.Dr. Bomer Pasaribu usai memberikan Orasi Ilmiah Wisuda ke 16 prgram Starata Satu dan pasca sarjana magister Hukum STIH IBlam, di Jakarta, Sabtu.

“Sudah banyak contoh, negara-negara yang membangun dengan mengutamakan aspek pertumbuhan, membangun berbagai infrastruktur, seperti China dan Amerika Serikat, gagal dalam mewujudkan masyarakatnya lebih bahagia,” kata Bomer, seraya menambahkan, pembangunan nasional yang berbasis Nawa Cita, sebaiknya lebih memfokuskan pada pembangunan perubahan karakter bangsa.
Menurut Bomer, US dan China sejak tahun 1990 hingga tahun 2010, bahkan hingga tahun 2020 diprediksi sebagai negara yang secara konsisten meningkatkan gross nasional prodok/GNP termasuk juga negara yang para pembayar pajaknya tinggi.

China tahun 2020 pembayar pajaknya diperkirkan mencapai 24,6 miliar dolar dan AS mencapai 23,3 miliar dolar. Namun dua negara itu dalam survey yang dilakukan oleh UNDP dan IMF hanya berada pada posisi ke 93 untuk China dan rangking 17 untuk AS dari 156 negara yang disurvey. katanya.

Negara yang dinilai dapat membahagiakan rakyatnya, seperti Denmark, Norway, Switzerland, nederlands dan Canada, kata Bomer yang juga mantan Anggota DPR RI itu, pembangunan pemerintahannya, lebih memfokuskan pada pembangunan karakter bangsa, mengutamakan kesehatan, pendidikan, pembangunan lingkungan dan baru tata kelola pemerintahan yang baik.

“Kalau pembangunan hanya bertumpu pada orientasi pertumbuhan dan pembangunan infrastruktur, yang akan terjadi penguasaan lahan atau modal hanya dikuasai oleh sekelompok orang,” katanya.

Ia mengingatkan kembali, bahwa para pendiri negeri ini, tujuan kemerdekaan adalah meningkatkan kesejahteraan umum atau welfare for all.

Dengan begitu, pelaksanaan hukum di Indonesia seyogianya harus dapat membahagiakan warganya, tidak terkesan pilih tebang atau ancam- mengancam hinga masyarakat menjadi takut. “Beda takut dengan hukum atau sadar hukumm. mari kita membangun kesadaran hukum yang tinggi hinga mampu mewujudkan pembgunan nasional yang membahagiakan rakyatnya, kata Bomer.

Mendidik Jujur Ketua yayasan IBLAM Dr. Edi Santoso mengatakan, wisuda tahun ini berjumlah lebih dari 170 orang terdiri dari sekitar 100 orang strata S1 dan 70 orang S2 program ilmu hukum dan hukum bisnis. “Wisuda tahun ini merupakan wisuda ke 16, dilaksanakan pada 16 Mei dan taun 2016.

Dalam Alquran ayat ke 16 (surat An nahl) yang artinya lebah, sangat baik untuk dijadikan cermin kehidupan umat manusia, khususnya orang-orang yang berprofesi dibidang hukum. Lebah, kata Edi, tidak pernah mau memakan bangkkai, tetapi menghisap sari putik bunga diproduksi menjadi madu.

Madu itu bukan dipakai para lebah itu, tetapi diperuntukkan ke orang lain. Maknanya, IBLAM mendidik para mahasiswanya, agar dapat berbuat baik untuk orang lain, mengabdi kepada orang-orang papa yang buta hukum dengan menjalankannnya secara jujur.

Alumni IBLAM sudah teruji baik yang ada di Komisi pemberantasan Korupsi (KPK) Mahkamah Agunng (MA) dan instansi pemerintah lainya, hingga saat ini dapat memmbawa nama almamaternya cukup baik. Oleh karenanya, kami berpesan agar para wisudawan/wisudawati dimanapun kalian berada, bersikaplah jujur dan jangan korupsi.

Indonesia tidak akan pernah mencapai kejayaan kalau korupsii terus menggurita disemua lini. “Kita masih butuh pemimpin yang jujur, dan dapat dijadikan contoh, apa yang dilakukan sesuai dengan yang dikatakan. Pimpinan seperti itulah yang dibutuhkan Indonesia kedepan,” kataya.(gema)

Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close