Internasional

Brazil Puncaki Daftar Tempat Untuk Diperhatikan Dalam Penggundulan Hutan

BTN iklan

Rio de Janeiro, 15/12 (Antara/Thomson Reuters Foundation) – Brasil menduduki puncak daftar Tempat untuk Diperhatikan paling penting di dunia dalam penggundulan hutan pada Rabu, dalam prakarsa baru menggunakan satelit nyaris seketika guna menyoroti penggundulan hutan.

Satelit itu mencatat lebih dari 50.000 hektar hutan alami hilang -setara dengan lebih dari 60.000 lapangan sepak bola- sejak Oktober di Wilayah Adat Kayapo di Amazon, Brasil, kata badan amal berpusat di Amerika Serikat, Global Forest Watch (GFW).

“September menunjukkan kebakaran paling banyak dalam satu bulan dan 2017 berada di jalur untuk memecahkan rekor kebakaran paling banyak dalam satu tahun,” kata GFW.

“Meskipun terjadi kekeringan, hampir semua kebakaran disebabkan oleh manusia, kemungkinan menghilangkan hutan untuk ladang pertanian,” katanya.

Kebakaran hutan di Brasil dan Indonesia berkontribusi terhadap rekor hilangnya hutan alami global pada 2016, setara dengan ukuran Selandia Baru, yang dapat mempercepat penggundulan hutan yang diakibatkan perubahan iklim, kata GFW.

Badan perlindungan lingkungan Brasil, Ibama, menggunakan isu tersebut dalam temuan kelompok itu, mengatakan kepada yayasan tersebut dalam sebuah surat elektronik bahwa mereka menemukan penggundulan hutan yang jauh lebih sedikit dalam pembacaan pemantauan dan data satelitnya dari Institut Penelitian Antariksa Nasional (INPE).

Ibama mengatakan bahwa mereka menemukan hanya 879 hektar penggundulan hutan pada 2016-2017 di wilayah Kayapo.

“Oleh karena itu, tidak benar jika mengatakan bahwa 50.000 hektar penggundulan hutan di kawasan lindung terjadi,” kata Ibama.

Penggundulan hutan di tanah adat turun 16 persen, tambahnya.

“Tempat untuk Diperhatikan” memberikan informasi rinci tentang kapan, di mana dan mengapa hutan dimusnahkan tiap minggunya.

“Setelah mengidentifikasi titik panas ini, tim kami menjangkau mitra-mitra di lapangan untuk menemukan rincian lebih lanjut tentang apa yang sedang terjadi,” kata Katie Fletcher, juru bicara GFW dalam komentarnya melalui surat elektronika.

GFW mengatakan dalam tanggapannya bahwa perbedaan tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan dalam sistem pengukuran dan kemampuan INPE, seperti melihat periode waktu yang berbeda dan kemungkinan perbedaan bagaimana kebakaran hutan dihitung.

“Meski begitu para ahli kami sangat yakin, telah terjadi perubahan besar dalam perlindungan hutan di wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Kami telah melihat secara langsung pada citra satelit kasar dan sumber data lainnya yang mengindikasikan adanya gangguan di wilayah Kayapo,” demikian dalam surat tersebut.

Prakarsa GFW akan membantu memantau hutan dan melindungi hak atas tanah di tengah pemotongan anggaran ke institusi di Brazil yang bertanggung jawab untuk melindungi masyarakat adat, demikian Barbara Zimmerman, yang memimpin Dana Pelestarian Internasional untuk urusan Kanada di Kayapo.

Sekitar 8.000 warga Kayapo tinggal di lebih dari 11 juta hektar lahan yang dilindungi undang-undang, satu dari sedikit sisa hutan yang tidak terjamah di ujung Amazon, demikian GFW.

“Kelompok adat lainnya di Kayapo benar-benar bergantung pada diri mereka sendiri,” kata Zimmerman dari ICF, yang membantu GFW dalam penelitiannya.

“Pemerintah tidak hadir …. Tidak ada hukum,” katanya.

Pejabat dari badan urusan pribumi Brasil, Fuai, tidak segera dapat dimintai komentar.

GFW meluncurkan aplikasi telepon seluler pada September yang mengarahkan penduduk pribumi, pengelola hutan dan petugas penegak hukum ke daerah-daerah terpencil di mana hutan dimusnahkan, sehingga mereka dapat menangkap foto dan memasukkan data tentang penggundulan hutan.

Tempat teratas lain dalam daftar “Tempat untuk Diperhatikan” minggu ini adalah Republik Demokratik Kongo, Indonesia dan Papua Nugini.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami