Ekonomi

Buka Kran Ekspor Benur Positif Jika Tak Libatkan Kroni

BTN iklan

Jakarta, 8/7 – LEI Polemik soal pembukaan kran ekspor benih lobster atau benur, perlu disikapai secara arif, karena masing-masing kebijakan punya dampak positif dan negatifnya. Namun akan lebih baik dan punya manfaat lebih kepada para nelayan jika ijin ekspor itu tidak hanya diberikan oleh para kroni atau lingkaran keluarga pejabat.
Pembukan kran ekspor lobter akan bermanfaat jika ijinya tidak diberikan kepada segelintir orang yang karena ada kedekatan mislanya mantan tim ses Capres 2019, atau pengusaha yang berjejaring dengan partai politik, kata pengamat ekonomi dan kelautan, Dewa Adhyatma, di Jakarta, Rabu.
Ia dimintai tanggapannya terkait adanya polemik keluarnya Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan No 12 Tahun 2020 yang diterbitkan 5 Mei pekan silam.
Tahun 2015 ekspor benur di kunci oleh Menteri Kelautan sebelumnya, Susi Pudjiastuti, karena ekspor jenis benur dinilai merusak lingkungan dan merugikan nelayan peternak benur. Namun setelah di kunci, tak semua nelayan merasa nyaman, karena harganya jatuh, dan tidak ada bantuan ilmu dan teknologi dari pemerintah sehingga banyak benur yang ditangkap oleh nelayan menjadi sia-sia. Jika dijual di pasar dalam negeri harganya sangat murah.
Dewa alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga di lembaha penelitinan milik asing menyebutkan, saat Susi Pudjiastuti menutup kran ekpor, tidak memberikan jalan keluar, bagaimana cara membesarkan dan menjual baby lobster di pasar lokal agar tidak jatuh. Benur itu hargaanya relatif murah, sekitar Rp2.000 sd. 3000 per ekornya. Namun setelah dibesarkan harganya dapat lompat ratusan persen, menjadi sekitar Rp139 ribu per ekornya.
Oleh karenanya, yang terpenting saat ini selain membuka kran ekspor, juga memberikan penambahan ilmu, modal dan teknologi agar para petani udang tidak terus menerus berburu benur tetapi mulai diajarkan untuk menangkaran hingga menjadi besar dan dapat dijual dengan harga tinggi.
Saat adanya penutupan ekspor, dikabarkan terjadi penyelundupan yang gila-gilaan. Sebuah sumber menyebutkan, dalam satu tahun terjadi 10 kasus ekspor ilegal dengan nilai Rp27,3 miliar atau 254,9 ribu baby lobster. Bahkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menengarai adanya uang masuk di sektor itu lebih dari Rp900 miliar.
Jika data tersebut benar, kata Dewa Adhyatma, sebaiknya kran ekspor dibuka dengan syarat, perijianan diberikan kepada eksportir beneran. Bukan eksportir bayangan. Eksportir bayangan, suatu perusahaan hanya punya modal ijin tetapi tak punya modal uang dan tak punya jaringan pemasaran di luar negeri. Ia tak lebih dari calo atau makelar, kata Dewa.
Sebelumnya, Polemik rencana pembukaan keran ekspor benih lobster atau benur sampai ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Presiden akhirnya ikut buka suara dengan memandang, kebijakan terkait ekspor benur harus mempertimbangkan aspek lingkungan dan juga pemanfaatan ekonomi bagi nelayan. Menurutnya dua aspek tersebut harus seimbang, tak boleh berat sebelah.

“Yang paling penting, negara mendapat manfaat, nelayan mendapatkan manfaat, lingkungan tidak rusak. Yang paling penting itu. Nilai tambah ada di dalam negeri,” tegasnya, usai meresmikan Tol Balikpapan-Samarinda.

Dijelaskan, keseimbangan itu yang penting. Bukan hanya bilang jangan. Mestinya keseimbangan itu yang diperlukan. Jangan juga awur-awuran semua ditangkapin diekspor, itu juga enggak benar, katanya.

Seperti diketahui, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mewacanakan akan membuka keran ekspor benih lobster. Padahal, oleh menteri sebelumnya, Susi Pudjiastuti, ekspor benur dilarang lewat Peraturan Menteri (Permen) Nomor 56 Tahun 2016, tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Indonesia.

Permen 56/206 akan direvisi oleh Edhy Prabowo. Ia beralasan, dengan membebaskan ekspor benih lobster dengan ketetapan aturan, maka akan menurunkan nilai jual dari ekspor ilegal, katanya.
**yus**

 

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami