Internasional

Buku Startup dan Entrepreneurship Pilihan

BTN iklan

(LEI)-Di zaman yang serba cepat dan kompetitif ini, para entrepreneur dan profesional sudah tidak mempunyai banyak ruang untuk melakukan kesalahan.

Hanya orang bodoh yang belajar dari kesalahan sendiri, sedangkan orang bijaksana belajar dari kesalahan orang lain.

 Otto von Bismarck, Negarawan Prussia (bagian dari Jerman) tahun 1862-1890

Membaca buku adalah cara paling mudah dan cepat untuk belajar dari kesalahan orang lain. Dengan membaca, kamu bisa menemukan beberapa hal baru dan memanfaatkannya dalam keseharian profesional dan pribadi kamu.

Pertanyaaan besarnya adalah buku apa yang harus saya baca?

Di bawah ini Tech in Asia Indonesia telah menghadirkan daftar buku bertema kewirausahaan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan bisnis sekarang, khususnya dunia startup. Kami memilih berbagai topik, mulai dari kisah sukses (dan gagal!) dari startup dalam dan luar negeri, pengembangan pribadi, sampai dengan pengembangan bisnis.


Crushing It!: How Great Entrepreneurs Build Their Business and Influence-and How You Can, Too

Crushing It | Cover 1

Pada tahun 2009, penulis dan entrepreneur terkenal Gary Vaynerchuk (biasa dikenal dengan nama GaryVee) merilis sebuah buku berjudul Crush It! Why Now Is the Time to Cash in on Your Passion. Ia memberikan beberapa prinsip tentang cara menjadi sukses dalam bisnis dan hidup yang ditulis dalam buku tersebut. Menurutnya, untuk menjadi sukses, seorang entrepreneur perlu membangun personal brand yang baik.

Sembilan tahun berselang, Vaynerchuk pun kembali dengan lanjutan dari buku tersebut yang berjudul Crushing It! Dalam buku tersebut, ia menampilkan kisah-kisah sukses dari orang yang berhasil mengimplementasikan prinsip bisnis di dalam buku sebelumnya.

GaryVee juga menjelaskan tentang fenomena baru tentang pentingnya penggunaan media sosial. Menurutnya, rahasia kesuksesan banyak orang di dunia saat ini (termasuk dirinya) adalah pemahaman mereka tentang media sosial dan kesungguhan untuk bisa memanfaatkan platform-platform tersebut.

Karena itu, ia pun menampilkan kisah sukses berbagai orang, mulai dari tukang leding hingga atlet ski es profesional. GaryVee juga memberikan tip untuk bisa menjadi populer di:

  • Platform lama seperti Twitter, Facebook, YouTube, Instagram, Pinterest, dan Snapchat.
  • Platform podcast seperti Spotify, Soundcloud, iHeartRadio, dan iTunes.
  • Platform baru seperti TikTok dan Musical.ly.

Tertarik untuk membaca buku terbaru GaryVee ini? Kamu bisa membelinya di sini


Never Lost Again: The Google Mapping Revolution That Sparked New Industries and Augmented Our Reality

Never Lost Again | Cover 1

Never Lost Again adalah buku yang menceritakan tentang kisah sukses sebuah layanan peta yang membuat hidup kita jadi lebih mudah ketika berkunjung ke berbagai lokasi di seluruh dunia, yaitu Google Maps. Semua berawal dari Keyhole, sebuah startup kecil yang mempunyai layanan peta. Startup tersebut didirikan oleh seorang pemuda asal Texas yang bernama John Hanke.

Sempat hampir tutup karena krisis (tech bubble), Keyhole akhirnya bisa bertahan berkat kontrak dengan CIA. Nama mereka kemudian menjadi populer setelah layanannya digunakan CNN untuk memberitakan kondisi perang di Irak.

Google akhirnya mendengar kisah mereka dan memutuskan untuk mengakuisisi Keyhole. Layanan Keyhole kemudian diluncurkan ulang dalam bentuk Google Maps dan Google Earth. Keyhole kini kembali menjadi perusahaan independen setelah lepas dari Google, dan baru-baru ini mereka menjadi perusahaan di balik game terkenal Pokémon GO.

Kilday merupakan Direktur Pemasaran untuk Keyhole dan Google Maps. Ia telah berada di posisi tersebut sejak masa-masa awal. Dalam buku ini, ia berusaha mengungkap kisah di balik layar dari pengembangan teknologi tersebut, serta bagaimana teknologi-teknologi mutakhir seperti mobil tanpa awak dan virtual reality (VR) bisa mengambil manfaat dari apa yang telah mereka kerjakan.

Buku Never Lost Again ini bisa kamu dapatkan di tautan berikut


Straight Talk for Startups: 100 Insider Rules for Beating the Odds

Straight Talk for Startups | Cover

Untuk membangun sebuah startup yang sukses, seorang founder harus melakukan berbagai eksperimen, yang mayoritas berakhir dengan kegagalan. Namun terkadang eksperimen yang mereka lakukan sebenarnya sudah pernah para founder lain kerjakan. Lalu untuk apa para foundertersebut harus kembali mengulangi kesalahan yang sama?

Hal inilah yang mendorong seorang investor asal Silicon Valley bernama Randy Komisar menulis buku berjudul Straight Talk for Startups. Lewat buku berjumlah 304 halaman ini, ia memberikan seratus tip penting untuk para founder. 

Berikut beberapa di antaranya:

  • Mengapa kita harus membuat lebih dari satu rencana finansial?
  • Mengapa merekrut seorang ahli secara paruh waktu lebih baik daripada merekrut siswa magang secara purnawaktu?
  • Mengapa kita tidak boleh terlalu awal masuk ke dalam sebuah bisnis?
  • Mengapa kita harus berhati-hati dalam mengelola unit economic dan biaya operasional?
  • Mengapa kegagalan biasanya disebabkan karena eksekusi yang buruk, bukan inovasi yang tidak sukses?

Tertarik untuk membaca buku ini? Kamu bisa membelinya di tautan berikut


The Fourth Age: Smart Robots, Conscious Computers, and the Future of Humanity

The Fourth Age | Cover

Menurut penulis sekaligus entrepreneur bernama Byron Reese, manusia telah tiga kali menemukan teknologi yang mengubah peradaban.

  • Seratus ribu tahun lalu, manusia menemukan api yang kemudian membuat kita menciptakan bahasa.
  • Sepuluh ribu tahun lalu, manusia menemukan sistem pertanian, yang kemudian membuat kita bisa membangun kota dan persenjataan.
  • Lima ribu tahun lalu, manusia menemukan roda dan tulisan, yang kemudian membuat kita bisa membuat sistem negara.

Menurut Reese, saat ini manusia berada di pintu gerbang keempat dari revolusi perkembangan teknologi. Hal ini disebabkan oleh kehadiran kecerdasan buatan (AI) dan robot.

Reese menjelaskan proses bagaimana manusia mencapai tahap kebudayaan seperti sekarang, dan topik seperti apa yang sebaiknya kita diskusikan untuk menyambut perubahan. Pembaca juga akan mendapat wawasan tentang berbagai isu seperti: pelanggaran privasi dan berita palsu di era media sosial, bahaya dari kecerdasan buatan, hingga penerapan teknologi robot di bidang transportasi, kesehatan, dan e-commerce.

“Teknologi bisa memperkuat dan melengkapi manusia. Namun saat ini banyak orang mengatakan manusia semestinya takut pada teknologi. Dalam buku ini, saya menolak hal tersebut dan menawarkan perspektif berbeda tentang bagaimana teknologi bisa membawa kedamaian dan kesejahteraaan.”

Kunjungi tautan ini apabila kamu ingin membaca buku The Fourth Age


 The Creative Curve: How to Develop the Right Idea, at the Right Time

The Creative Curve Cover 1

Menurut seorang entrepreneur di bidang Big Data bernama Allen Gannett, ada miskonsepsi besar di industri kreatif saat ini. Banyak yang mengatakan bahwa orang-orang yang sangat kreatif (genius) memang mendapatkan kemampuan tersebut dari Tuhan, dan orang-orang yang tidak genius tak mungkin menyamai prestasi mereka. Namun menurut Allen, hal tersebut adalah pemahaman yang tidak benar.

Allen menunjukkan bahwa ada sebuah ilmu yang bisa dipelajari untuk menghasilkan sebuah produk kreatif yang sukses. Untuk mendukung pendapat tersebut, ia pun menunjukkan beberapa penelitian yang menunjukkan hal itu.

Ilmu tersebut bahkan juga bisa kamu manfaatkan ketika membuat karya kreatif, seperti mengarang lagu, menulis sebuah novel, atau membuat kampanye pemasaran yang sukses. Hal serupa pun pernah diangkat penulis terkenal Malcolm Gladwell dalam buku yang berjudul Outliers.

Dalam buku The Creative Curve ini, kamu bisa mempelajari beberapa hal berikut:

  • Bagaimana cara tokoh-tokoh terkenal, seperti founder Reddit Alexis Ohanian dan Chief Content Officer Netflix Ted Sarandos, mencapai kesuksesan.
  • Mitos-mitos yang salah tentang proses pembuatan produk kreatif.
  • Bagaimana buku Harry Potter bisa mencapai kesuksesan dengan memanfaatkan elemen-elemen yang telah ada dalam buku anak-anak lain, serta bagaimana sebuah lagu bisa mencapai popularitas dalam waktu cepat.

Tertarik membaca buku ini? Langsung beli di tautan berikut


Live Work Work Work Die: A Journey into the Savage Heart of Silicon Valley

Live Work Work Work Die Cover 1

Selama beberapa tahun terakhir, banyak bermunculan buku-buku yang mengungkap kisah menarik tentang pengalaman bekerja di sebuah startup. Kamu bisa membaca tentang pengalaman Antonio Garcia Martinez bekerja di Facebook dalam buku yang berjudul Chaos Monkeys. Selain itu, kamu pun bisa menyimak kisah lucu nan menyebalkan Dan Lyons saat bekerja di Hubspot dalam buku berjudul Disrupted.

Buku Live Work Work Work Die (LWWWD) ini juga mengangkat tema yang serupa. Jurnalis Corey Pein tidak mengikuti jejak pendahulunya dengan bergabung di sebuah startup. Ia justru pergi ke Silicon Valley untuk mendirikan startup baru, mendapatkan uang banyak, dan menuliskan pengalaman tersebut.

Pein memulai perjalanannya dengan mengunjungi berbagai konferensi teknologi, mengajukan ide bisnisnya di hadapan para investor, hingga berbincang dengan banyak tokoh (yang terkadang bersikap sangat aneh) di dunia teknologi. Dari situ, ia mendapatkan banyak pengalaman unik dan bermanfaat bagi para pembaca yang ingin masuk ke dunia startup.

Buku ini bisa kamu beli di tautan berikut


Conspiracy: Peter Thiel, Hulk Hogan, Gawker, and the Anatomy of Intrigue

Conspiracy Cover 2

Pada tahun 2007, anak perusahaan Gawker Media yang bernama Valleywagmemublikasikan berita mengejutkan tentang pendiri Paypal, Peter Thiel, yang menyatakan investor startup terkenal tersebut merupakan seorang gay. Meskipun hal ini sebenarnya telah diketahui oleh teman dekat dan keluarga Thiel, namun ia tetap tidak ingin informasi tersebut disebarluaskan ke masyarakat umum. Sejak saat itu, Thiel pun seperti menyimpan dendam kepada Valleywag dan Gawker Media.

Thiel mendapat kesempatan untuk melancarkan aksi balas dendam ketika terjadi perselisihan antara Gawker Media dengan mantan pegulat profesional, Hulk Hogan. Hogan menuntut Gawker Media karena memublikasikan video pornonya ketika berselingkuh. Dengan bantuan Thiel, Hogan berhasil membuat Gawker Media membayar denda mencapai US$140 juta (sekitar Rp1,8 triliun). Akibatnya, CEO Nick Denton memutuskan menutup Gawker Media.

Dalam buku berjudul Conspiracy ini, penulis Ryan Holiday mengajak kita mengikuti perjalanan panjang Thiel yang secara diam-diam berhasil membuat Gawker Media bangkrut. Selain itu, kamu juga bisa mendapatkan gambaran jelas tentang:

  • Bagaimana Peter Thiel, dengan uang dan pengaruh yang ia miliki, bisa menghancurkan Gawker Media?
  • Mengapa Thiel bisa bertahan menunggu selama hampir sepuluh tahun, dan tetap menyimpan dendam kepada Gawker Media?
  • Apa pengaruh tindakan Thiel ini terhadap kebebasan pers di Amerika Serikat?
  • Bagaimana seharusnya sebuah media memublikasikan berita sensasional agar tidak dianggap melanggar hukum?

Jika ingin membaca buku ini, kamu bisa membelinya di tautan berikut


The Space Barons: Elon Musk, Jeff Bezos, and the Quest to Colonize the Cosmos

The Space Barons Cover 2

The Space Barons adalah kisah tentang sekumpulan miliarder asal Amerika Serikat yang berusaha mengembalikan kejayaan program penjelajahan luar angkasa. Mereka rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membiayai berbagai riset dan penelitian, dengan tujuan membawa umat manusia menjelajah angkasa luar lebih jauh lagi.

Beberapa tokoh sentral yang dibahas di buku ini adalah founder Tesla dan Space X Elon Musk, founder Amazon Jeff Bezos, founder Microsoft Paul Allen, serta founder Virgin Group Richard Branson. Penulis buku ini, Christian Davenport, berusaha menjelaskan apa saja yang telah mereka berempat lakukan dalam misi penjelajahan luar angkasa.

Meski mempunyai mimpi yang besar, namun pada kenyataannya para miliarder tersebut harus menghadapi berbagai hambatan, mulai dari tantangan teknologi, hingga pertarungan ego dengan perusahaan dan lembaga riset luar angkasa konvensional. Di akhir buku ini, kamu pun bisa mengetahui bagaimana sebenarnya mimpi para miliarder tersebut di masa depan.

Nikmati buku tersebut dengan membelinya di tautan berikut


Brotopia: Breaking Up the Boys’ Club of Silicon Valley

Contoh Brotopia 2

Brotopia merupakan sebuah buku yang mengungkap sisi lain dari Silicon Valley, daerah yang sering disebut sebagai pusat perkembangan startupdunia. Menurut sang pengarang, jurnalis Bloomberg bernama Emily Chang, Silicon Valley sangat didominasi oleh para pria yang sering menentukan aturan sesuai keinginan mereka.

Hal ini pun membuat para perempuan di Silicon Valley harus menghadapi atmosfer tempat kerja yang buruk, hingga pelecehan seksual. Beberapa investor bahkan ada yang membuat janji pertemuan dan acara networkingdalam bentuk pesta seks.

Dalam buku ini, Chang berusaha mengungkap beberapa hal berikut:

  • Bagaimana Silicon Valley bisa menjadi tempat yang sarat seksisme?
  • Bagaimana dominasi pria bisa begitu kuat terlepas dari banyaknya perusahaan yang menyerukan kesetaraan gender?
  • Bagaimana para perempuan kini akhirnya bisa menyuarakan pendapat mereka?
  • Cara beberapa tokoh perempuan di Silicon Valley seperti Sheryl Sandberg, Susan Wojcicki, hingga Marissa Mayer, bisa meraih kesuksesan di tengah dominasi para pria.

Tertarik untuk membeli buku ini? Kunjungi tautan berikut


How to Turn Down a Billion Dollars: The Snapchat Story

Snapchat Story | COver 2

Meski hanya berawal dari sebuah ide di bangku kuliah, Snap (sebelumnya bernama Snapchat) berhasil meraih banyak pengguna dan mempunyai valuasi di atas US$1 miliar (lebih dari Rp14 triliun). Pada tahun 2013, sang founder Evan Spiegel dan Bobby Murphy bahkan mengejutkan banyak pihak saat mereka menolak tawaran akuisisi senilai US$3 miliar (sekitar Rp40 triliun) dari Facebook.

Dalam buku ini, jurnalis teknologi bernama Billy Gallagher berusaha mengungkap sejarah perkembangan Snap yang bermula dari seorang mahasiswa bernama Reggie Brown yang menyesal telah mengirim sebuah foto. Meski berperan sebagai pencetus ide awal, Brown justru harus rela melepas sahamnya di perusahaan tersebut, dan melanggengkan jalan bagi Spiegel menuju puncak popularitas.

Dengan membaca buku ini, kamu bisa menyimak beberapa hal:

  • Kisah unik perjalanan awal Snap, yang bisa diketahui Gallagher karena ia merupakan teman kuliah dari ketiga founder.
  • Berbagai perselisihan yang melanda Snap, termasuk yang terjadi antara para founder.
  • Bagaimana Snap bisa mengubah sebuah aplikasi yang terkesan main-main, menjadi sebuah perusahaan yang layak masuk bursa saham.
  • Bagaimana para founder Snap berusaha untuk terus melakukan eksperimen dan berinovasi untuk menjaga kesuksesan perusahaan.

Buku How to Turn Down a Billion Dollars ini bisa kamu dapatkan di tautan berikut


Bad Blood: Secrets and Lies in a Silicon Valley Startup

Bad Blood | Cover 2

Bad Blood merupakan buku yang menceritakan secara lengkap apa yang terjadi terhadap Theranos, sebuah startup kesehatan asal Amerika Serikat yang berhasil mendapat investasi lebih dari US$1 miliar (sekitar Rp14 triliun) namun gagal menunjukkan bahwa mereka bisa membuat produk yang dijanjikan. Baru-baru ini, mereka pun harus berhadapan dengan penegak hukum di negeri Paman Sam atas tuduhan penipuan.

John Carreyrou, sang penulis, merupakan salah satu jurnalis pertama yang mengungkap keanehan-keanehan dalam startup yang didirikan Elizabeth Holmes tersebut. Untuk menulis buku ini, ia pun mewawancarai berbagai pihak yang pernah berhubungan dengan Theranos, termasuk mantan karyawan yang terlibat langsung dalam pengembangan produk di sana.

Beberapa hal yang bisa kamu ketahui dengan membaca buku ini adalah:

  • Proses pengembangan teknologi yang terjadi di belakang Theranos.
  • Cara Theranos “menjual” produk kepada klien dan para investor, meski sebenarnya produk tersebut belum terbukti bisa berjalan dengan baik.
  • Bagaimana sang CEO Elizabeth Holmes membangun persona yang serupa dengan Steve Jobs, dan berhasil meyakinkan banyak orang untuk bergabung dengan dirinya.
  • Kesalahan-kesalahan Theranos dalam membangun tim dan berhadapan dengan media.

Ingin mendapatkan buku Bad Blood? Klik tautan ini


Measure What Matters: How Google, Bono, and the Gates Foundation Rock the World with OKRs

Measure What Matters | Cover 2

Pada tahun 1999, investor modal ventura yang bernama John Doerr bertemu Larry Page dan Sergey Brin, founder dari Google. Saat itu ia mengerti betul bahwa kedua orang tersebut mempunyai teknologi yang luar biasa hebat, semangat dan ambisi yang tinggi, namun memiliki kekurangan dalam kemampuan membangun perusahaan.

Itulah mengapa selain memberikan investasi sebesar US$12,5 juta (sekitar Rp97 miliar) kepada Google pada tahun 1999 silam, ia juga mengenalkan metode penentuan target bernama Objectives and Key Results (OKR). Doerr sendiri mendapatkan metode itu di tahun 1970-an, saat ia masih bekerja untuk Intel. Hingga kini, OKR menjadi metode yang digunakan oleh Google dan beberapa startup dalam dan luar negeri.

Beberapa hal yang bisa kamu dapatkan dari buku ini:

  • Cara menerapkan OKR di perusahaan kamu dan manfaat yang bisa didapat.
  • Bagaimana cara terbaik untuk memahami metode OKR.
  • Bagaimana OKR bisa membantu Google, Intel, dan perusahaan-perusahaan lain.

Dapatkan buku Measure What Matters di sini


When: The Scientific Secrets of Perfect Timing

When | Cover 4

Untuk bisa sukses dalam kehidupan, kamu tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan keahlian. Namun terkadang, ketepatan waktu dalam mengambil keputusan (timing) juga merupakan sesuatu yang sangat penting.

Kapan kamu memutuskan untuk menerima sebuah tawaran kerja, atau kapan kamu akhirnya melamar pasangan kamu, bisa mengubah jalan hidup kamu untuk selama-lamanya.

Daniel H. Pink dalam buku terbarunya yang berjudul When mencoba mengangkat hal-hal semacam itu. Ia berusaha menunjukkan bahwa ada ilmu yang bisa kamu gunakan untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu.

Beberapa hal yang bisa kamu pelajari dalam buku ini adalah:

  • Bagaimana caranya membuat agenda harian yang ideal?
  • Mengapa kamu harus menghindari datang ke rumah sakit di siang hari?
  • Kapan waktu yang tepat untuk keluar dari pekerjaan atau memutuskan untuk menikah?

Kamu bisa mendapatkan buku When di sini


Six Billion Shoppers: The Companies Winning the Global E-Commerce Boom

Six Billion Shoppers | Cover 3

Dengan buku Six Billion Shoppers ini, penulis Porter Erisman berusaha membawa kita ke negara-negara yang padat penduduk, seperti Nigeria, Cina, India, Amerika Latin, serta Asia Tenggara. Ia menunjukkan bagaimana e-commerce bisa memberikan perubahan yang sangat besar di negara-negara tersebut, jauh lebih besar daripada di negara Barat.

Pertumbuhan e-commerce tersebut dipicu oleh tiga hal utama:

  • Adopsi internet yang cepat
  • Peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah
  • Model bisnis yang benar-benar bisa menyelesaikan masalah di sana.

Setelah mengetahui potensi tersebut, Erisman pun menjelaskan bagaimana kamu bisa memanfaatkannya, dan membangun perusahaan e-commercebesar di negara-negara tersebut.

Tertarik untuk membaca buku ini? Dapatkan di tautan berikut


Entering Startupland: An Essential Guide to Finding the Right Job

Entering Startupland | Cover 2

Banyak orang masuk ke dunia startup dengan pemikiran bahwa bekerja di startup sangat menyenangkan. Padahal, nyatanya kamu bisa saja dihadapkan pada situasi yang rumit, kacau, dan membutuhkan kerja yang sangat keras.

Itulah mengapa dalam buku Entering Startupland ini, penulis Jeffrey Bussgang berusaha menjelaskan tentang hak dan kewajiban karyawanstartup di semua posisi. Mulai dari posisi developer, pemasaran, growth, hingga penjualan.

Dapatkan buku Entering Startupland ini di tautan berikut


Powerful: Building a Culture of Freedom and Responsibility

Powerful Netflix | Cover 3

Membangun tim dalam sebuah startup bukanlah hal yang mudah. Kamu harus merekrut orang baru dengan tepat, memberikan motivasi, serta mengembangkan keahlian dari karyawan lama. Patty McCord bisa dibilang cukup sukses melakukan hal tersebut di Netflix, dan ia pun menjelaskan apa yang ia lakukan lewat buku Powerful ini.

Beberapa hal yang ia tekankan dalam membangun tim yang baik adalah pentingnya kejujuran dalam ruang kerja, serta penerapan cara yang tepat dalam memotivasi karyawan. Menurutnya, karyawan harus dimotivasi dengan cara diberi pekerjaan yang menantang, bukan dengan tunjangan atau bonus.

Buku ini bisa kamu dapatkan di sini


The Startup Way: Making Entrepreneurship a Fundamental Discipline of Every Enterprise

The Startup Way | Cover 1

Sukses dengan buku The Lean Startupentrepreneur terkenal Eric Ries kembali lagi dengan buku startup baru yang bertajuk The Startup Way. Berbeda dengan buku sebelumnya yang lebih fokus pada startup tahap awal, kini Ries justru fokus untuk mengantarkan startup yang telah berkembang agar bisa tumbuh lebih besar.

Ia pun menyajikan analisisnya terhadap perusahaan besar seperti General Electric, Toyota, serta para startup raksasa seperti Amazon, Facebook, hingga Airbnb, dan Twilio.

Tertarik dengan buku The Startup Way? Kamu bisa dapatkan lewat tautan ini


The Four: The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google

The Four Google | Cover 2

Saat ini, ada empat perusahaan teknologi raksasa di dunia, yaitu Amazon, Apple, Facebook, dan Google. Sadar atau tidak, keempat perusahaan tersebut telah “mencengkeram” kehidupan manusia, hingga hampir mustahil bagi kita untuk menghindar dari pengaruh mereka.

Bagaimana mereka melakukan itu? Dan apa yang kita bisa pelajari dari strategi mereka? Hal inilah yang coba dijawab oleh seorang pengamat dunia teknologi yang bernama Scott Galloway dalam buku startup berjudul The Four ini.

Buku ini sangat cocok bagi kamu yang ingin berkompetisi dengan keempat raksasa teknologi dunia tersebut, menjalin kemitraan dengan mereka, atau sekedar ingin hidup dengan nyaman di bawah naungan mereka.

Buku The Four ini bisa kamu dapatkan di tautan berikut

(idtechinasia)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami