EkonomiFinansial

Bunga Acuan Akan Bertahan

BTN iklan

JAKARTA/Lei –Bank Indonesia diperkirakan mengambil keputusan untuk mempertahankan dosis kebijakan moneter. Arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi salah satu dasar pertimbangan bank sentral tersebut.

Posisi kebijakan moneter BI akan diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada Kamis (15/3).  Namun, seluruh ekonom dari berbagai instansi dalam survei Bisnis  bulan ini mengestimasi tidak akan ada perubahan posisi Bank Indonesia 7-day (reverse) repo rate (7DRR) yang hingga saat ini masih berada di level 4,75%.

Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk. Akbar Suwardi berpendapat keputusan arah kebijakan moneter pada bulan ini masih akan didominasi dengan rencana kenaikan Fed Funds Rate (FFR), seperti yang diungkapkan otoritas moneter akhir-akhir ini.

“Sebenarnya yang menjadi pertanyaan adalah seberapa cepat dan berapa besar kenaikan tersebut. Kalau kenaikannya masih sesuai dengan perkiraan sebelumnya, sekitar tiga kali dan setiap kali naik 25 basis poin, kami pikir stancemoneter BI masih akan sama,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/3).

Tidak bisa dipungkiri, kenaikan FFR akan berdampak pada nilai tukar rupiah. Namun, opsi menambah dosis pengetatan moneter pada bulan ini terlalu dini, terlebih volatilitas nilai tukar rupiah masih cukup stabil di tengah tren foreign net buy.

Pada saat yang bersamaan, Akbar memperkirakan Otoritas Moneter akan menghindari kesan adanya langkah berlawanan dengan upaya akselerasi pertumbuhan ekonomi, yang saat ini terus menunjukkan tren pembalikan pascaperlambatan.

Adapun Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengatakan sinyal kenaikan FFR memang sudah sangat kuat jika melihat kenaikan yield obligasi, inflasi dan keadaan pasar kerja di Amerika Serikat.

Dalam kondisi ini, opsi keputusan yang akan dilihat BI hanya mempertahankan atau menaikkan 7DRR. Opsi penurunan sudah tidak dilihat walapun sebenarnya ruang itu masih terbuka mengingat indikator surplus neraca perdagangan yang meningkat.

Dari pengalaman kenaikan FFR terakhir, menurutnya, dampak yang ditimbulkan tidak terlalu besar karena kenaikannya cenderung marjinal. Kondisi ini, sambung Faisal, akan menjadi refleksi BI untuk tidak terlalu reaktif menaikkan tingkat 7DRR.

Tekanan Inflasi

Salah satu indikator yang akan dilihat BI yakni tingkat inflasi. Menurutnya, inflasi pada Januari 2017 yang naik cukup tajam bukan dipengaruhi demand, sehingga hal ini tidak semata-mata harus direspons dengan kebijakan moneter.

“Kalau tidak ada kebijakan yg mempengaruhi administered prices, inflasi awal tahun semestinya sangat rendah karena daya beli masyarakat masih tertekan. Inflasi volatile food juga kemungkinan baru akan bergejolak pada Mei,” kata Faisal.

Ekonom DBS Bank Gundy Cahyadi mengestimasi tidak ada perubahan posisi 7DRR bulan ini tapi akan ada kemungkinan naik mengarah naik 25 basis poin pada kuartal III/2017. Langkah ini dilakukan untuk melakukan normalisasi.

“BI kemungkin akan lebih agresif jika inflasi naik lebih cepat dari yang dari estimasi dan/atau rupiah melemah lebih dari antisipasi awal,” kata Gundy.

Eric Sugandi, Chief Economist SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC) menambahkan inflasi sendiri diperkirakan sedikit lepas dari tekanan setidaknya dua bulan ini karena ada momentum panen raya.

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih berpendapat penjagaan inflasi menjadi krusial terutama untuk semester I/2017. Oleh karena itu, pihaknya meminta agar ada penundaan kenaikan tarif dasar listrik yang semula direncanakan pada Mei 2017.

Lana juga memproyeksi ada kenaikan suku bunga acauan BI tahun ini. Namun, menurutnya, waktu yang tepat untuk menambah dosis pengetatan moneter yakni awal semester II/2017. Hal ini dengan asumsi ada dorongan ekonomi dari belanja pemerintah.

“Titik terendah kan 2015 lalu, jadi harus dijaga naik walapun sedikit demi sedikit. Jangan sampai turun lagi. Kalau enggak bisa mengikuti pakemnya, istilahnya cerita wayangnya jadi kacau,” tuturnya.

bisnis

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami