Internasional

Buntut Keputusan Trump, Iran Siap Mulai Kembali Pengayaan Uranium

BTN iklan

Teheran (LEI) -Iran mengatakan siap untuk memulai kembali proses pengayaan uranium, yang menjadi kunci dalam pengembangan energi dan juga senjata nuklir.

Hal itu disampaikan Presiden Iran, Hassan Rouhani, untuk menanggapi keputusan Presiden Donald Trump bahwa Amerika Serikat akan mundur dari kesepakatan nuklir Iran, yang ditandatangani tahun 2015 lalu.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, maka Iran akan membatasi progam nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi yang sebelumnya diterapkan oleh PBB, Uni Eropa, dan AS.

“Amerika Serikat sudah mengumumkan mereka tidak menghormati komitmen-komitmen. Saya sudah memerintahkan Organisasi Energi Atom Iran untuk siap memulai pengayaan uranium pada tingkat industri,” tutur Presiden Rouhani.

Dia menambahkan akan ‘menunggu selama beberapa pekan’ untuk lebih dulu berbicara dengan sekutunya dan penandatanganan lain dari kesepakatan tersebut.

“Jika kami mencapai tujuan dengan anggota lain dari kesepakatan, maka kesepakatan itu akan tetap berlaku.”

Presiden TrumpPresiden Trump memang amat kritis atas kesepakatan nuklir yang dicapai tahun 2015, yang membatasi aktifitas nuklir Iran. (AFP)

Walau sekutu Trump di Eropa menyarankan agar kesepakatan nuklir itu tetap dipertahankan, mundurnya AS berarti penerapan kembali sanksi ekonomi mereka atas Iran.

“Saya mengumumkan hari ini bahwa Amerika Serikat akan mundur dari kesepakatan nuklir Iran,” kata Trump dengan menambahkan bahwa kesepakatan tersebut ‘busuk dan bobrok’ yang membuatnya malu sebagai warga negara.

Saat mengumumkannya di Gedung Putih, Selasa (08/05), Trump juga mengatakan ‘siap, akan, dan mampu untuk merundingkan kesepakatan baru dengan Iran jika negara itu bersedia’.

Presiden Trump memang amat kritis atas kesepakatan nuklir yang dicapai tahun 2015 lalu, yang disebut dengan Joint Comprehensive Plan of Action, JCPOA, atau Rencana Aksi Menyeluruh Bersama.

Berbagai reaksi

Prancis, Jerman, dan Inggris -yang berupaya untuk mengubah pikiran Trump- mengatakan mereka menyesalkan keputusan Amerika Serikat.

Sementara Kementrian Luar Negeri Rusia, yang juga ikut menandatangani kesepakatan, mengatakan keputusan Trump ‘amat mengecewakan’.

Israel, Benjamin NetanyahuPM Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan ‘sepenuhnya mendukung keteguhan’ Trump. (AFP)

Mantan Presiden Barack Obama menulis pesan di Facebook bahwa kesepakatan itu berjalan dan untuk kepentingan Amerika Serikat.

“Berjalan menjauh dari JCPOA membuat kita membelakangi sekutu-sekutu paling dekat Amerika dan kesepakatan yang dirundingkan oleh para diplomat, ilmuwan, dan profesional kita yang ulung.”

Namun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan ‘sepenuhnya mendukung keteguhan’ Trump untuk mundur dari kesepakatan ‘yang membawa petaka’.

Dan Arab Saudi -yang merupakan seteru Iran di wilayah- menyatakan ‘mendukung dan menyambut baik’ langkah Trump untuk ke luar dari kesepakatan.

Seruan agar tidak mundur

Bulan Januari, dia memperingatkan Amerika Serikat mungkin ‘akan mundur’ dari kesepakatan dengan mengumumkannya pada tanggal 12 Mei, kecuali ‘cacat yang membawa petaka’ dalam kesepakatan diperbaiki.

Namun kemudian dia mempercepat waktu untuk mengumumkan keputusan tersebut menjadi Selasa (08/05).

Bagaimanapun sejumlah pihak, termasuk Uni Eropa, melihat kesepakatan tersebut sebagai jalan terbaik untuk menghentikan Iran mengembangkan bom nuklir.

PBB juga sudah memperingatkan agar Trump tidak ke luar dari kesepakatan.

Menjelang pengumuman Presiden Trump ini, Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan negaranya akan terus menjalin hubungan konstruktif dengan dunia terkait dengan program nuklirnya.

“Fondasi kebijakan luar negeri kita adalah hubungan konstruktif dengan dunia,” tegas Presiden Rouhani dalam pidato di Teheran yang disiarkan langsung oleh televisi Iran, Selasa (08/05).

Dia mengakui Iran mungkin menghadapi kesulitan selama beberapa bulan jika Amerika Serikat mundur dari kesepakatan nuklir tahun 2015 namun, tambahnya lagi, semua kendala dapat diatasi.

Netanyahu, Iran, nuklirPM Israel, Benjamin Netanyahu, menuduh Iran masih meneruskan program nuklir untuk membuat bom atom. (EPA)

Namun beberapa hari sebelumnya, Rouhani sempat mengatakan, ‘Jika Amerika meninggalkan kesepakatan nuklir, akan menyebabkan penyesalan bersejarah.”

Saat itu, dalam pidatonya yang juga disiarkan di TV pemerintah, dia memperingatkan bahwa Iran memiliki rencana untuk menghadapi setiap kebijakan yang mungkin diambil Trump dan ‘kami akan melawannya’

Kesepakatan nuklir 2015 antara Iran, AS, Cina, Rusia, Jerman, Prancis dan Inggris itu mencabut sanksi atas Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.

Pemerintah Teheran berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya sepenuhnya untuk perdamaian dan kesepakatan tidak bisa dirundingkan kembali.

Pekan lalu, Israel mengungkapkan ‘dokumen rahasia nuklir’ yang disebut memperlihatkan bahwa Iran melakukan program senjata nuklir tersembunyi sebelum tahun 2003 dan secara rahasia tetap menguasai teknologinya, yang melanggar kesepakatan.

Namun Iran mencap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai pembohong dengan menyebut dokumen yang diungkapkan merupakan tuduhan lama yang sudah ditangani Badan Tenaga Atom Internasional, IAEA. (detik)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami