Hukum

Bupati Kukar Ngaku Rp 6 Milyar Hasil Penjualan 15 Kg Emas

BTN iklan

Jakarta, LEI – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari, membantah uang Rp 6 milyar adalah suap dari Direktur Utama (Dirut) PT Sawit Golden Prima, Hery Susanto Gun alias Abun. Menurutnya, itu merupakan hasil penjualan 15 kilogram emas kepada Abun.

“Itu bener-bener murni jual-beli emas,” kata Rita setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di KPK, Jumat malam (6/10/2017).

Rita mengklaim penjualan emas seberat 15 kilogram kepada Abun itu terjadi pada 2010 silam. Emas itu pun disebutnya pemberian dari ayahnya, Syaukani Hasan Rais. Syaukani juga sempat menjadi Bupati Kukar.

“(Penjualan emas) 2010, udah lama banget. Saya punya emas 15 kg, dikasih bapak saya, saya jual,” kata Rita sebelum digelandang ke dalam mobil tahanan.

Pengakuan tersangka Rita itu mengundang kecurigaan, karena dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Rita, pada 23 Juni 2011 dan 29 Juni 2015, hanya tercatat memiliki harta bergerak berupa logam mulia yang berasal dari hasil sendiri senilai Rp 500 juta.

Ketika wartawan mengonfirmasi soal bahwa pemberian uang Rp 6 milyar dari Abun itu setelah izin operasi untuk keperluan inti dan plasma perkebunan kelapa sawit PT Sawit Golden Prima diterbitkan, Rita tidak menjawab.

Kuasa hukum tersangka Rita, Noval El Farveisa, mengatakan, bahwa uang tersebut belum diberikan. “Nanti dulu, uang belum pernah diberikan mas. Jadi itu prosesnya dijalankan oleh Pj ibu Rita sebelum dilantik. Jadi bukan uang atas izin PT Golden. Jadi ini murni penjualan emas,” katanya.

PT Sawit Golden Prima yang dipimpin Abun menerima izin tersebut setelah Rita dilantik menjadi Bupati Kukar pada 30 Juni 2010 lalu. Atas izin tersebut, PT Sawit Golden prima mendapat hak guna tahan seluas 15.608 hektare sesuai peta yang dikeluarkan Kantor Pertanahan Kukar.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Rita Widyasari (RIW) menerima gratifikasi sejumlah R 6,97 milyar bersama-sama Komisari PT Media Bangun Bersama (PT MBB), Khairudin (KHR).

Gratifikasi tersebut diduga terkait sejumlah proyek di Kabupaten Kukar, Kalimantan Timur (Kaltim), selama Rita menjabat sebagai bupati. Rita mendapuk jabatan tersebut selama dua periode yakni 2010-2015 dan 2016-2021.

Sedangkan penerimaan hadiah atau janji alias suap Rp 6 milyar, diterima Rita Widyasari dari Direktur Utama PT Sawit Golden Prima, Hari Susanto Gun (HSG) terkait izin lokasi untuk keperluan inti dan plasma perkebunan kelapa sawit di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, milik PT Sawit Golden Prima.

“Suap diduga diterima (Rita Widyasari) sekitar bulan Juli dan Agustus 2010 yang diindikasikan ditujukan untuk memuluskan proses perizinan lokasi terhadap PT SGP,” ujar Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan.

KPK menetapkan tiga orang tersangka yakni Bupati Kukar Rita Widyasari, Direktur PT Sawit Golden Prima, Hari Susanto Gun, dan Komisaris PT MBB, Khairudin setelah menemukan bukti permulaan yang cukup.

Untuk kasus suap, KPK menyangka Rita Widyasari selaku penerima melanggar melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan untuk pemberi suapnya, yakni Hari Susanto Gun disangka melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan untuk kasus gratifikasi, KPK menyangka Rita dan Khairudin melanggar Pasal 12B UU Nomor 1 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close