EntertainmentLifestyle

Burberry Bakar Produk Tak Laku Senilai Rp529 Miliar

BTN iklan

Jakarta (LEI) – Fesyen adalah bisnis yang berubah-ubah. Tak cuma itu, menurut Burberry bisnis ini juga dianggap sebagai bisnis yang sangat boros.

Boros dan kesia-siaan dalam bisnis fesyen ini terbukti lewat pembakaran produk yang tak diinginkan dari label fesyen mewah tersebut selama setahun terakhir. Produk yang dibakar ini bahkan bernilai setidaknya lebih dari 28 juta poundsterling (Rp529 miliar).

Harga ini sebanding dengan harga 20 ribu trench coat yang menjadi ciri khasnya selama ini.

Setidaknya selama lima tahun terakhir, ada sekitar 90 juta produk Burberry yang dihancurkan.

Mengutip The Times, Burberry juga dinilai semakin buruk untuk mengolah limbahnya. Nilai limbahnya bahkan naik 50 persen dalam dua tahun. Faktanya juga nilai ini hampir enam kali lipat lebih besar dari 2013 lalu.

Pertanyaan pun muncul, mengapa Burberry tak menjual produk tersebut dengan memberikan sale tapi malah dibakar?

Burberry dan label-label busana mewah lainnya menghancurkan produk mereka yang tak diinginkan untuk melindungi kekayaan intelektual dan juga nilai brand mereka. Para desainer dari label mewah itu tak ingin produknya dipakai oleh ‘orang yang salah’ pascamuncul ke pasar tak resmi dengan harga miring.

Mereka mengungkapkan bahwa hal ini merupakan praktik yang umum di industri ritel.

Risiko lingkungan

Proses pembakaran produk sisa ini tak dimungkiri akan menimbulkan kontroversi di antara para pecinta lingkungan.

Label kelas atas ini mengaku bahwa stok produk yang tak diinginkan itu dibakar habis dengan incinerator khusus yang bisa mengolah energi dari proses pembakaran.

“Burberry memiliki proses yang hati-hati untuk meminimalisir jumlah sisa produk. Ketika ada produk sisa yang dibuang, kami membuangnya dengan cara yang bertanggung jawab dan mencari cara untuk mengurangi dan menilai kembali sampah itu,” kata juru bicara Burberry dikutip dari New York Post.

Tahun lalu, stok produk yang tak terjual di H&M juga dibakar. Pembakaran produk ini diolah menjadi bahan bakar. Vasteras, sebuah kota kecil di Swedia menjadi ‘penampung’ pembakaran 15 ton produk sisa H&M untuk menghidupi kota.

Produk tersebut dikirim ke stasiun pembangkit listrik di kota tersebut.

Richemont, perusahaan pemilik merek Cartier dan Montblanc mengaku sudah menghancurkan banyak jam tangan dalam dua tahun terakhir. Nilainya pun mencapai 400 juta poundsterling atau Rp Rp7,5 triliun.

Proses ini juga dilakukan oleh Louis Vuitton yang menjual tas yang tak terjual.

Namun ada jalan lain kecuali pembakaran. Salah satu brand kelas atas Temperley mengungkapkan bahwa mereka lebih memilih untuk menyumbangkan pakaian yang tak layak ke badan amal atau menjualnya di gerai-gerai dengan diskon besar. [cnn indonesia]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami