InternasionalTekno

Cara Merancang Iklan Optimal dalam Format Video Enam Detik

BTN iklan

Lei- Video iklan enam detik telah menjadi tren baru di dunia iklan digital, terutama YouTube. Sejak YouTube memperkenalkan fitur tersebut pada tahun 2016 lalu, pelan-pelan mulai banyak perusahaan yang memanfaatkannya, termasuk para startup digital seperti Bukalapak, Grab, dan Traveloka.

Format iklan enam detik sebetulnya bukan barang baru. Mungkin kamu sudah sering melihat di televisi dalam bentuk cuplikan slogan yang diulang-ulang. Tapi format ini ternyata kembali populer, terutama di smartphone. Para pengamat industri bahkan menyebutnya sebagai “masa depan iklan”.

Sebetulnya seperti apa efektivitas video enam detik itu? Bagaimana cara merancang iklan enam detik yang optimal? Mari kita kupas bersama.


2018 adalah eranya iklan “snackable”

Format iklan enam detik (Google menyebutnya dengan istilah “Bumper”) sudah tersedia sejak lama, tapi baru mendapatkan popularitas tinggi mendekati kuartal terakhir tahun 2017. Kuartal ini bisa dibilang merupakan fase inkubasi format tersebut, sebelum akhirnya tancap gas penuh pada tahun 2018.

Video enam detik tidak akan menggantikan iklan yang lebih panjang. Justru format ini merupakan komplemen/pendukung dari format yang sudah ada. Para pemasar bisa membuat iklan panjang yang mendetail, sambil menyertakan video enam detik untuk memperkuat pesan di dalamnya dan menjangkau lebih banyak audiens.

Menurut manajer produk Video Ads di Google, Zach Lupei, format Bumper bisa diibaratkan seperti puisi haiku. Singkat, tajam, dan menyenangkan untuk dikonsumsi. Di kalangan konsumen yang semakin kebal terhadap iklan, kita memang butuh strategi untuk menyampaikan iklan dengan cepat tanpa membuat mereka bosan.


Karakteristik berbeda, audiens berbeda pula

Bumper memiliki sifat berbeda dari video iklan yang lebih panjang. Karena itu, audiens target yang efektif untuknya pun akan berbeda pula. Sifat pertama yaitu Bumper di YouTube tidak dapat dilewati (skip). Pengguna harus selalu menontonnya sampai selesai, jadi besar kemungkinan pesanmu akan sampai di pengguna secara utuh.

Kedua, video Bumper cocok untuk para pengguna mobile karena durasinya yang pendek. Data YouTube pada tahun 2016 menunjukkan bahwa 50 persen pengguna berusia 18-49 tahun lebih suka menggunakan smartphonedaripada komputer untuk menonton video.

Ini tidak terjadi hanya saat mereka keluar rumah, tapi juga di dalam rumah. Alasannya karena smartphone lebih mudah digunakan dan lebih personal. Konten-konten singkat (snackable) cenderung memiliki performa tinggi di perangkat mobile, termasuk video Bumper.

Karena berdurasi singkat dan tidak dapat dilewati, Bumper dapat memaksa penontonnya fokus pada pesan, meski hanya selama enam detik. Ini membuat Bumper cocok untuk memperkenalkan brand pada pengguna baru. Sementara untuk pengguna yang sudah mengenal brand (retargeting), iklan 15-30 detik lebih efektif.

Millennials | Photo 1

Millennial dan Gen Z lebih suka menonton video di smartphone | Sumber Gambar: AquiTem Sorriso

Strategi penggunaan Bumper terletak pada repetisi. Merancang iklan enam detik mungkin tidak akan berkesan apabila hanya kita lihat sekali. Tapi dengan frekuensi yang cukup, kita akan memiliki kesadaran tinggi terhadap brand tersebut.


Kiat dari para praktisi

Iklan Bumper boleh berdurasi singkat, namun bukan berarti pembuatannya lebih mudah. Justru kita harus lebih memahami topik, medium, serta alat-alat produksi yang kita miliki untuk bisa menghasilkan konten enam detik yang berkesan.

Para kreator hebat di YouTube telah berbagi tujuh tip praktis yang bisa kita terapkan untuk membuat iklan Bumper. Berikut kiat-kiat tersebut, dilansir dari Think with Google:

  • Anggaplah kamu sedang membuat lelucon. Kamu harus fokus pada sebuah “punchline” atau kesimpulan menarik yang menjadi inti. Dari situ baru kamu mengembangkan cerita, dengan keterbatasan durasi yang ada.
  • Satu kata, satu gambar, dan satu detik saja sudah cukup untuk menciptakan cerita yang berkesan. Pilih suatu konsep yang bisa membuat emosi penonton tergugah dalam rentang tersebut.
  • Inti cerita yang menarik adalah “perubahan”. Enam detik bukan waktu yang lama. Gunakan durasi singkat itu menunjukkan “perubahan” yang kamu tawarkan dalam produkmu.
  • Otak kita tidak terbatas oleh waktu. Sebuah video 6 detik yang hebat bisa lebih terngiang di kepala daripada video 30 detik yang membosankan. Jangan takut pesanmu tidak akan tersampaikan.
  • Buatlah sesuatu yang simpel. Baik itu ide, narasi, ataupun unsur visual di dalam, kamu perlu menjaga semuanya tetap simpel. Kesederhanaan akan memudahkan penonton lebih fokus pada pesan yang kamu sampaikan.
  • Tunjukkan sesuatu yang relatable. Ketika audiens bisa berempati terhadap narasi yang kamu sajikan, pesanmu akan menjadi lebih berkesan. Buatlah narasi seputar sesuatu yang memancing empati itu.
  • Buat penonton penasaran. Konten sederhana bukan berarti tidak cerdas. Kamu dapat membuat narasi berlapis yang memancing rasa ingin tahu, atau mengajak penonton berpikir lebih dalam. Mereka akan terus memikirkan pesanmu walaupun sudah selesai menonton video.

Kecil-kecil cabai rawit, mungkin begitulah peribahasa yang pas untuk menggambarkan iklan video enam detik. Walaupun singkat, format ini punya potensi besar untuk menyampaikan pesan secara efektif pada audiens. Tinggal bagaimana cara kita memaksimalkannya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close