Liputan

Cerpen: Dimana Engkau Wati Ini lagi Musim Covid 19

BTN iklan

Oleh Tony Thamsir, RTI (Taiwan)

Jakarta, 27/9 (LEI) –  Dimanakah engkau, Wati, kini berada? Saya dan adik saya sangat rindu kepadamu.
“Saat ini ada pandemi COVID-19, sehingga terkadang saat disebutkan nama Indonesia, sepertinya ada sanak keluarga di Indonesia sana, sangat ingin tahu keadaan Wati, apakah dia baik-baik saja?”, tanya Liao Yu-wen.
Huang Yu-wen mengatakan, “Entah bagaimana saya harus mengungkapkannya… setiap kali mengungkit namanya… saya pasti ingin menangis, karena saya sangat berterima kasih kepadanya.

Wati datang ke rumah kami, di saat kami sangat membutuhkan bantuan seseorang. Sebenarnya Wati datang untuk merawat mertua saya yang sakit, namun tidak berapa lama kemudian, mertua saya sehat kembali, sehingga kebanyakan dari waktu Wati adalah menemani anak-anak.”

*****

Program “Mencari bunda ke dua” merupakan sebuah program kerjasama lebih dari 30 an instansi yang ada di Taiwan. Kali ini, kembali ingin menggalang jaringan kekuatan para netizen, baik luar maupun dalam negeri, untuk membantu mencari mantan PRT asal Indonesia, Wati, yang dulu sempat bekerja di Taiwan, di rumah keluarga  Liao.

*****

Ada sepasang dosen universitas, Liao Chen-fu dan Huang Yu-wen, beserta putranya Liao Heng-deyang kini adalah seorang mahasiswa di National Taiwan University. Mereka sekeluarga sangat berkeinginan dapat kembali bertemu dengan Wati, mantan PRT asal Indonesia yang dulu membantu mengasuh sang putra dan telah kembali pulang ke kampung halamannya 17 tahun silam.

Huang Yu-wen mengatakan, “Khususnya saya, saya sangat berterima kasih kepadanya. Saya sangat berharap, ada kesempatan untuk mengucapkan Terima Kasih secara langsung kepadanya.”
Dosen jurusan literatur Taiwan dan studi kebudayaan transnasional National Chung Hsing University Liao Chen-fu dan istri, Huang Yu-wen, dosen jurusan keperawatan Central Taiwan University of Science and Technology, pada 20 tahun silam, tepatnya April 2000, merekrut Wati asal Indonesia untuk bekerja di rumah mereka. Kala itu sang putra, Liao Heng-de baru genap berusia 1 tahun, dan Huang Yu-wen tengah mengandung bayinya yang ke dua.

Huang Yu-wen mengatakan, “Entah bagaimana saya harus mengungkapkannya… setiap kali mengungkit namanya… saya pasti ingin menangis, karena saya sangat berterima kasih kepadanya. Wati datang ke rumah kami, di saat kami sangat membutuhkan bantuan seseorang. Sebenarnya Wati datang untuk merawat mertua saya yang sakit, namun tidak berapa lama kemudian, mertua saya sehat kembali, sehingga kebanyakan dari waktu Wati adalah menemani anak-anak.”

Wati meninggalkan Taiwan pada saat Liao Heng-de beranjak 4 tahun, sekarang ia sudah berusia 21 tahun dan duduk di tingkat tiga Jurusan Politik, National Taiwan University (NTU).

Peluang tercipta

Pada liburan musim panas bulan Juli tahun ini, diselenggarakan kamp politik 5 hari 4 malam bagi siswa SMA seluruh Taiwan, yang istimewa untuk tahun ini adalah untuk pertama kalinya kamp ditambahkan dengan tim yang berperan memperjuangkan hak-hak Pekerja Migran, di mana Liao Heng-de sebagai salah satu dari anggota tim relawan ini, tim ini terbentuk bagaikan khusus untuk dirinya.

Liao Heng-de mengatakan, “Sengaja memilih topik Pekerja Migran karena saya teringat akan Wati, dan karena tim kami juga harus mengajak para pelajar SMA, untuk mencari dan mengunjungi beberapa lembaga terkait, kebetulan saya menemukan toko buku “Brilliant Time”, ketika sesi berbagi pengalaman dari petugas toko buku tersebut, mengingatkan kembali memori saat saya masih kecil, kemudian saya beritahukan pada ayah dan ibu bahwa ada kesempatan untuk mencarinya.”

Liao Yu-wen mengatakan, “Saya baru tahu bahwa sebenarnya ia (anaknya) memilih topik ini karena ia rindu dengan Wati, saya sangat terharu mendengar hal ini. Mungkin karena saat ini ada pandemi COVID-19, sehingga terkadang saat disebutkan nama Indonesia, sepertinya ada sanak keluarga di Indonesia sana, sangat ingin tahu keadaan Wati, apakah dia baik-baik saja?”

Menambahkan usia dalam identitas agar dapat bekerja di Taiwan

Demi dapat datang dan bekerja di Taiwan, Wati yang saat itu baru berusia 18 tahun (Sekitar SMA kelas 3) terpaksa harus memalsukan usianya menjadi 25 tahun. Wati kerapkali berkata pada Huang Yu-wen, “Nyonya, saya bertambah tinggi lagi,” membuat orang yang mendengarkannya beranggapan makanan di Taiwan tentu jauh lebih baik dari Indonesia, sehingga di usia yang sudah 25 tahun masih bisa bertumbuh tinggi.

Huang Yu-wen mengatakan, “Dalam benak saya selalu teringat gambaran, saat saya mengandung anak kedua, ketika saya merasa tidak enak badan, jika terlihat oleh Wati, maka ia pasti akan berkata ‘mari Nyonya saya pijatkan”. Saya sangat berterima kasih padanya.

Terkadang saya juga bercurah hati padanya dan dia juga menceritakan keluarganya di Indonesia, saya merasa Wati bagaikan keluarga kami sendiri, seperti yang dikatakan oleh putra saya, kami melewati masa-masa indah bersama selama 3 tahun, saya menganggapnya sebagai adik kandung sendiri.”

Setiap kali saat keluarga bertamasya kemana pun, Wati pasti diajak. Liao Zhen-fu dan Huang Yu-wen mengeluarkan foto-foto saat mereka bertamasya, dari yang tersenyum malu-malu sampai senyuman gembira bersama kedua anaknya.

Semua teringat akan kisah “Sup kacang hijau”

Meskipun sudah berlalu 17 tahun lamanya, ternyata mereka sekeluarga memiliki kejadian yang tak terlupakan, yakni kisah tentang sup kacang hijau yang super manis, bahkan seorang anak kecil yang baru berusia 3 tahun pun juga terkesan dengan kejadian ini.

Liao Heng-de mengatakan, “Sepertinya orang di Indonesia suka makan makanan yang lebih manis, karena keluarga kami suka minum sup kacang hijau di musim panas. Ada satu kali kejadian, dimana Wati menambahkan gula yang sangat banyak, saya dan ibu tidak tahu, ketika diminum baru terasa “Kenapa manis sekali”? Ibu bertanya kepada Wati dan kaget dengan jawabannya, karena nyaris separuh kaleng gula dimasukkan semuanya. Sup kacang hijau pun tidak dapat diminum, karena bagaikan minum air gula yang sangat manis.”

Liao Zhen-fu melanjutkan, “Sebenarnya Wati sangat rajin, sayangnya untuk urusan masak-memasak kurang begitu baik. Tetapi belakangan Wati belajar membuat ayam kecap “San bei” dengan istri saya, dan untuk masakan ayam ini, hasilnya cukup autentik. Memasak memang bukan kemahirannya, namun Wati terampil dalam hal mereparasi. Yang lebih menarik, tanpa perlu kami beritahu, Wati menjahit lubang di pintu kasa dapur dengan tali plastik merah. Ia benar-benar baik dalam menjalankan pekerjaannya.”

Selain mengenang kemahiran karya tangan Wati, pasangan suami istri yang sama-sama dosen universitas ini, juga teringat pada suatu kali ketika Wati menghadapi saat paling genting. Hari itu, Wati seperti biasanya ke dapur untuk menuangkan sup dari panci, sudah jelas jeda jarak dengan meja masih ada 1-2 langkah kaki, namun Wati menjulurkan tangan untuk mengambilnya, tentu saja panci kuah terjatuh dan isinya berceceran di lantai.

Huang Yu-wen mengatakan, “Saya sangat terkejut pada waktu itu, saya merasa pasti ada masalah dan langsung bertanya pada Wati, ‘Kamu kenapa?’, ia menjawab, ‘Nyonya, mata saya tidak bisa melihat’ penglihatannya memiliki masalah. Karena saya sebagai seorang perawat, dan saya juga adalah dosen keperawatan, untuk itu saya segera meminta suami saya mengantarnya ke dokter mata, ternyata ia mengalami ablasi retina yang sangat parah. Saya ingat saat itu ketika selesai operasi dan pulang ke rumah, dengan bercucuran air mata Wati mengucapkan ‘Terima kasih sekali Nyonya, dokter mengatakan untung majikan kamu orangnya sangat baik dan segera mengantar ke dokter, kalau tidak mungkin akan buta.’ Saya berkata padanya, kalau tidak enak badan harus segera beritahu ke saya, kamu bekerja di sini jadi saya bertanggung jawab atas diri kamu pada orang tuamu, untuk itu saya berharap Wati yang bekerja di sini nantinya dapat dengan aman sentosa pulang kembali ke rumah.”

Februari 2003 Wati selesai kontrak kerja dan kembali ke Indonesia, sebelum pulang ia menulis surat kepada semua orang di rumah yang isinya mengucapkan terima kasih dan meminta maaf, kami secara khusus memberikan Wati kenang-kenangan berupa cincin dan mengajaknya membeli koper.

Liao Heng-de mengatakan, “Saya dan adik saya mengira dia hanya pulang 1 -2 tahun kemudian mungkin akan datang lagi melihat kami. Tetapi yang paling terkesan pada waktu itu adalah, sehari sebelum kepulangannya kami sekeluarga menemaninya beli koper, karena adik saya sangat suka sekali lari ke sana ke mari sambil membawa koper tersebut, Wati tertawa riang di sampingnya. Teringat saat dia ingin meninggalkan kita, saya dan adik saya sangat sedih dan tidak rela.”

Liao Zhen-fu mengatakan, “Perasaan kasih lama-lama pasti akan timbul, setelah sekian lama bersama perasaan kasih pun muncul, saya ingat saat saya mengantarnya pulang, sebenarnya hati saya juga sangat sedih.”

Huang Yu-wen mengemukakan, “Ternyata anak saya masih ingat dengan hal ini, dia bilang sepertinya melihat Wati diam-diam meneteskan air mata saat hendak kembali ke Indonesia.”

Wati adalah bagian dari keluarga Liao

Setelah Wati tiba di Indonesia, ia sempat menelepon dan memberitahukan kalau ia sudah selamat tiba di rumah. Huang Yu-wen mengemukakan, 6 – 7 tahun lalu juga menerima telepon dari Wati, yang mengabarkan jika ia sudah menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki, tetapi demi memberikan masa depan yang lebih baik untuk anaknya, ia akan kembali datang ke Taiwan untuk bekerja, dan kali ini sebagai perawat.

Huang Yu-wen mengatakan, “Saya sangat senang mendengar hal itu dan berkata padanya, kalau nanti libur maka kita bisa bertemu. Wati mengatakan bahwa orang yang ia rawat tidak bisa bergerak leluasa, jadi ia tidak bisa libur. Saya waktu itu masih berkata, kalau begitu biar saya yang ke tempat kamu dan meminta nomer telponnya, tetapi selang tidak berapa lama saat saya menelponnya, entah mengapa nomer HP Taiwan Wati tidak dapat dihubungi lagi, dan sejak itu Wati tidak pernah menelpon lagi, kami kehilangan kontak hampir 10 tahun.”

Liao Heng-de mengatakan, “Terima kasih Wati, kamu selalu menjadi orang yang terhangat di hati saya dan adik saya. Saya menjadi anggota tim Pekerja Migran, juga karena kamu, hari pertama kamp, saya memberikan ceramah bagi siswa SMA, sebenarnya juga ingin menghaturkan kepada kamu. Belakangan ini kami mencari surat yang kamu tuliskan untuk kami, kamu berkata “For my little beloved brothers, I love you all”. Saya juga ingin mengatakan pada kamu “We love you too”, meskipun tidak tahu di mana sekarang kamu berada, tetapi kamu selalu menjadi bagian keluarga kami, semoga kamu dalam keadaan sehat dan aman sekarang dan untuk selamanya.

Jika dihitung-hitung, Wati seharusnya sudah berusia 38 tahun ini, Liao Zhen-fu dan Huang Yu-wen sangat ingin mengetahui kabar dari Wati, juga sangat ingin bertemu dengannya. Untuk itu, kedua kakak beradik ini kerap secara khusus ke Taichung, berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dulu pernah dikunjungi bersama Wati sebelumnya, bahkan juga makan roti kesukaan Wati.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami