Liputan

China Harap-Harap Cemas

BTN iklan

Jakarta,Lei – Keinginan Pemerintah China untuk mengubah orientasi ekonominya dari industri menjadi jasa dan konsumsi, nampaknya akan menemui jalan terjal.

Rencana pemerintah Negeri Tembok Besar tersebut tak mendapatkan respon positif dari sektor swasta sendiri. Padahal, dengan menggantungkan perekonomian nasional pada jasa dan konsumsi, diperlukan porsi dan peran sektor swasta. Pemerintah pun terus mendorong sektor swasta untuk meningkatkan investasinya.

Namun, ketika pemerintah menggantungkan harapan pada sektor tersebut, perusahaan-perusahaan swasta justru mencatatkan kemunduran.

“Kami berencana melakukan penghematan pada usaha kami, daripada melakukan perluasan dengan berinvestasi lebih banyak. Karena kami tidak bisa merasakan perbaikan ekonomi,” kata Bruno Chen, pemilik Ningbo Tengsheng Garments Co, Senin (17/5).

Hal yang sama pun dirasakan oleh General Manager Wenzhou Kingsdom Sanitary Ware Co. Xia Xiaokang. Dia mengaku tak terlalu percaya diri dengan pemulihan ekonomi China. Maka dari itu, dia memilih untuk menunda aktivitas ekspansinya.

“Kami telah merencanakan untuk berinvestasi dalam aset tetap pada tahun lalu. Namun, saat ini kami justru berencana untuk menyewakan sebagian bangunan pabrik kami karena kami telah mengurangi produksi kami,” katanya.

Hal tersebut tercermin dari data terbaru yang diterbitkan oleh Biro Statistik Nasional (NBS) pada pekan lalu. Dalam keterangan resminya, NBS menyebutkan, pertumbuhan produksi pabrik hanya mencapai 6%, atau turun dari Maret dengan 6,8%. Capaian ini juga berada di bawah prediksi para analis yang berharap produksi pabrik hanya melambat hingga 6,5%.

Sementara itu, pertumbuhan investasi aset tetap China turun menjadi 10,5% secara year on year (y-o-y), sepanjang Januari–April 2016. Raihan tersebut berada di bawah kuartal I/2016 yang melaju 10,7%. Sebelumnya, para ekonom justru memperkirakan pada periode tersebut investasi aset tetap akan tumbuh 10,9%.

Senada, investasi yang dilakukan oleh perusahaan swasta juga terus melambat. Pada periode Januari – April 2016, investasi swasta tumbuh 5,2%, turun dari kuartal I/2016 yang mencapai 5,7%.

Indeks harga untuk investasi aktiva tetap pun juga menunjukkan penurunan, menjadi 97,3 pada kuartal I/2016, atau turun dari kuartal sebelumnya yang mencapai 98,2.

“Tampaknya semua mesin pertumbuhan ekonomi China tiba-tiba kehilangan momentum, dan prospek pertumbuhan telah berubah tak seoptimis sebelumnya,” Zhou Hao, ekonom Commerzbank.

Kondisi ini otomatis membuat para pembuat kebijakan di China khawatir. Pasalnya, investasi aset tetap dari sektor swasta yang meliputi tanah, peralatan dan bangunan, telah menyumbang 60% dari seluruh investasi pada kuartal I/2016.

Padahal, investasi aset tetap telah menyumbang sepertiga dari seluruh lapangan kerja di China. Investasi tersebut juga terbukti menciptakan 90% dari seluruh lapangan kerja baru bagi kaum urban di negeri tersebut.

“Karena jumlah total investasi swasta yang relatif besar, perlambatan yang terus terjadi berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian tingkat tinggi,” tulis NBS dalam keterangan resminya.

Sejumlah ekonom pun menyebutkan, sektor swasta adalah kunci bagi masa depan ekonomi China, di tengah peralihan orientasi ekonomi. Peran paling besar justru muncul dari perusahaan swasta kelas menengah, karena sektor tersebut akan terus berusaha untuk berinvestasi, berinovasi dan memacu produktivitasnya.

Sektor swasta pun dinilai memiliki tingkat efisiensi penggunaan modal yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perusahaan milik pemerintah justru dinilai gagal melakukan efisiensi dari modal yang disuntikan pemerintah.

Ketergantungan Pasar

Langkah pemerintah dalam mengalirkan kredit dalam jumlah besar pun dinilai masih belum mampu melindungi sektor swasta karena bersifat temporer. Dalam perjalanannya, sejumlah data ekonomi pada Februari mencatatkan pemulihan. Namun, pada Maret data ekonomi nasional kembali melambat.

Di sisi lain, pemerintah juga masih belum mampu melepaskan ketergantungan pada ekspor ke luar negeri.

Ningbo Tengsheng Garments Co. mencatatkan, turunnya permintaan global masih belum diimbangi oleh permintaan domestik.

Hal yang sama pun ditunjukkan oleh Wenzhou Kingsdom Sanitary Ware Co. dengan turunnya permintaan di sejumlah negara importir utama seperti Venezuela dan Rusia. Jatuhnya nilai tukar mata uang kedua negara dan konflik Timur Tengah menjadi penyebabnya.

“Investasi swasta adalah masalah fundamental. Ketika suku bunga rendah, tetapi investasi justru turun, menunjukkan bahwa ada yang salah dalam perekonomian negara ini,” kata peneliti di Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China.

Kondisi ini membuat sejumlah perusahaan besar yang ada di China memilih untuk melakukan investasi di negara-negara lain yang dinilai lebih menguntungkan. Di Indonesia sendiri pada kuartal I/2016, China berhasil menduduki peringkat ke-4 dengan nilai investasi sebesar US$464,6 juta atau sekitar Rp6,45 triliun. Raihan itu naik 518,6% dibandingkan kuartal IV/2015 senilai US$,75,1 juta.

Hal ini menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listianto menjadi kewajaran, karena investor China sedang mencari pasar eksternal untuk menyalurkan dananya di negara lain di tengah situasi perlambatan ekonomi yang terjadi di negaranya.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami