Opini

Desak Petani dengan RUU Cipta Kerja dengan Alih datangkan Investor

BTN iklan

Kebutuhan Pangan adalah kebutuhan pokok dari manusia. dan tidak akan lepas dari kebutuhan manusia. Petani adalah salah satu penyumbang kebutuhan pokok terbesar pada negara. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menilai Rancangan Undang Undang (RUU) Cipta Kerja bakal membuka peluang investasi, salah satunya sektor pertanian. Hal itu mengingat sektor tersebut tetap tumbuh positif di tengah pandemi covid-19. “Semangat RUU Cipta Kerja adalah untuk mengundang investasi, dan di sektor pertanian terlihat beberapa perubahan kebijakan yang diusulkan sesuai dengan semangat itu,” Felippa Rabu (2/9).

Felippa menjelaskan, regulasi investasi yang diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura saat ini dianggap tidak ramah di sektor pertanian. Diharapkan dengan adanya RUU Cipta Kerja kondisi tersebut bisa memudahkan investasi.

Termasuk soal pasal dalam RUU Cipta Kerja yang akan mengganti beberapa pasal di UU Hortikultura. Seperti pasal 34 RUU Cipta Kerja yang mengundang sarana hortikultura dari dalam dan luar negeri. Pasal tersebut akan merevisi pasal 33 UU Hortikultura yang mempersulit penggunaan sarana dari luar negeri.

“Draf RUU akan memudahkan penggunaan sarana dari luar negeri. Ini juga membantu supaya ada alih teknologi,” ujarnya. Menurut Felippa dengan terbukanya investasi akan menguntungkan di sektor pertanian. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal 2019 sektor pertanian mungkin hanya sekitar tiga persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia. Tak hanya membuka investasi, RUU Cipta Kerja juga menyederhanakan proses perizinan usaha yang sebelumnya harus melewati birokrasi yang berlapis menjadi satu perizinan usaha dari pemerintah pusat. Kemudahan-kemudahan yang diatur dalam RUU Cipta Kerja ini diharapkan membawa dampak positif bagi petani dan pertanian di Indonesia. “Bagi para petani, investasi yang semakin besar di sektor pertanian tentunya akan menguntungkan,” ujar Felippa. (J-1)

Dari Sektor pertanian Tim Legal Era Indonesia menemukan bahwa pertanian pada dekade ini rata-rata dikelola oleh pihak swasta. Undang undang cipta kerja ini diharapkan mengundang sarana hortikultura dari dalam maupun luar negri menguntungkan para petani. akan tetapi pengusaha akan memiliki taktik dimana investor sebagai penanam modal akan selalu membuat keuntungan pribadi dan petani tidak akan kaya kaya. Seharusnya dalam sektor pertanian ini harus menghilangkan beberapa hal diantaranya tebas muda, tebas muda disini sangat merugikan para petani karena harga yang dijual akan semakin murah dan merugikan para petani. Saran untuk Langkah ini adalah Petani memberikan subsidi berupa membeli hasil tani dari petani dengan harga mahal dan pemerintah menjual kepada masyarakat dengan harga murah. Dan menghidupkan kembali koperasi unit tani yang berfungsi sebagai titik balik membantu para petani dengan terorganisasi.
Dan mengikuti jaman digital ini beberapa influenser juga bisa membantu terjun dalam pemasaran disektor pertanian khususnya

Kontributor : Dwitya Yonathan Nugraharditama

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami