BTN iklan
Hukum

Di Bantaeng Pernikahan Dini Diizinkan Pengadilan Agama

Sebelumnya Di Tolak KUA

BANTAENG, LEI – Bertempat di KUA Kec. Bantaeng, Bimbingan perkawinan (Bimwin) perorangan digelar kepada 11,5 pasang catin atau 23 orang, (1 orang tidak hadir).

Bimwin dilaksanakan sehari (Kamis, 12/4), sejak pagi hingga siang hari dengan penyampaian 4 materi berturut-turut oleh: Ust. Hamring Nawawi BA, ust Aziz Lallo S.Ag, Ust Aziz, A.Ma dan H. Syarif Hidayat Hasibu, LC, MA.
Menurut keterangan panitia, peserta tersebar dari beberapa desa/kelurahan Se Kec. Bantaeng dan sudah dinyatakan berkasnya memenuhi syarat untuk dilakukan pencatatan dan menerbitkan buku nikahnya setelah dilangsungkan akad nikah.

Yang menarik dari pelaksanaan Bimwin ini adalah pengakuan salah seorang pemateri H. Syarif Hidayat yang juga merupakan Penghulu Fungsional pada KUA Kec. Bantaeng.

“Dari sekian lama memeriksa berkas catin, baru kali ini dapat pasangan yang usianya sangat dini, catin laki-laki 15 tahun 10 bulan dan catin wanita 14 tahun 9 bulan”. Ungkap H. Syarif Hidayat.
“Sebenarnya beberapa waktu yang lalu, pihak KUA sudah mengeluarkan blanko N9 (penolakan pencatatan) tapi dari pihak kedua calon pengantin kemudian melakukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama, dan permohonannya dikabulkan”. Ungkapnya lagi.
Dari wawancara pemeriksaan yang dilakukan H. Syarif Hidayat yang biasa dipanggil Abou Ahmad ini, diketahui si catin wanita masih duduk di kelas II di sebuah SLTP bahkan dari tantenya diperoleh informasi bahwa ponakannya ini merupakan siswa berprestasi di kelasnya dan tidak ditemukan tanda-tanda bahwa si wanita telah berbadan dua juga bukan karena dijodohkan, tetapi memang antara keduanya terjadi hubungan spesial (pacaran). Akunya.
“Anak ini, menurut tantenya, mau menikah karena takut tidur sendiri dirumah setelah ibunya meninggal setahun yang lalu, sementara ayahnya selalu meninggalkan rumah keluar kabupaten untuk bekerja” beber Abou Ahmad.

Dengan adanya Dispensasi dari PA ini, maka tidak ada alasan lagi bagi pihak KUA menolak pernikahan (dini) nya yang rencananya diadakan pada hari senin depan.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

One Comment

  1. Menurut saya pernikahan yang diizinkan oleh pengadilan agama melanggar pasal 7 ayat 1 uu no 1 tahun1974 dimana “bila usia pihak pria sudah mencapai 19 tahun dan pihak wanitanya juga sudah mencapai 16 tahun” dan juga beretentangan dengan batas umur yang telah di tetapkan dalam kuhperdata dimana batas umur yang ditetapkan dalam KUHPerdata bagi seseorang yang ingin melangsungkan pernikahan adalah usia 18 tahun untuk laki-laki dan 15 tahun untuk perempuan. Hal ini berarti usia 18 tahun adalah usia dewasa bagi laki-laki dan usia dewasa perempuan adalah 15 tahun , pada kasus ini catin laki-laki baru berusia 15 tahun 10 bulan dan catin wanita 14 tahun 9 bulan dan bahkan mereka masih duduk di bangku kelas 2 smp bagaimana si suami memenuhi kewajibannya memberi keperluan rumah tangga kepada istrinya sedangkan si suaminya masih berada di sekolah menengah pertama hal ini pula menurut saya juga bertentangan pasal 34 ayat 1 uu no 1 tahun 1974 yaitu “Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”
    Sebagaimana dimaksud dalam pasal 31 ayat 3 uu no 1 tahun 1974 dimana “suami adalah kepala rumah tangga dan istri ibu rumah tangga” Dalam hal ini bagaimana si suami memberikan nafkah kepada istrinya nanti karena mereka masih sama-sama duduk dibangku sekolah menengah pertama.
    Walaupun sudah mendapat dispensasi dari PA harusnya pengadilan juga memikirkan bagaimana sang calon suami dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dimana posisi sang calon suami juga masih sekolah.

    DWI NOVIANA SARI
    2015510004
    UNIVERSITAS SAHID JAKARTA

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close