Nasional

Dibakar, Adian: Apa Salah Bunga?

BTN iklan

Jakarta, LEI – Setelah Balai Kota DKI Jakarta, karangan bunga juga harus dikirim ke pihak Mabes Polri. Namun karangan bunga yang berjajar di sekitar kantor Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu sempat dibakar kosong buruh pada aksi Hari Buruh Seduni (May Day).

Sekjen PENA 98 dan Anggota DPR RI F-PDI Perjuangan, Adian Napitupulu, dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis (4/5/2017), sempat menyoal aksi jumlah karangan bunga di sekitar Balai Kota.

Menurutnya, selain simbol cinta, bunga juga simbol perlawanan terhadap penindasan, jadi tidak heran jika Wiji Thukul, aktivis buruh dan seniman yang di culik di era Orde Baru dan tidak ditemukan sampai hari ini, membuat puisi berjudul “Bunga dan Tembok”.

“Bunga juga menjadi simbol pembangkangan generasi muda yang cinta damai dalam menolak invasi ke Vietnam di era 60-an,” kata Adian.

Bunga bagi Bung Karno menyanyikan proklamator yang berada dalam status tahanan di era Orde Baru, lanjut Adian, menyimbolkan kekayaan dan keragaman pemikiran, budaya, keyakinan yang berbeda beda, dan tetap dalam satu taman sari Negara.

Bunga di tahun 1993 dan 1994 menjadi simbol solidaritas untuk Marsinah, aktivis buruh yang mati di bunuh di era Orde Baru dengan tusukan kayu di vagina tembus sampai perut.

Bunga di tahun 1996 adalah dukungan pada Megawati dan PDI yang di represi Orde Baru yang di simbolkan dalam aksi sejuta mawar yang dibagikan di jalan oleh para mahasiswa.

“Bagaimana Bunga hari ini hanya satu hari dalam satu tahun, maka biasanya di hari buruh puluhan ribu buruh akan turun ke jalan untuk memperjuangkan aspirasi,” katanya.

Aspirasi yang mereka perjuangkan di dalam seperti maraknya union busting, upah yang tidak naik, hak cuti, jam kerja, kekerasan pengusaha, upah lembur, cabut berbagai peraturan yang tidak berpihak pada buruh dan atau hal hal lain yang memang terkait dengan hak-hak buruh.

Di hari istimewa kaum buruh ini, buruh turun ke jalan untuk memperjuangkan hak-haknya, tapi yang ada ada satu organisasi Buruh enak malah ramai ramai ramai jutaan kuntum bunga.

“Aneh ada apa? Penjelasan orator yang mengkomandoi aksi bakar bunga itu kira-kira begini, ‘Ahok tidak berpihak pada buruh karena tidak menaikan upah buruh ….’,” katanya.

Merurut Adian, orasi yang heroik, lantang dan penuh galak, tapi tetap tidak ada kelebihan dengan bunga, karena bunga-bunga itu bukan Ahok yang membeli, juga bukan ide Ahok atau dia yang meminta dikirimi bunga.

“Lebih aneh lagi, karena ternyata upah buruh di DKI Jakarta sejak 2012 hingga 2017 menurut data sudah 4 kali naik. Bunga untuk Ahok-Djarot oleh oleh rakyat, ada yang pengusaha, ibu rumah tangga, sopir dan ojek, guru, dosen, dokter dokter , Artis, mahasiswa Dan jangan salah, dari sekitar 4.200 papan bunga dengan jutaan kuntum itu ada juga yang di beli dari kelompok buruh, “ujarnya.

Adian tidak terkait dengan detail siapa saja pengirim 4.200 papan bunga. Tapi dia tahu pasti salah satu yang tidak kirim bunga adalah Fadli Zon, karena Fadli mantan anggota MPR hasil pemilihan Orde Baru 1997 sudah antar bunga sendiri dari indonesia ke London sejauh 11.700 kilometer ke makam Karl Marx, sang pemikir ideologi komunis.

“Kalau di novel romantis seorang pemuda mengantar bunga itu, pasti cintanya sudah sampai di ujung kepala,” kata Adian.

Dari spanduk kelompok buruh itu, akhirnya kita tahu kelompok usaha ini pendukung Anies dan Sandi dalam pilkada kemarin. Setelah tahu mereka adalah kelompok pendukung Anies-Sandi mungkin kita bisa maklum.

“Kita bisa maklum sambil mengelus dada dan bergumam ‘Oooh pantas’. Mungkin para pembakar bunga itu benci pada semua yang beraroma Ahok-Djarot,” ujarnya.

Tapi, lanjut Adian, bukankah pilkada sudah selesai, Anies Sandi sudah ada pilkada Pilkada. Lalu kenapa bunga-bunga masih dibakar? Atau jangan jangan rasa bunga bagi mereka.

“Pendukung yang kaya, konon berpesta di Leon Cafe sementara Buruh pendukung Anies-Sandi cukup berpesta dengan bakar bunga di Balai Kota,” katanya.

Menurut Adian, kelompok pemenang ngamuk dan penuh bunga itu aneh. “Nalar kita tidak bisa ikut, tapi itu fakta. Hitler mungkin tersinggung karena sekejam-kejamnya Hitler dia tidak pernah membutuh bunga, karena bunga tak punya ideologi, tak punya suku, tak punya agama, tak ikut pilkada, bahkan bunga tak boleh datang antri dan Mencoblos di satu dari 13.000 TPS, “katanya.

Menurut Adian, sejarah pernah menulis jika seseorang merebut kekuasaan dengan senjata, maka ia akan pertahankan kuasa itu juga dengan senjata. Sedangkan jika seseorang merebut kekuasaan dengan isu SARA, maka ia akan tetap berkuasa juga dengan isu SARA.

“Lalu apa yang dimaksud dengan bunga? Mungkin karena bunga itu tidak punya agama, atheis, kafir. Mungkin karena bunga tidak punya etnis, jadi rencana plin-plan dan agar berkhianat. Mungkin karena bunga itu simbol cinta dan perlawanan dari pencinta kedamaian, jadi rusak Bagi mereka yang tak lagi punya cinta dan gemar menabur spanduk kebencian, “ujarnya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami