EkonomiFinansial

Efek Normalisasi Diprediksi Rendah

BTN iklan

JAKARTA/Lei —Normalisasi neraca keuangan Bank Sentral Amerikat Serikat atau Federal Reserve diperkirakan tidak terlampau mempengaruhi nilai tukar rupiah.   Selain itu, Indonesia masih tetap menarik di mata investor asing.

Kepala Ekonom PT Bank CIMB Niaga Adrian Panggabean mengungkapkan diatas kertas belum ada kesepakatan antara kalangan pengambil kebijakan di Amerika Serikat tentang mekanisme, waktu, dan besaran pengurangan neraca keuangan The Fed.

” naiknya Fed Fund Rate bila dilakukan bersamaan dengan turunnya skala neraca The Fed akan menyebabkan kurva imbal hasil di pasar obligasi AS akan menjadi lebih flat,” katanya kepada Bisnis, Minggu (9/4).

Implikasinya, lanjut Adrian, pasar investor di AS kemungkinan akan bergeser ke tenor pendek. Sebagian di antaranya akan mencari yield yang lebih tinggi dan berpindah ke pasar obligasi emerging market termasuk Indonesia.  “Efeknya, mungkin inflow dana asing akan terus masuk ke Indonesia.”

Dia juga berkeyakinan indeks dolar AS yang merupakan indikator kinerja mata uang Amerika Serikat terhadap sekelompok mata uang lain seperti euro, yen, pound sterling, dolar Kanada, dan mata uang besar lain akan lebih sulit  menguat.

Hal ini disebabkan oleh penguatan dari pound sterling, dolar Australia dan euro karena Bank Sentral Eropa akan melakukan tapering off. Alhasil, penguatan mata uang tersebut akan menyebabkan dolar AS tetap berada di kisaran 99-103.

Di tengah perbaikan ekonomi, dia menegaskan AS akan lebih diuntungkan bila dolar AS tidak terlalu kuat. Menurut Adrian, poin di atas mengindikasikan bahwa rupiah kemungkinan justru akan diuntungkan.

Sebelumnya, Bank Indonesia tengah mewaspadai kebijakan normalisasi balance sheet Federal Reserve guna menjaga pergerakan atau volatilitas rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar AS.

Dalam normalisasi neraca keuangan, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan The Fed akan menghentikan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) dengan mengurangi surat berharga yang telah jatuh tempo dan tidak memperpanjangnya lagi.

Sebelum krisis global The Fed memiliki aset sekitar US$800 miliar. Saat ini, asetnya sudah bertambah hingga US$4,5 triliun.  Dengan demikian, The Fed berencana menguranginya atau disebut dengan langkah normalisasi.

“Dampaknya kepada likuiditas suplai dolar AS akan berkurang, tapi sesuai statement Federal Reserve mereka melakukannya akan berhati-hati dan tentu jangan sampai menimbulkan gejolak,” katanya akhir pekan lalu.

Pekan lalu, Presiden Fed New York William Dudley mengatakan Bank Sentral kemungkinan akan menghindari penaikan suku bunga.  “Ketika Anda membuat keputusan terkait degnan neraca keuangan, Anda mungkin ingin membatalkan keputusan menyangkut suku bunga jangka pendek untuk memastikan neraca keuangan tidak membengkak di luar perkiraan,” katanya.

Sementara itu, peningkatan suku bunga The Fed, ujar Dudley yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Pasar Terbuka, memiliki kesempatan untuk merealisasikan ide-idenya.  Dia menjelaskan ada dua alasan dibalik kenaikan suku bunga The Fed yaitu untuk mengurangi tingkat pengangguran dan mempertahankan kestabilan harga..

Selain kebijakan normalisasi neraca keuangan oleh The Fed, Bank Indonesia juga memperhatikan faktor domestik yaitu momentum pertumbuhan dan deregulasi.  “Presiden sudah menyampaikan bahwa jangan ada peraturan baru yg menghambat investasi dan jangan lupa bahwa kita ingin supaya EoDB membaik,” lanjutnya.

 

PERINTAH EKSEKUTIF

Sementara itu, Pemerintah Indonesia terus mewaspadai kemungkinan dampak langsung dari perintah eksekutif yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap kinerja ekspor dari Tanah Air.

Edy Putra Irawady, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memaparkan bahwa pemerintah telah mengimbau pelaku usaha memperhatikan ketentuan supaya tidak dinilai curang oleh oleh pihak lain.

“Jangan asal merebut pasar, nanti akibatnya ke lain, yang paling banyak kena itu kertas,” ungkap Edy di Jakarta, Jumat kemarin.   Meski demikian, menurutnya, kertas lebih disebabkan persaingan bisnis yang alamiah, sehingga posisi Indonesia bukan sebagai negara curang.

Edy memperkirakan, kebijakan negeri Paman Sam tersebut lebih ditekankan ke pada faktor penyebab defisitnya perdagangan mereka.

 

bisnis

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close