InternasionalLiputan

EKONOMI ASIA : Waspadai Sentimen AS dan China

BTN iklan

NEW YORK/Lei — Dana Moneter Internasional (IMF) melihat masih belum jelasnya ukuran stimulus fiskal yang akan diambil oleh Amerika Serikat (AS) dan pertumbuhan utang domestik yang pesat di China, berpotensi membayangi prospek ekonomi Asia.

Deputi Direktur Pelaksana IMF Mitsuhiro Furusawa memperkirakan, meskipun ekonomi kawasan Asia akan menjadi yang terkuat di dunia pada tahun ini, tetapi setimen eksternal diprediksi masih terus mengancam.

“Asia Terus menjadi pemimpin dalam pertumbuhan ekonomi dunia, kaena didukung permintaan dari luar yang sangat kuat dan kebijakan fiskal maupun moneter yang akomodatif,” katanya, seperti dikutip dari Reuters, Senin (5/6).

Khusus dari China, dia menyoroti ketergantungan penyaluran kredit domestiknya. Di tengah proses reorientasi ekonomi dari industri ekspor menjadi jasa dan konsumsi, potensi terjadinya gelembung (buble) kredit terbuka lebar. Alhasil, laju pemulihan ekonomi yang sedang diupayakan Beijing akan terganggu atau terhenti.

Sementara itu terkait sentimen dari AS, selain dari rencana stimulus fiskal Presiden Donald Trump yang belum jelas, kenaikan bertahap suku bunga Bank Sentral AS (TheFed) diprediksi ikut membebani ekonomi negara berkembang di Asia.

Furusawa mencatat kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan oleh The Fed dapat membuat nilai tukar dolar AS terlalu kuat terhadap mata uang Asia lainnya. Akibatnya, beban utang negara-negara berkembang Asia dalam bentuk dolar AS akan melambung tinggi.

Furusawa juga meminta para pembuat kebijakan Asia untuk menyesuaikan kebijakan fiskal mereka untuk memperlambat pertumbuhan penduduk dan penuaan dini di negaranya masing-masing.

Pasalnya, IMF meprediksi pertumbuhan populasi warga Asia diproyeksikan turun menjadi nol pada 2050. Adapun rasio penduduk berusia di atas 60 tahun terhadap populasi usia kerja akan melonjak 2,5 kali lipat dari tingkat saaat ini.

Guna mengantisipasi hal tersebut, pemerintah di negara-negara Asia diharapkan melakukan reformasi struktural pada sistem jaminan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat serta sistem pensiun.

“Pemerintah juga dapat memberikan insentif pajak untuk meningkatkan partisipasi angkatan kerja, dan menyusun rencana fiskal jangka menengah yang kredibel,” lanjutnya. (Yustinus Andri)

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami