HEADLINESHukum

Eks Dirut Jiwasraya akan ajukan banding atas vonis seumur hidup, Apa alasannya ?

BTN iklan

LEI, Jakarta- Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo yang divonis penjara seumur hidup, mantan Direktur Utama Jiwasraya Hendrisman Rahim juga dijatuhi hukuman yang sama oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Hendrisman terbukti secara sah melakukan tindak pidana korupsi dengan memperkaya diri bersama Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat senilai Rp 16 triliun. Dalam perkara ini, Benny Tjokro dan Heru Hidayat memang belum diputus bersalah karena keduanya dirawat di rumah sakit karena Corona (COVID-19).

“Kami akan bandingkan”, kata penasihat hukum Hendrisman, Maqdir Ismail, saat hubungi di Jakarta, Selasa.

PAda hari senin (12/10), majelis hakim pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis seumur hidup kepada Hendrisman Rahim karena terbukti melakukan korupsi yang merugikan euangan negara senilai Rp 16,807 triliun dalam perkara korupsi pengelolaan dana dan penggunaan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

 

“Terus terang saya kaget ketika dinyatakan bahwa hukum yang dijatuhkan kepada Pak Hendrisman dengan hukuman seumur hidup. Begitu juga Pak Hendrisman sangat kaget, sampai dia bertanya kepada saya, apa makna dari hukuman seumur hidup?” ungkap Maqdir.

Vonis itu lebih berat dibanding tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Agung yang meminta agar Henrisman dipidana penjara selama 20 tahun dan pidana denda sebesar Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.
” Saya katakan artinya hukuman itu berakhir kalau yang dihukum meninggal dunia”, tambah Maqdir.
Padahal, menurut Maqdir, dia tidak mendengar dari pertimbangan hakim mengenai perbuatan riil Hendrisman yang signifikan sehingga dia layak dihukum seumur hidup.

“Apalagi dalam putusan disusun secara terbalik, hakim justru menyatakan terdakwa bersalah lebih dahulu, baru mempertimbangkan pembelaan dan tututan jaksa, mendengar pertimbangan hakim, sungguh mengecewaka,” ujar Maqdir.

Menurut beliau, cukup banyak argumen darinya kliennya yang tidak dibacakan pertimbangannya dan bahkan justru memang tidak dipertimbangkan.
“Dalam pikiran saya, dari putusan ini sebenarnya dusta apa yang hendaknya disembunyikan dari hukuman seumurhidup ini. Sepanjang yang saya tahu, putusan dalam perkara korupsi yang dibuat seragam baru perkara ini, terlepas dari peran orang, hukumannya harus sama, hukuman seumur hidup,” ujar maqdir.
Selain Hendrisman, tiga terdakwa lainnya, Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018 Hary Prasetyo, Kepala Divisi Investasi dan keuangan Jiwasraya periode 2008-2014 Syahmwirman Serta Direktur PT Maxima Integra Joko Hartomo Tirto juga dijatuhi vonis seumur hidup.

Keempat terdakwa terbukti melanggar melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2), dan ayat (3) Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Hendrisman sudah cukup lama berkecimpung di industri asuransi. Bahkan pendidikan yang ditempuhnya pun tak jauh dari industri ini.

Mengutip dari laman resmi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Selasa (13/10/2020) pria kelahiran 18 Oktober 1955 ini merupakan lulusan Jurusan Matematika Universitas Indonesia (UI). Lulus dari UI, Hendrisman langsung melanjutkan pendidikannya hingga mendapatkan gelar Master of Art dalam bidang Aktuaria dari Ball State University, Muncie, Indiana, Amerika Serikat (AS).

Ia kemudian memulai kariernya di industri asuransi sebagai Calon Pegawai Negeri Bagian Servis dan Analis di INDORE dan pada tahun 2000-2008 menjadi Direktur Utama ReINDO.

Lalu, Hendrisman menjabat sebagai Direktur Utama sejak 15 Januari 2008. Ia sempat juga menjabat sebagai Komisaris Utama Asrinda Arthasangga Reinsurance Broker. Ia juga sempat mengemban posisi sebagai Direktur Utama PT Reasuransi Internasional Indonesia.

Selain berkarier di industri asuransi, pria kelahiran Palembang ini juga aktif di berbagai organisasi asuransi seperti AAJI, Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI), Majelis Persatuan Aktuaris Indoensia (PAI), serta Yayasan Asuransi Indonesia (YAI).

Mengutip Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) 2018, Hendrisman memiliki harta sebanyak Rp 17.354.585.093. Bila dirinci, aset Hendrisman berupa empat properti yang tersebar di Tangerang, Bekasi, dan Jakarta Pusat. Total aset propertinya senilai Rp 3.863.079.000.

Lalu, Hendrisman punya 8 kendaraan mewah, terdiri dari 5 mobil mewah dari bermacam pabrikan dan 3 motor gede. Total kendaraan mewah miliknya senilai Rp 2.850.000.000.

Harta Hendrisman lainnya berupa aset bergerak senilai Rp 700.000.000, surat berharga sebanyak Rp 3.319.635.000, lalu ada simpanan senilai Rp 5.971.871.093, dan harta lainnya sejumlah Rp 650.000.000.

 

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami