Hukum

Eks Sekertaris MA Nurhadi dituntut 12th, dalang Mafia Hukum

BTN iklan

LEI, Jakarta- Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK mengungkap pola korupsi yang dilakukan mantan Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi. Nurhadi dinilai sebagai dalang (puppet masters) dalam melakukan aksi korupsinya.

“Dalam kasus ini, kita bisa melihat suatu pola pencucian uang dengan model ‘block chain’ di mana terdakwa I (Nurhadi) berusaha menjauhkan dari sumber uang dan menempatkan dirinya sebagai seorang ‘puppet masters’ (sang dalang),” kata JPU KPK. Lie Putra Setiawan, di pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (2/3), dikutip dari Antara.

Dalam perkara ini, Nurhadi dituntut 12 tahun penjara, ditambah denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Sedangkan menantunya, Rezky Herbiyono, dituntut 11 tahun penjara ditambah denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

“Terdakwa menerapkan pola ‘to own nothing but control everything’. Hal ini dapat dilihat di mana terdakwa I Nurhadi dan terdakwa II Rezky Herbiyono menciptakan struktur keuangan dan perusahaan, agar tidak terlihat adanya kepemilikan secara resmi dalam perusahaan dan struktur keuangan. Akan tetapi, terdakwa mempunyai kontrol yang besar atas perusahaan dan keuangan,” tutur Jaksa Lie.

Menurut Jaksa Lie, terjadi praktik transaksional yang dilakukan Nurhadi dan Rezky dengan pihak-pihak yang sedang berperkara di lingkungan peradilan. Meski, dicoba untuk dibungkus dalam balutan-balutan bisnis.
“Tindak pidana korupsi saat ini sudah merambah ke semua aspek mulai dari eksekutif, yudikatif, maupun legislatif. Dan menjadi ancaman bagi eksistensi dan integrasi suatu bangsa. Oleh karena itu, korupsi bukan untuk dilestarikan, karena korupsi bukanlah budaya tapi musuh bersama yang harus dicegah,” tegas dia.

Dalam perkara ini, Jaksa Lie menyatakan keduanya terbukti menerima suap sejumlah Rp 45.726.955.000 dari Direktur Utama PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) 2014-2016, Hiendra Soenjoto. Suap diberikan terkait pengurusan dua gugatan hukum serta gratifikasi dari sejumlah pihak sebesar Rp 37,287 miliar.

Nurhadi dan Rezky juga dituntut untuk membayar uang pengganti senilai total Rp 83,013 miliar, dengan ketentuan jika dalam waktu 1 bulan sesudah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap dan terdakwa tidak membayar uang pengganti tersebut, maka harta bendanya disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti. Dalam hal terdakwa tidak punya harta yang cukup untuk membayar uang pengganti, maka dipidana penjara selama 2 tahun.

Tuntutan ini berdasarkan dakwaan pertama alternatif kedua yaitu pasal 11 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo. Pasal 64 ayat 1 ke-1 KUHP dan Pasal 12B UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 21 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP Jo. Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Dalam dakwaan pertama, JPU KPK menilai Nurhadi dan Rezky terbukti menerima uang Rp 45,726 miliar dari Hiendra Soenjoto terkait pengurusan dua gugatan.

Gugatan pertama adalah perkara antara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN), terkait perjanjian sewa-menyewa depo container milik PT KBN seluas 57.330 meter persegi dan 26.800 meter persegi, yang terletak di wilayah KBN Marunda kav C3-4.3, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Gugatan kedua adalah gugatan Hiendra Soenjoto melawan Azhar Umar. Azhar mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap Hiendra Soenjoto di PN Jakarta Pusat pada 5 Januari 2015 tentang akta Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT MIT dan perubahan komisaris PT MIT yang didaftarkan pada 13 Februari 2015.

Sedangkan dalam dakwaan kedua, Nurhadi bersama-sama dengan Rezky dinilai terbukti menerima gratifikasi sejumlah Rp 37,287 miliar dari para pihak yang memiliki perkara di lingkungan pengadilan baik di tingkat pertama, banding, kasasi maupun peninjauan kembali.

Pemberian tersebut berasal dari Handoko Sutjitro senilai Rp 2,4 miliar, Renny Susetyo Wardhani sejumlah Rp 2,7 miliar, Direktur PT Multi Bangun Sarana Donny Gunawan Rp 8 miliar, Freddy Setiawan Rp 20,5 miliar, serta Riady Waluyo Rp 1,687 miliar.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami