KesehatanLifestyle

Eksekutif Muda,Mari Bicara Mengenai Depresi dan Pahami

BTN iklan

Jakarta/Lei — Hari Kesehatan Sedunia 2017 kali ini mengambil tema Depression: Let’s Talk. Kementerian Kesehatan RI menerjemahkan tema ini menjadi Depresi: Yuk Curhat. Tema Depresi diambil badan kesehatan dunia WHO bukan tanpa alasan.

Sejak beberapa tahun yang lalu WHO sudah memprediksikan bahwa depresi akan menjadi beban global nomor dua setelah gangguan jantung dan pembuluh darah di tahun 2020 dan tetap akan menjadi masalah global sampai 2030 nanti setelah HIV/AIDS. Ini menandakan bahwa masalah gangguan jiwa seperti depresi adalah masalah yang tidak bisa dianggap enteng. Sayangnya tidak semua orang memahami masalah gangguan jiwa khususnya depresi.

Berbicara tentang gangguan jiwa maka kita akan selalu terhubung dengan masalah stigma. Kesan negatif dan tidak tepat banyak dikaitkan dengan masalah gangguan jiwa termasuk depresi. Negara maju mengalami hal yang sama apalagi di negara berkembang di Indonesia.

Beberapa kali dalam praktik saya menemui pasien-pasien yang pernah tinggal lama di luar negeri mengatakan sangat sulit buat mereka untuk membicarakan bahwa mereka mempunyai masalah depresi di Indonesia. Orang-orang sekitar lebih sering menganggap depresi bukanlah masalah yang serius dan harus ditangani.

Kebanyakan mereka yang ditemui malah menganggap depresi hanya karena orang tersebut seperti tidak ber-Tuhan atau kurang imannya serta rasa bersyukurnya. Hal ini yang membuat pasien depresi di Indonesia enggan untuk menceritakan masalah depresinya karena anggapan buruk dan stigma terkait dengan hal ini.

Bicara depresi memang penting sesuai tema Hari Kesehatan Sedunia 2017 tetapi memahami depresi dan mengenalinya lebih penting lagi. Bayangkan jika kita tidak memahami apa itu depresi lalu mendapati diri kita bertemu dengan orang yang bercerita tentang depresinya, maka tanggapan kita akan berbeda. Kita akan beranggapan sama dengan orang kebanyakan yang masih mengira bahwa depresi bukanlah gangguan medis yang perlu ditangani segera. Bahkan mungkin di antara kita akan menyangka bahwa orang yang mengalami depresi hanya cari perhatian saja.

Bahaya depresi jika dibiarkan selain mengganggu kehidupan pribadi dan sosial orang tersebut juga mendekatkannya kepada kematian akibat bunuh diri. Bunuh diri bagi orang depresi adalah mungkin suatu jalan untuk bisa keluar dari penderitaannya, sesuatu yang mungkin sulit dipahami oleh kita yang tidak depresi.

Pasien saya bahkan pernah berkata bahwa sebenarnya yang bisa memahami orang depresi itu hanya orang yang pernah atau mengalami depresi. Selebihnya orang hanya berusaha tahu apa gejala depresi tanpa memahami depresi itu sendiri.

Mari kita belajar memahami depresi dan gejalanya. Banyak hal yang bisa membantu pemahaman kita akan depresi dan tentunya akan lebih mudah lagi buat kita nanti membantu orang-orang dengan depresi. Selamat Hari Kesehatan Sedunia. Mari bicara depresi. Salam Sehat Jiwa.

*) dr Andri,SpKJ,FAPM adalah psikiater Klinik Psikosomatik Omni Hospital Alam Sutera, staf pengajar di Bagian Psikiatri FK UKRIDA, fellow of The Academy of Psychosomatic Medicine, serta anggota The American Psychosomatic Society.

 

detikhealth

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami