EntertainmentLifestyle

Empat Lagu Bernapaskan Reformasi

BTN iklan

Jakarta (LEI) – Bukan sekadar hiburan, musik juga bisa menjadi media penyampai pesan, bahkan jalan untuk berbicara kepada pemangku kepentingan.

Saat Orde Baru berkuasa selama 32 tahun, yang ditandai dengan Presiden Soeharto di tampuk kepemimpinan, lagu menjadi salah satu cara efektif melontarkan kritik karena media lain dibungkam.

Lagu-lagu itu semakin menggema saat momen yang disebut reformasi, tepat 20 tahun lalu, ditabuh. Hingga kini bahkan masih banyak lagu yang mengenang peristiwa itu.

Iwan Fals – Bongkar

Bermusik sejak tahun 1975, Virgiawan Listanto alias Iwan Fals konsisten mengkritik pemeritah lewat karyanya. Keadaan sosial dan politik yang terjadi ia racik menjadi lagu yang menarik.

Bongkar merupakan salah satu lagu yang mengkritik pemerintah. Lagu itu terdapat dalam album Swami I yang dirilis pada 1989.

Lewat lagu itu Iwan memberikan penjelasan seakan keadilan sudah tidak berlaku di Indonesia. Pemerintahan Indonesia yang saat itu dipimpin Soeharto dianggap lepas tangan terhadap ketidakadilan. Berikut penggalan lirik lagu Bongkar:

Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperbudak jabatan

Bagian lirik ini juga mengisyaratkan hal yang sama:

Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan
Hentikan jangan di teruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Slank – Siapa Yang Salah

Slank merupakan salah satu band rock senior Indonesia yang tak melulu membuat lagu tentang cinta. Isu sosial dan politik juga sering mereka bicarakan.

Album Mata Hati Reformasi (1998) merupakan salah satu lagu yang mengkritik pemerintahan Indonesia. Secara keseluruhan album itu bercerita tentang masalah sosial dan pemerintahan pada zaman reformasi.

Lagu Siapa Yang Salah jelas mengkritik rezim Orde Baru. Band yang terbentuk sejak 1993 ini mengkritik pejabat pemerintah yang hidup mewah dan keadaan Indonesia.

Berikut penggalan lirik lagu Siapa Yang Salah:

Gue punya bakat untuk jadi musisi
Untung gue punya hasil lebih besar dari gaji mentri
Tapi yang gue bingung juga gue gak ngerti
Rumah gue bukan di PI dan gue gak pake mobil mercy

Pun begitu dengan lirik:

Satu OPP berkuasa karna banyak yang nyoblos
Para pejabatnya anggota OPP yang menang
Anggopta OPP yang kalah cuma bisa duduk mrongos
Gak dapat tempat untuk bareng-bareng berjuang

Anak bocah terperangkap jerat situasi
Ciptaan bapakmu yang terlalu merevolusi
Aku cuma korban keadaan frustasi
Kecewa bertanya membobol tembok tradisi

Efek Rumah Kaca – Hilang

Efek Rumah Kaca (ERK) konsisten membahas isu sosial, politik dan lingkungan lewat lagu-lagunya. Lagu Hilang yang terdapat dalam album Sinestesia pada 2015, dibuat untuk mengenang sejarah kelam 1998.

ERK juga mengaitkan dengan situasi saat ini yang masih peduli dengan korban 1998. Salah satunya aksi Kamisan yang berlangsung setiap hari Kamis di depan Istana negara. [cnn indonesia]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami